Dideportasi dari Turki, 17 WNI ditahan dan diperiksa Polri

Polisi, Indonesia Hak atas foto EPA/BAGUS INDAHONO
Image caption Polisi memiliki waktu 7x24 jam untuk menahan dan memeriksa 17 WNI yang dideportasi dari Turki terkait dugaan keterlibatan dalam kegiatan ISIS.

Kepolisian Republik Indoneia masih menahan 17 warga Indonesia yang dideportasi oleh otoritas Turki untuk diperiksa secara tuntas.

Mereka, termasuk seorang anak, diduga akan menyeberang ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS.

Setibanya di Bandara Soekarno Hatta, Sabtu (21/01), semuanya langsung ditahan dan polisi memiliki waktu 7x24 jam untuk pemeriksaan terkait dugaan keterlibatan mereka dalam kegiatan ISIS.

"Masih berjalan, belum selesai. Masih dilakukan pemeriksaan oleh penyidik kami sampai tuntas," jelas Irjen Boy Rafli Amar kepada wartawan BBC Indonesia, Liston P Siregar.

Kepulangan maupun deportasi warga Indonesia dari Turki karena diduga akan menuju Suriah -yang sedang dilanda pemberontakan sejumlah kelompok, termasuk ISIS- sudah beberapa kali terjadi.

Desember tahun lalu, misalnya, tiga orang Indonesia juga ditahan dan diperiksa karena dugaan akan bergabung dengan ISIS di Suriah namun belakangan dibebaskan.

Hak atas foto West Midlands Police
Image caption ISIS merupakan salah satu kelompok yang melancarkan pemberontakan atas pemerintah Suriah di ibu kota Damaskus.

'Belum ada' kaitan

Kelompok 17 orang yang sedang ditahan saat ini, menurut Irjen Boy Rafli, tidak memiliki kaitan dengan ketiganya maupun yang sebelumnya.

"Yang terdahulu belum ada kaitan langsung dengan yang ini, sedang kita lihat. Tapi sementara kelihatannya berdiri sendiri, belum ada kaitan langsung dengan yang terdahulu, jadi terpisah. Lain lagi kelompoknya."

Polisi tidak memiliki data yang pasti tentang jumlah warga Indonesia yang ingin bergabung dengan ISIS di Suriah, namun diperkirakan mencapai 300 orang dan sekitar 200 di antaranya sudah kembali di Indonesia sejak awal 2015.

Dari jumlah yang sudah kembali tersebut, belum ada yang ditahan walau tetap berada dalam pengawasan.

"Jadi kita menahan jika memang mereka secara hukum teriindikasi kuat terlibat dalam kejahatan baru dilakukan penahanan. Sementara bagi merka yang belum kuat bukti-bukti keterlibatannya, tentu tidak bisa (ditahan)," jelas Irjen Boy Ramli.

Akhir Desember lalu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dalam sebuah kesempatan di Jakarta, mengatakan lebih dari 600 WNI sudah berangkat ke Suriah sejauh ini.

Topik terkait

Berita terkait