Debat kedua cagub DKI Jakarta: Masih 'dangkal' dan 'normatif'

Debat cagub dki Hak atas foto Sandra Sahelangi
Image caption Dua tema utama debat yang kedua: reformasi birokrasi dan pelayanan publik, serta pengelolaan perkotaan.

Debat calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta yang kedua, Jumat (27/01) malam, tak menunjukkan perbedaan terlalu jauh dengan debat bertama, dua pekan lalu.

Ketiga kandidat, berturut-turut Agus Harimurti Yudhoyono - Sylviana Murni, Basuki Tjahaya Purnama - Djarot Saiful Hidayat, dan Anies Baswedan - Sandiaga Uno, kali ini membahas tema utama: reformasi birokrasi, pelayanan publik, serta pengelolaan perkotaan.

Topik-topik ini tak jarang memunculkan pertanyaan dan jawaban yang sama dengan tema debat pertama yang meliputi sosial-ekonomi, pendidikan dan transportasi.

Reformasi birokrasi malah terasa seperti menjadi tema utama dalam debat pertama 13 Januari. Dan pasangan Ahok-Djarot kembali mengungkapkan pendekatannya selama ini dalam membereskan birokrasi yang diklaim efisien, efektif dan bersih. Sementara kedua calon lain, Agus-Sylvi dan Anies-Sandi kembali menyerang pendekatan Ahok-Djarot, khususnya pendekatan Ahok yang dianggap keras, marah-marah, menciptakan ketakutan, mempermalukan, dan 'memukul, bukan merangkul.'

Disinggung juga persoalan Jakarta yang utama, yakni kemacetan. Dan para calon mengulang lagi gagasan yang mereka tawarkan -dalam konteks Agus-Sylvi dan Anies-Sandi, dan yang sudah dijalankan dan akan dijalankan -dalam konteks Ahok-Djarot.

Hak atas foto Reuters
Image caption Bantaran sungai di Jatinegara -penggusuran dan normalisasi sungai selalu jadi topik panas di debat calon gubernur Jakarta.

Yang juga topik ulangan adalah reklamasi: Ahok-Djarot dicecar dua pasangan lain, dituding melakukan pendekatan yang tidak adil.

Dan yang juga merupakan ulangan -yang tampak klise adalah penggunaan pantun -dari Ketua KPU Jakarta Sumarno- dalam menutup pidatonya saat membuka debat ini.

Dipandu oleh presenter Tina Talisa dan pakar reformasi birokrasi Universitas Indonesia, Eko Prasojo, debat kali ini berlangsung dua jam, 30 menit lebih lama dari debat pertama.

Hak atas foto Sandra Sahelangi
Image caption Agus-Sylvi tampil lebih santai dibanding saat debat pertama.

Eko Prasojo juga merangkap panelis, bersama pakar politik UI, SIti Zuhro, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi, dan ahli tata kota Universitas Indonesia, Gunawan Tjahjono.

Hal lain yang terus terjadi adalah, Ahok menjadi bulan-bulanan serangan dua pasangan calon lain -yang barangkali karena Ahok-Djarot adalah petahana. Bahkan sekali waktu, pasangan Anies-Sandy, dalam giliran bertanya kepada pasangan Agus-Sylvy, pertanyaannya mengarahkan Sylviana Murni untuk, sebagai birokrat di bawah sejumlah gubernur, menilai Ahok.

Peristiwa menarik lain, saat giliran pasangan calon nomor satu bertanya kepada pasangan calon tiga, cawagub Sylviana Murni mengawali paparan begitu panjang sehingga pertanyaan tak tersampaikan ketika waktu habis. Sampai-sampai Silvy harus menghampiri Sandy untuk melontarkan pertanyaannya di luar waktu yang ditentukan, dan moderator menghentikannya. Lalu Ahok melucu dengan maju melakukan gerakan lucu seakan-akan melerai.

Bagaimana debat ini di mata pengamat? Berikut pengamatan pakar perkotaan Johan Silas dari Universitas Airlangga Surabaya dan Agus Dwiyanto, pakar kebijakan publik dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Agus Dwiyanto: Perlu mempertajam perbedaan

Menurut saya pasangan calon tiga lebih baik dibandingkan yang lain. Pertama, mampu memberi data pembanding untuk membantah klaim kinerja pasangan calon dua dalam reformasi birokrasi dan juga terkait dengan Indeks Pembangunan Manusia dan angka partisipasi sekolah. Program yang ditawarkan untuk reformasi birokrasi, pelayanan air minum.

