Melihat tinggi banjir lewat peta bencana interaktif BNPB

Banjir di Bandung, Jawa Barat, 13 Maret 2016. Hak atas foto TIMUR MATAHARI/AFP/Getty Images
Image caption Bandung termasuk wilayah 'baru' yang asalnya tidak masuk zona merah tapi kini menjadi semakin rawan banjir.

Musim hujan yang sudah tiba belum sepenuhnya usai dan justru akan memasuki puncaknya di beberapa daerah.

Untuk mengantisipasinya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, BNPB, mengembangkan peta gratis yang antara lain berisi informasi ketinggian genangan air di sedikitnya tiga kota di Indonesia.

Menurut BNPB, akhir Januari dan bulan Februari adalah puncak musim hujan sehingga mereka memprediksi banjir, longsor dan puting beliung masih akan meningkat, setidaknya untuk wilayah-wilayah di NTT, NTB, pulau Jawa dan Bali, sebagian Sumatera, khususnya bagian selatan, serta Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.

Dan tahun ini, menurut juru bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, banjir akan mengenai daerah-daerah baru yang sebelumnya tak menghadapi ancaman banjir.

"Di peta sebenarnya tidak masuk zona merah, tetapi dengan adanya dampak perubahan iklim yang menyebabkan intensitas curah hujan demikian meningkat, kejadian hujan ekstrem makin sering terjadi dan masih tingginya kerusakan lingkungan, akhirnya muncul daerah-daerah baru yang rawan banjir, contohnya Bandung, Bima (NTB), Pasuruan, dengan kondisi yang ada sekarang menjadi sangat rentan," kata Sutopo.

Untuk menghadapi potensi ancaman banjir pada musim hujan yang masih tinggi BNPB bekerjasama dengan Massachusetts Institute of Technology (MIT) Urban Risk Lab meluncurkan PetaBencana.id.

Peta kebencanaan yang gratis ini, menurut Sutopo, bisa memberikan waktu yang cukup bagi warga di Jabodetabek, Surabaya dan Bandung, untuk menghindari area banjir dan memberikan informasi secara real time terhadap tinggi permukaan air di berbagai pintu air seperti Katulampa, Depok, dan Manggarai bagi warga Jabodetabek.

Banjir tapi tetap foto narsis

Peta, menurutnya, baru tersedia untuk tiga kota mengingat jumlah pengguna media sosial di tiga kota tersebut yang cukup besar. Dan dia mentargetkan informasi genangan air di tiga kota ini bisa mencapai sekitar 50 juta jiwa di tiga wilayah tersebut.

Hak atas foto AFP
Image caption Banjir mungkin sudah jadi soal biasa bagi warga Jabodetabek, Surabaya dan Bandung namun kali ini mereka bisa mendapat informasi untuk mengambil tindakan.

Salah satu penggagas peta bencana banjir ini adalah Etienne Turpin, peneliti Urban Risk Lab MIT dan salah satu direktur program peta bencana tersebut.

Menurutnya, saat mengunjungi Jakarta pada banjir 2013 lalu, dia melihat bagaimana orang-orang yang tengah terendam air, tetapi tak lupa mengambil swafoto (narsis) atau selfie dan dari sinilah dia melihat potensi kemunculan peta bencana banjir.

"Selfie menyelamatkan nyawa," katanya saat mempresentasikan peta bencana tersebut.

Menurutnya, dengan foto-foto selfie tersebut, maka ada data yang terkumpul, antara lain ketinggian genangan air jika dibandingkan dengan tinggi badan orang dewasa.

"Saat kami mulai proyek ini, banyak orang bilang Jakarta adalah kota yang kekurangan data, terutama soal performa infrastruktur dan elemen soal perencanaan kota. Tapi tidak, Anda hanya melihat di tempat yang salah. Saat melihat media sosial dan chat, kita mendapat jauh lebih banyak data dari yang kita butuhkan. Hanya saja kita harus mulai membagi data itu lebih efektif," kata Turpin.

Hak atas foto BAY ISMOYO/AFP/Getty Images
Image caption Sebuah gang di Jakarta yang sempat terendam air pada Februari 2016 lalu.

Bukan hoax

Peta bencana seperti ini, jelas Turpin, biasa disebut alat pendukung pengambil keputusan yang biasanya hanya bisa dilihat badan pemerintah.

Namun Turpin menganggap penting 'demokratisasi' alat semacam ini sehingga masyarakat bisa mengakses secara langsung informasi penting secara real time atau pada saat mengakses sehingga 'bisa mengambil keputusan untuk keluarga dan orang-orang yang mereka sayangi'.

"Dan ketika mereka mengambil keputusan yang lebih baik, kota akan merespons kesiapan terhadap bencana dengan lebih baik," ujarnya.

Meski masyarakat bisa melaporkan secara langsung soal ketinggian air lewat akun media sosial mereka, namun muncul satu kekhawatiran.

Bagaimana memastikan data yang dilaporkan masyarakat adalah yang benar terjadi di lapangan dan bukan sesuatu yang menipu?

"Verifikasinya kan semuanya akan dilakukan di control room, apakah laporan itu akurat atau tidak."

"Kalau di Jakarta, karena sudah banyak jaringan CCTV, bisa kita pantau secara CCTV, kemudian melalui justifikasi, apakah betul di situ memang hujan lebat, dari peta curah hujan dari BMKG, apa betul sungainya sudah meluap, bisa dari tinggi muka air yang real time, sehingga kalau laporannya hoax bisa kita delete dari sini," jelas Sutopo.

Dan di musim hujan yang akan memasuki puncaknya ini, paling tidak warga tiga kota bisa mendapatkan informasi untuk bertindak dan sekaligus pula membagi informasi.

Topik terkait