Polisi hadang unjuk rasa mahasiswa Papua di Yogyakarta

aliansi mahasiswa papua Hak atas foto Aliansi Mahasiswa Papua
Image caption Para mahasiswa Papua semula berencana menggelar unjuk rasa di titik nol kilometer di Yogyakarta, tetapi dihadang polisi di depan asrama mahasiswa Papua di Jalan Kusumanegara.

Puluhan aktivis dan mahasiswa asal Papua di Yogyakarta terlibat aksi dorong dengan aparat kepolisian di depan Asmara Kamasan, Yogyakarta, Jumat (27/01) pagi.

Para mahasiswa Papua itu semula berencana menggelar unjuk rasa di titik nol kilometer di pusat kota Yogyakarta, tetapi dihadang oleh aparat kepolisian, ketika Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke DIY Yogyakarta.

Para aktivis asal Papua itu dihadang di depan asrama mereka di Jalan Kusumanegara, Jumat, sekitar pukul 10.00 WIB pagi.

"Tapi dikurung oleh polisi nggak bisa keluar dari asrama," kata salah-seorang aktivis Aliansi Mahasiswa Papua, Aworo Tutu, dalam pesan tertulis kepada BBC Indonesia, Jumat pagi.

Melibatkan sejumlah organisasi mahasiswa, seperti Front Rakyat Indonesia Untuk West Papua dan Aliansi Mahasiswa Papua, mereka memprotes apa yang mereka sebut sebagai tindak kekerasan aparat kepolisian dan TNI terhadap warga sipil di Kabupaten Dogiyai, Papua.

Hak atas foto Aliansi Mahasiswa Papua
Image caption Beberapa pengunjuk rasa terlibat aksi dorong dan saling memukul dengan aparat kepolisian sebelum akhirnya diredahkan oleh kedua pihak.

Sejumlah laporan menyebutkan, aparat kepolisian melakukan razia senjata tajam di Kabupaten Dogiyai, pekan lalu, menjelang pemilihan kepala daerah, tetapi para mahasiswa Papua di Yogyakarta menyebutnya sebagai aksi sweeping.

Dalam keterangan tertulisnya, para pengunjuk rasa mempertanyakan aksi aparat kepolisian yang melarang mereka meninggalkan asrama untuk berunjuk rasa.

"Padahal kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum adalah amanat Konstitusi," tulis mereka dalam pernyataannya.

Di media sosial, beredar video yang menggambarkan saat para mahasiswa itu berusaha keluar dari asrama. Sambil meneriakkan yel-yel dan membawa poster dan spanduk, mereka membuka pintu gerbang, dan dihadang puluhan aparat kepolisian.

Dalam potongan video itu, beberapa pengunjuk rasa terlibat aksi dorong dan saling memukul sebelum akhirnya diredahkan oleh kedua pihak. Disorot video, ada dua orang pendemo yang berdarah di pelipisnya.

Hak atas foto Aliansi Mahasiswa Papua
Image caption Dalam keterangan tertulisnya, para pengunjuk rasa mempertanyakan aksi aparat kepolisian yang melarang mereka meninggalkan asrama untuk berunjuk rasa.

Peserta unjuk rasa, Aworo Tutu dalam pesan tertulisnya kepada BBC Indonesia mengatakan, "Belum aksi, sudah dihajar."

Keterangan tertulis disebarkan di media sosial Facebook menyebutkan, tiga mahasiswa terluka karena "dipukul aparat kepolisian" yaitu Ansel Gobai, Jhon Gobai, dan Yuli Waine.

Tetapi, dalam keterangan terpisah, Kapolres Yogyakarta, Kombes Tommy Wibisono kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, mengatakan, "Bentrokan tidak ada, kalau dorong-dorongan ada."

Tommy mengatakan polisi "mengamankan" pengunjuk rasa agar tidak meninggalkan asramanya, karena masyarakat di sekitarnya disebutnya "tidak suka". "Makanya silakan unjuk rasa di depan asrama, dan kita jaga."

Tommy menolak sinyalemen pelarangan unjuk rasa mahasiswa Papua di titik nol kilometer itu karena Presiden Jokowi meninjau kesiapan lahan dalam persiapan pembangunan Bandara Internasional di DIY Yogyakarta. "Karena presiden tidak melintas di situ (di depan asrama Papua)," katanya.

Setelah aksi saling dorong dan aksi pemukulan berhasil diredahkan, polisi menyebutkan, mahasiswa Papua itu menggelar unjuk rasa di trotoar di depan asramanya. "Dan kita amankan, akhirnya mereka lancar berorasi," kata Tommy Wibisono.

Topik terkait

Berita terkait