Kelemahan program reformasi birokrasi inkumben sangat transaksional, kurang menyentuh perbaikan budaya birokrasi. Pasangan calon (paslon) dua kurang mampu merespons kritik dengan memberi data baru yang mampu meyakinkan publik bahwa apa yang mereka lakukan ada di jalur yang benar. Paslon satu cenderung sangat normatif dan kurang membumi.

Hak atas foto Sandra Sahelangi
Image caption Ahok-Djarot, sering mewarnai debat dengan tawa, bahkan canda.

Setelah debat kedua masing-masing paslon perlu mempertajam perbedaan mereka masing-masing dan warga Jakarta akan memperoleh informasi yang lebih lengkap tentang kekuatan dan kelemahan masing-masing paslon sehingga dapat memilih calon sesuai dengan aspirasinya.

Betapa pun, menurut saya, debat ini mampu memberi informasi tentang calon kepada warga Jakarta.

Untuk pemilih yang sosiologis dan tradisional debat ini tidak banyak pengaruhnya, namun saya kira untuk undecided voters pemilih yang belum menentukan pilihan, yang umumnya pemilih rasional, debat ini akan berpengaruh terhadap pilihan mereka.

Johan Silas: Masih Dangkal

Secara umum saya lihat masih dangkal, masih normatif. Misalnya birokrasi. Memperbaiki birokrasi di mana-mana sekarang adalah penggunaan internet. E-government adalah semacam pegangan pemerintahan yang efisien.

Jakarta yang begitu besar dan kompleks, tak mungkin tak menggunakan ini. Tapi ini tak disinggung sama sekali.

Masalah Jakarta yang sama sekali disinggung adalah rencana kota. Sedikit disinggung sedikit mengenaai koefisien bangunan, namun tak disinggung dasarnya apa.

Pasangan nomor satu dan tiga banyak menyerang pasangan nomor dua, namun dengan mudah dibantah oleh pasangan nomor dua. Karena mereka yang punya data, pengalaman, sistem pemerintahan yang dijalankan. Bahkan Ahok-Djarot ketawa-ketawa saja menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, karena sudah merupakan yang sehari-hari mereka kerjakan.

Saya kira ada masalah dengan tim nomor satu dan tiga.

Yang menarik soal reklamasi, misalnya, latar belakang mendalam reklamasi, tak dikuasai nomor satu dan tiga, sehingga Ahok mudah membantah. Pasangan satu dan tiga misalnya, tak mempermasalahkan tentang hal mendasar tentang misalnya, apakah kalau Jakarta tanpa reklamasi tak bisa -tapi ini tak muncul.

Hak atas foto Sandra Sahelangi
Image caption Anies-Sandi memulai debat dengan ucapan selamat tahun baru kepada Ahok warga keturunan Cina: Gong Xie Fat Chai.

Mereka lebih sibuk melontarkan serangan tapi tidak menyiapkan solusi atau tawaran alternatif. Pasangan nomor satu dan tiga hanya ikut 'alirannya' dari yang dikerjakan pasangan nomor dua.

Ahok-Djarot diuntungkan oleh pengalaman mereka dan kegiatan dan perencanaan yang sudah dijalankan sendiri. menguasai data. Kedua pasangan lain tak menguasa, antara lain kondisi awal Jakarta.

Tak ada hal yang baru

Jadi nomor dua diuntungkan oleh pengalaman mereka, dan dalam debat, penguasaan ini membuat mereka memenangkan perdebatan.

Satu hal lain, pertumbuhan ekonomi Jakarta itu sangat tinggi tapi konsekuensinya tak disinggung. Salah satunya kebutuhan tenaga kerja dari segala lapisan. Bagaimana keberadaan mereka di kota itu tak diwadahi. Ini menimbulkan kawasan kumuh dan sebagainya. Ini tak disinggung sama sekali oleh ketiga pasangan calon.

Topik terkait

Berita terkait