Jenazah Tan Malaka akan dipindahkan dari Kediri ke Sumbar

Tan Malaka Hak atas foto Iwan Rakelta
Image caption Perempuan yang disebut sebagai Bundo Kanduang membawa bingkisan ke rumah Tan Malaka.

Prosesi penjemputan makam Tan Malaka ini dimulai dengan pelepasan delegasi ke Kediri, melalui acara pemukulan batu alam cagar budaya bernama 'Batu Talempong' di kawasan Talang Anau, sekitar 15 kilometer dari lokasi Rumah Tan Malaka.

Pemukulan Batu Talempong itu bertujuan untuk mengimbau kepada masyarakat untuk menjadi bagian sejarah dalam proses pemindahan makam Tan Malaka. Dalam budaya warga sekitar, prosesi itu disebut 'malewakan ka nan rami, menyerak ka nan banyak'.

Sejumlah delegasi akan dikirim ke Kediri Jawa Timur untuk menjemput jenazah Tan Malaka yang dimakamkan di sana.

Makam Ibrahim Datuk Tan Malaka akan dipindahkan dari Kediri Jawa Timur ke kampung halamannya di Nagari Pandam Gadang Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota-Sumatra barat.

Wali Nagari Pandam Gadang Khairul Apit mengatakan pemindahan makam sangat penting untuk meluruskan sejarah tentang Tan Malaka yang selama ini 'dikaburkan'.

"Ada beberapa pihak yang sengaja memplesetkan perjuangan-perjuangan Tan Malaka, dan mengaitkan beliau dengan golongan kiri atau komunis. Tan Malaka itu tidak seperti yang dibayangkan orang," kata Apit kepada wartawan di Bukit Tinggi, Iwan Rakelta.

Selain itu, Apit berharap generasi muda di daerahnya lebih mengenal perjuangan Tan Malaka.

"Kita nanti ingin bagaimana supaya memotivasi kembali semangat nasionalisme kepada pemuda-pemuda di sini (Sumbar), jadi mereka lebih banyak mengenal kisah heroik yang dilakukan Tan Malaka ketika beliau berjuang", jelas Apit.

Hak atas foto Iwan Rakelta
Image caption Upacara adat untuk pelepasan delegasi yang akan menjemput jasad Tan Malaka.

Khairul Apit mencontohkan, Tan Malaka telah menyumbangkan tanah dan telah membangun masjid, tak jauh dari Rumah Tan Malaka.

Ia melanjutkan Tan Malaka berangkat meninggalkan kampung dengan pemahaman agamanya yang kuat.

"Selain itu, Tan Malaka punya kecerdasan, keberanian. Salah satu silat bela diri Minang itu juga dikuasainya. Percaya diri itu yang membuat beliau bisa kemana-mana secara leluasa," sambung Khairul Apit.

Ia menambahkan, kehadiran makam Tan Malaka bisa menjadikan pengurus Tan Malaka memiliki kewenangan yang lebih luas, karena Tan Malaka sendiri merupakan seorang raja di kampung halaman, Rajo Adat Keselarasan Bungo Satangkai Suliki Luak 50.

"Harapan masyarakat, pemerintah juga bantu difasilitasi, proses pemindahan agar berlangsung cepat dan lancar. Sekarang ini swadaya masyarakat semua. Kerinduan anak-nak Pandam Gadang saat ini, bagaimana bisa memulangkan raja Sitangkai itu," pungkasnya.

Sementara itu, Hengky Novaron selaku anggota keluarga menyebut, Tan Malaka memiliki banyak gagasan, misi dan visi dari Datuk Ibrahim Tan Malaka yang belum digali.

"Alangkah baiknya, kita meneruskan perjuangan Tan Malaka ini, bagaimana Ibrahim Datuk Tan Malaka lebih baik dan akan lebih baik lagi diteruskan generasi muda kita nantinya untuk belajar dari tulisan dan bukti-bukti sejarah apa yang ia buat," ucap dia.

Hak atas foto Iwan Rakelta
Image caption Keluarga Tan Malaka berpose di depan kediamannya.

Panutan dan pahlawan

Tan Malaka adalah tokoh Kiri yang sejak awal mencita-citakan Indonesia merdeka dari kolonial Belanda.

Selain pernah diasingkan dan menjadi legenda aktivis politik bawah tanah selama bertahun-tahun, pria kelahiran 1897 ini juga menulis beberapa buku terkenal.

Di mata keluarga, Tan Malaka menurut Hengky Novaron adalah sebagai panutan.

"Bagaimana anak cucu bisa mengambil pelajaran dari sosok beliau. Insya Allah ke depan lebih dari Datuk Ibrahim Tan Malaka. Ia bukan hanya sekedar milik Minangkabau, milik nasional, tapi milik internasional," ungkap dia.

Hak atas foto Iwan Rakelta
Image caption Pertunjukan reog Ponorogo dalam acara di kediaman Tan Malaka.

Makam Tan Malaka tidak diketahui secara pasti, makam pahlawan nasional itu ditembak mati oleh pada 21 Februari 1949 oleh kesatuan Tentara Republik Indonesia, TRI di duga dikuburkan di Kediri.

Pada 2009 lalu, tim forensik yang didukung keluarga Tan Malaka telah selesai menggali kuburan yang diduga berisi jenazah Tan Malaka di pemakaman umum di Desa Selopanggung, Kabupaten Kediri.

Penggalian dilakukan berdasarkan penelitian yang dilakukan sejarawan Belanda Hary Poeze selama bertahun tahun terhadap tokoh komunis asal Sumatera Barat ini.

Sebelumnya keluarga sempat meminta agar jenazahnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, sebagai penghormatan atas jasanya.

Menurut sejarahwan Asvi Warman Adam, pemerintah Indonesia telah menetapkan Tan Malaka sebagai pahlawan nasional pada 1963, tetapi "sejak 1965 namanya tidak ada lagi, meski gelarnya tidak pernah dicabut."

Topik terkait

Berita terkait