Demonstrasi di Jakarta, pengungsi Afghanistan meminta dikirim ke negara ketiga

Afghanistan Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Para pengungsi Afghanistan dari etnis Hazara berada di Indonesia sejak tiga tahun lalu.

Puluhan orang pengungsi Afghanistan berdemonstrasi di Jakarta untuk meminta agar secepatnya ditempatkan di negara ketiga.

Mereka menggelar protes di depan kantor Badan PBB yang mengurus masalah pengungsi (UNHCR) di kawasan Jakarta Pusat, dengan membawa poster dalam bahasa Inggris. Isi poster-poster itu antara lain berbunyi "Pengungsi juga manusia, "Sampai berapa lama kami harus menunggu?".

Sebagaimana dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Sri Lestari, sebagian pengungsi yang merupakan etnis Hazara itu mengaku sudah berada di Indonesia lebih dari tiga tahun dan menyebutkan belum mendapatkan kepastian dari UNHCR.

Salah seorang pengungsi Yahya Rafii (19 tahun) mengatakan sudah berada di Indonesia sejak 2014 setelah menempuh perjalanan dari Iran, India, Malaysia dan akhirnya sampai di Indonesia.

"Sekarang di sana ada Taliban, Isis dan tidak aman, kita khususnya suku Hazara ada masalah karena Syiah dan kita nggak bisa di sana makanya kita kabur, saya sih inginnya ke Australia," kata Yahya dalam bahasa Indonesia.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Yahya Rafii membayar sekitar Rp40 juta ke pelaku perdagangan manusia.

Dia mengatakan ingin pergi ke Australia, karena beberapa kerabatnya telah menetap di sana. Sementara ayah dan ibunya masih mengungsi di Iran.

Untuk sampai ke Indonesia Yahya membayar lebih dari Rp40 juta.

"Sampai ke Indonesia harus bayar Rp40 juta lebih. Dari Malaysia ke Indonesia itu sekitar Rp20 juta," jelas dia.

Yahya mengatakan dia sudah terdaftar sebagai pengungsi di UNHCR tetapi selama ini tidak mendapatkan tunjangan hidup.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Sajjad Ehsani ( 24 tahun) mengatakan kehilangan tahun terbaiknya dengan sia-sia.

Peserta aksi lainnya, seorang pengungsi Afghanistan yang berasal dari Herat, Sajjad Ehsani (24 tahun), mengatakan terpaksa mengungsi demi keselamatan hidupnya.

"Keluarga dan kerabat saya serta teman-teman sepupu banyak yang terbunuh dalam konflik di Afghanistan, saya berada dalam bahaya, saya memilih untuk hidup," ungkap Sajjad yang sudah berada di Indonesia selama hampir empat tahun.

Dia sudah memiliki kartu pengungsi sejak dua tahun lalu. Sajjad mengatakan tidak terlalu peduli akan dikirim ke negara mana, asalkan bisa memulai hidup baru.

"Tidak terlalu penting saya pergi ke mana, terserah UNHCR akan mengirim kita ke mana. Yang terpenting saya ingin pergi ke tempat lain dan memulai hidup baru. Saya datang ke sini ketika berumur 21 tahun, saya kehilangan tahun terbaik saya di sini," ungkap dia.

Selama ini Sajjad mengaku mendapatkan biaya hidup dari keluarganya di Afghanistan.

Para pengungsi sempat ditemui oleh staf UNHCR yang mengundang perwakilan mereka untuk masuk ke dalam. Tetapi undangan itu ditolak karena para pengungsi ingin masuk semua dan meminta kejelasan status mereka.

Sampai berita ini ditulis belum ada keterangan dari pihak UNHCR untuk menanggapi permintaan para pengungsi.

Menurut data Kementerian Hukum dan HAM, imigran dari Afghanistan merupakan yang terbanyak di Indonesia hingga mencapai 14 ribu orang, baik yang sudah berstatus pengungsi ataupun pencari suaka. Mereka ditempatkan di rumah detensi ataupun penampungan, tetapi ada juga yang memilih tinggal di rumah sendiri.

Topik terkait

Berita terkait