Rizieq Shihab diperiksa polisi, massa FPI tuding 'kriminalisasi’

fpi, polisi Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Massa Front Pembela Islam berdemonstrasi di depan Polda Metro Jaya sejak Senin (23/01) pagi.

Massa simpatisan Front Pembela Islam memadati ruas jalan di depan Kepolisian Daerah Metro Jaya di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (23/01), untuk menunjukkan dukungan terhadap Rizieq Shihab yang diperiksa sebagai saksi dalam kasus logo 'palu arit' pada Rupiah.

Sampai sekitar pukul 12.00 WIB, massa simpatisan FPI terus berorasi. Salah seorang yang ikut berunjuk rasa adalah seorang pria bernama Anis Santosa, 38 tahun, asal Manggarai, Jakarta Selatan.

Dia mengajak putranya yang berusia tahun dalam aksi di depan kantor Polda. "Saya tadi bahkan mau ajak istri saya, tapi dia harus nyuci baju," ungkapnya kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan.

Dia mengaku ikut berdemonstrasi karena menganggap kondisinya tidak 'nyaman' lantaran peran ulama tidak diberi tempat sewajarnya.

"Saya datang ke sini untuk bela agama, bela ulama," katanya.

Dia mengaku ini bukanlah pengalaman pertama dalam ikut aksi bela ulama. Dalam aksi akhir tahun lalu di Monas, Anis mengaku berada di dalamnya. "Ulama sekarang dikriminalisasi, dicari-cari kesalahannya," katanya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Massa FPI berkumpul di depan Masjid Al-Azhar untuk kemudian bergerak menuju Polda Metro Jaya.

Di tempat terpisah, terdapat Muhammad Zainuri, 16 tahun, asal Bogor, Jawa Barat.

Anak muda berperawakan kurus ini berkopiah putih dan kemeja putih. Dia mengaku dari kelompok "pencinta Rasulullah".

"Saya datang ke sini untuk membela ulama," kata Zainuri, dengan kalimat pendek-pendek.

Zainuri, yang datang dengan temannya, mengaku tidak memahami kasus yang menerpa Riziek Shihab. "Nggak ngerti, tapi niat saya bela ulama saja."

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Demonstrasi di depan Polda Metro Jaya mendapat penawalan ketat aparat.
Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sejumlah simpatisan FPI mengklaim Rizieq Shihab dikriminalisasi oleh polisi.
Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Massa simpatisan FPI berasal dari berbagai lokasi, termasuk Bogor, Jawa Barat.
Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Massa simpatisan FPI

Sementara, Ade Mulya, 33 tahun, mengaku anggota sebuah organisasi yang beralamat di Kwitang, Jakarta Pusat. "Kami mau bela ulama," katanya.

Walaupun mengaku tidak terlalu yakin bahwa pemerintah sengaja membuat logo mirip palu arit di pecahan Rupiah, Ade meyakini bahwa pemeriksaan Rizieq mengindikasikan bahwa ulama sedang dizalimi. "Makanya, saya ada di sini" katanya.

Dukungan terhadap Rizieq juga ditunjukkan organisasi seperti Front Betawi Rempug, FBR. Mereka kebanyakan mengenakan kemeja atau kaos hitam. Saya bertemu Ulis Uban, yang berusia 50 tahunan. "Saya FBR dari Poncol, Jakpus," ungkapnya.

Ketika ditanya apa alasan kedatangannya, dia hanya berkata pendek. "kami dapat undangan untuk datang ke sini," kata Ulin.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Dukungan terhadap Rizieq juga ditunjukkan Ulis Uban, simpatisan organisasi Front Betawi Rempug, FBR.

Rizieq Shihab diperiksa sebagai saksi oleh Polda Metro Jaya dalam kasus logo 'palu arit' pada Rupiah.

Kasus ini bermula ketika dalam salah satu pidato Rizieq yang ditayangkan oleh FPI ke YouTube, dia mengatakan, "Semuanya pakai palu arit. Yang 2.000, 10.000, 50.000 pakai palu arit. Yang 1.000 pakai palu arit. Ini negara Pancasila atau PKI?"

Pidato itu kemudian memicu kelompok yang menamakan diri Jaringan Intelektual Muda Anti-Fitnah (JIMAF) untuk melaporkan Rizieq ke Polda Metro Jaya, Minggu, 8 Januari lalu.

Selain JIMAF, sebuah LSM yang menyebut mereka Solidaritas Merah Putih (Solmet) juga melaporkan tuduhan Rizieq soal logo 'palu arit' itu ke Polda Metro Jaya.

Pada 10 Januari, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menegaskan bahwa uang Rupiah tidak memuat simbol terlarang palu dan arit seperti yang dituduhkan Rizieq Shihab.

"Gambar tersebut merupakan gambar saling isi (rectoverso), yang merupakan bagian dari unsur pengaman uang Rupiah," kata Agus Martowardojo.

Dia menegaskan gambar yang dipersepsikan sebagai simbol palu dan arit itu adalah logo Bank Indonesia yang dipotong secara diagonal sehingga membentuk ornamen yang tidak beraturan.

Topik terkait

Berita terkait