Cerita panti jompo di Pekanbaru yang tempatkan pasien di sel-sel

riau, pekanbaru Hak atas foto LPA Riau
Image caption Para penghuni panti jompo dan gangguan jiwa di Pekanbaru, Riau, sebelum dievakuasi.

Sebanyak 19 pasien sebuah panti jompo di Pekanbaru menempati ruangan-ruangan dengan teralis besi sehingga menyerupai sel.

Kondisi ini diketahui melalui tinjauan Dinas Sosial Provinsi Riau dan Lembaga Perlindungan Anak Riau di panti yang berlokasi di Jalan Lintas Timur KM 20, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru, Minggu (29/01) lalu.

Kepada BBC Indonesia, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA), Esther Yuliani, mengatakan para pasien dikurung di dalam ruangan berteralis besi yang dikunci dari luar selama bertahun-tahun. Di dalam sel, mereka tidur beralas dipan kayu.

"Ada yang paling lama 10 tahun dikurung. Mereka semua dapat berkomunikasi baik dan gembira saat dibawa," kata Esther.

Hak atas foto LPA Riau
Image caption Bangunan panti jompo yang dikelola Yayasan Tunas Bangsa di Pekanbaru, Riau.

Ke-19 orang itu kini telah dievakuasi dari panti jompo dan dipindahkan ke Rumah Sakit Jiwa Pekanbaru untuk diperiksa.

Evakuasi juga dilakukan terhadap 14 penghuni panti jompo di Jalan Cendrawasih, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru. Kondisi mereka serupa dengan para penghuni panti jompo di Jalan Lintas Timur KM 20. Kedua panti ini dikelola Yayasan Tunas Bangsa.

Berawal dari kematian bayi di panti asuhan

Bak reaksi berantai, nasib yang dialami para penghuni dua panti jompo itu terungkap setelah peristiwa kematian M Zikli, bayi berusia 18 bulan yang menghuni Panti Asuhan Tunas Bangsa di Jalan Lintas Timur KM 13, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru.

Meski sempat dirawat di RSUD Arifin Achmad pada 14 Januari 2017, M Zikli meninggal dunia sehari kemudian.

Kejadian ini mengundang perhatian kepolisian lantaran kondisi fisik mendiang mengalami luka-luka. Kapolresta Pekanbaru, Kombes Susanto, mengaku pihaknya telah mengautopsi jenazah. Namun, visum penyebab kematian belum rampung.

"Meski demikian, dugaan tanda-tanda kekerasan itu ada. Keterangan dokter, ada (hantaman) benda tumpul," kata Kombes Susanto.

Hak atas foto LPA Riau
Image caption Panti asuhan yang dikelola Yayasan Tunas Bangsa di Pekanbaru, Riau. Kematian bayi berusia 18 bulan penghuni panti ini mengundang perhatian banyak kalangan yang kemudian mengungkap nasib penghuni tiga panti yayasan tersebut.

Insiden ini juga disoroti Dinas Sosial Provinsi Riau dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Riau. Untuk mengetahui kondisi panti asuhan yang merawat M Zikli, mereka mengunjungi Panti Asuhan Tunas Bangsa.

"Ada lima kamar kosong, tidak dimanfaatkan, seperti tempat sampah. Ada makanan yang seperti habis digigit tikus, ada tahu sudah berbuih. Toiletnya tidak layak, seperti rumah yang sudah puluhan tahun tidak dibersihkan. Anak-anak sedang makan, kita melihat banyak lalat dan belatung," kata Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Riau, Ester Yuliani kepada BBC Indonesia.

Hak atas foto LPA Riau
Image caption Daerah belakang panti asuhan yang dikelola Yayasan Tunas Bangsa

Ester mendengar seorang pria yang mengaku sebagai pengasuh bahwa panti itu menampung 18 anak. Namun, Ester hanya menyaksikan dua balita.

"Saya tanya ke mana? Katanya dibawa kunjungan. Besoknya saya datang lagi, juga katanya dibawa kunjungan. Kita pertanyakan ke RT dan RW, katanya anak-anak panti pulangnya selalu setelah Maghrib dan perginya pagi-pagi," kata Ester.

Keterangan mencurigakan ini, menurut Ester, yang membuat dia dan Dinsos Provinsi Riau berinisiatif mengunjungi dua panti jompo yang juga dikelola Yayasan Tunas Bangsa.

Izin kadaluarsa sejak 2011

Kapolresta Pekanbaru, Kombes Susanto, mengatakan izin Yayasan Tunas Bangsa untuk mengelola panti asuhan sejatinya telah berakhir pada 2011 silam. Artinya, yayasan tersebut beroperasi tanpa izin selama enam tahun.

Lalu bagaimana fungsi pengawasan? Apakah pemerintah daerah Riau tidak melakukan pengawasan?

Hak atas foto LPA Riau
Image caption Kondisi kamar panti asuhan Yayasan Tunas Bangsa
Hak atas foto LPA Riau
Image caption Kondisi kamar panti asuhan Yayasan Tunas Bangsa

Kepala Dinas Sosial Provinsi Riau, Syarifudin AR, mengatakan kewenangan pengawasan panti asuhan selama ini berada di pemerintah kabupaten/kota dan baru 2017 dialihkan ke pemerintah provinsi.

"Selama ini tanggung jawab pengawasannya berada di kabupaten/kota karena wilayah mereka. Sejak UU 23 tahun 2014 dan PP 18 tahun 2016, kewenangan untuk mengurus panti asuhan sudah berada di provinsi. Kalau daerahnya tidak melakukan (pengawasan), ya kita kembalikan ke daerahnya. Mengapa bisa beroperasi?" kata Syarifudin AR.

Secara terpisah, Ester Yuliani telah mempertanyakan pengelolaan Panti Asuhan Yayasan Tunas Bangsa ke Dinas Sosial. "Dinas Sosial mengaku sudah memperingatkan. Memperingatkan saja tidak bisa, harus diblack-list," kata Ester.

Hak atas foto LPA Riau
Image caption Personel Polresta Pekanbaru membongkar makam M Zikli untuk melakukan autopsi jenazah.

Penyelidikan berkembang

Kasus dua panti jompo dan panti asuhan yang dikelola Yayasan Tunas Bangsa kini tengah dikembangkan Polresta Pekanbaru.

Menurut Kapolresta Pekanbaru, Kombes Susanto, pihaknya sedang memeriksa sembilan saksi yang terdiri dari ketua RT/RW setempat dan beberapa tetangga sekitar panti asuhan.

Dari keterangan mereka, kata Kombes Susanto, ada setidaknya lima anak di bawah umur yang meninggal tak wajar di panti asuhan tersebut. Ada pula dugaan praktik jual beli anak di panti asuhan itu.

"Kita akan menetapkan tersangka, yaitu pengelola atau ketua Yayasan Tunas Bangsa atas nama Ibu Lily," ujarnya.

Dia menambahkan, jika ditetapkan sebagai tersangka, ketua yayasan akan dijerat menggunakan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak, khususnya pasal 80 ayat 2 dan tiga yang memungkinkan pelaku dipidana dengan hukuman penjara paling lama 15 tahun.

Pasal itu khusus mengatur hukuman terhadap orang yang membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak.

Topik terkait

Berita terkait