Bagaimana sebenarnya bentuk usaha Trump di Indonesia?

  • 21 Januari 2017
trump Hak atas foto Peter Charlesworth
Image caption Trump Hotel Collection akan menjadi operator resor di Tanah Lot, Bali, milik MNC Land

Donald Trump dikabarkan bekerjasama dengan MNC Land, bagian dari konglomerasi MNC Group milik Hary Tanoesoedibjo, mendirikan properti di Lido, Jawa Barat dan di Tanah Lot, Bali.

Ada dua properti di Indonesia yang dikabarkan dimiliki Donald Trump, Presiden terpilih AS ke 45 yang dilantik pada 20 Januari: resor mewah seluas 3000 hektar di Lido dan resor lainnya di Tanah Lot, Bali seluas 100 hektar.

Namun, ternyata di kedua properti milik MNC Land tersebut, Donald Trump hanya menjadi operator hotel lewat Trump Hotel Collection, bukan sebagai investor atau pengucur dana untuk proyek trilyunan rupiah tersebut.

"Iya management, seperti operator", kata Corporate Secretary MNC Group, Syafril Nasution, kepada wartawan BBC Indonesia saat ditanyakan soal kemitraan itu.

"Tidak ada (suntikan dana)", jelasnya.

Hary Tanoesoedibjo, pemilik MNC Group bertemu putra Donald Trump pada Rabu pagi lalu di New York, AS, untuk mendiskusikan perkembangan proyek di Indonesia yang diperkirakan akan selesai pada 2019.

Dia kemudian bertolak ke Washington DC untuk menghadiri pangambilan sumpah Trump sebagai Presiden Amerika Serikat.

"Beliau (Trump) mengundang Pak Hary sebagai partner beliau, temannya beliau, untuk hadir", kata Syafril.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Hary Tanoesoedibjo, pemilik MNC group, pemilik properti bakal resor Trump, dekat dengan Donald Trump

Konflik kepentingan

Kepada kantor berita Reuters, Hary Tanoe berkata tidak akan menambah proyek baru di Indonesia sejak Trump memutuskan berkampanye menjadi calon presiden untuk menghindari konflik kepentingan.

"Konflik kepentingan terjadi jika setelah pemilihan kami memutuskan untuk menambah proyek baru. Di situ baru kami masuk ke area abu-abu", kata Hary Tanoe.

"Namun, proyek kami sudah diputuskan jauh sebelum itu", terang Hary akan kedua proyek yang dimulai pada awal 2015 dengan dana $500 juta (Rp6,5 trilyun) hingga $1 milyar (Rp13 trilyun) tersebut.

Walau Trump sudah mundur dari kerajaan bisnisnya, namun banyak yang tetap khawatir akan terjadi konflik kepentingan karena masih dipimpin oleh kedua putranya, yang menggunakan nama keluarga Trump.

Hary Tanoe sendiri tidak setuju jika terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS akan mempengaruhi hubungan bilateral kedua negara.

"Dengan AS bersaing keras dengan negara besar lain seperti Cina atau negara Eropa lain yang dapat membuat negara tersebut memindahkan investasinya ke negara lain dan mungkin ke Indonesia", kata Hary Tanoe kepada Reuters.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ketua DPR Setya Novanto dalam sebuah konfrensi pers politik Donald Trump, Kamis (03/09).

Hubungan politik

Kedekatan Trump dan Hary Tanoe diperkirakan akan memberikan leverage bagi partai Perindo milik Hary Tanoe,

"Bisa dikatakan demikian", kata Syafril.

Hubungan politik sebelumnya terlihat saat Hary Tanoe memfasilitasi pertemuan pimpinan DPR Setya Novanto dan Fadli Zon dengan Trump di AS.

"Pak Setya Novanto sedang di sana (AS) mau bertemu (dengan Trump). Pak Hary hanya menyampaikan ke temannya", kata Syafril.

Kepada Reuters, Hary Tanoe berkata akan mencari saran politik ke Trump untuk memutuskan apakah dia akan maju di Pilpres 2019 mendatang.

Keduanya adalah pengusaha yang beralih menjadi politisi.

Berita terkait