Yang mudik ke Jakarta -hanya agar bisa memilih: Agus, Ahok Anies?

Ahok, Anies, Agus Hak atas foto Getty Images
Image caption Pilkada DKI Jakarta akan berlangsung pada 15 Februari nanti.

Sejumlah orang yang bermukim di luar negeri, menabung sejak jauh-jauh hari agar bisa pulang saat Pilgub Jakarta, 15 Februari mendatang untuk mencoblos. Di pihak lain, ada pula yang memfasilitasi kepulangan warga Jakarta dari luar kota dengan dijanjikan subsidi ongkos, untuk memilih salah satu dari dua calon non Agok: Agus atau Anies.

Saat pemilihan presiden dan wakil presiden atau anggota DPR berlangsung, para WNI yang tinggal di luar negeri bisa memberikan suara di tempat tinggalnya masing-masing sesuai prosedur standar yang ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum bekerjasama dengan KBRI.

Namun lain halnya dengan pemilihan kepala daerah.

Seperti dikatakan oleh Ketua KPUD DKI Sumarno, para pemilih yang akan menggunakan hak suaranya pada Pilkada DKI Jakarta 2017 agar kembali ke Jakarta jika ingin menggunakan hak suaranya.

Karenanya banyak yang sengaja pulang agar bisa memilih -bahkan ada pula lembaga yang menggalang kepulangan warga Jakarta agar bisa memilih.

Salah satu yang berencana pulang untuk Pilgub Jakarta adalah Latifa Alatas yang sudah 22 tahun tinggal di Perth, Australia.

Sudah sejak tiga minggu lalu, Latifa berada di Jakarta untuk mengikuti berbagai rangkaian kampanye kandidat pilihannya dan, terutama, untuk mencoblos pada pilkada, 15 Februari 2017 nanti.

Hak atas foto EPA/HOTLI SIMANJUNTAK
Image caption Pilkada 15 Februari berlangsung di 33 provinsi secara serentak, termasuk di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

"Baru tanggal 16 saya pulang (ke Perth)," katanya.

Kunjungan kali ini bukan yang pertama yang dia lakukan terkait pilkada DKI Jakarta.

Dua bulan sebelumnya pun dia sempat pulang agar bisa mengurus pendaftaran sebagai pemilih serta verifikasi data pemilih.

"Karena saya pikir satu suara lumayan juga kan, kalau 1.000, kurang satu, kan nggak jadi 1.000. Apalagi sekarang lagi seru-serunya. Ada teman saya juga. Dua orang kita di sini. Memang saya sering pulang, tapi kali ini, seru melihat pemilihannya," kata Latifa.

Ini baru pertama kalinya Latifa pulang untuk mencoblos pada pilkada karena momentum yang dianggapnya penting.

Mengantispasi 'beda tipis'

Sementara teman Latifa, Siswati McLernon, yang sudah 14 tahun tinggal di Perth, Australia, sudah merencanakan sejak jauh-jauh hari untuk pulang ke Jakarta demi mencoblos.

Tapi bagaimana Siswati melihat nilai satu suara bagi kandidat yang akan dipilihnya?

Image caption Warga RI di luar negeri, seperti di London, hanya bisa mencoblos di tempat tinggalnya hanya saat pemiluhan umum dan presiden.

"Kalau beda (suara) tipis-tipis, nanti ada tambahan satu poin (suara), kan lumayan juga," katanya.

Bukan hanya keluar uang untuk tiket pesawat, Siswati bahkan sempat kehilangan gelang emas saat berdesak-desakan saat mendatangi kampanye kandidat pilihan yang didatanginya.

Namun berbagai pengeluaran dan kerugian tak membuatnya berhenti karena Siswati menyatakan sudah siap untuk kembali datang jika pilkada DKI Jakarta berlangsung dua putaran, dan kandidat pilihannya lolos ke putaran kedua.

"Sampai sepuluh kali putaran, saya akan datang lagi,"tegasnya.

Siap untuk putaran kedua

Baik Latifa dan Siswati mengakui sama-sama punya waktu luang karena usia anak-anak mereka yang sudah dewasa dan memungkinkan untuk ditinggal.

Namun Andi Trinanto, yang bekerja sebagai insinyur di Singapura, juga meluangkan waktu dan mengambil cuti dari kantornya untuk mengikuti pilkada DKI.

Bahkan, sejak awal pilkada DKI diumumkan tahapannya, Andi sudah langsung merencanakan untuk mencoblos dan membeli tiket sejak jauh-jauh hari agar lebih murah.

Alasannya?

"Karena gaungnya seru banget ya. Kayaknya kalau nggak terlibat, nggak asyik juga, seperti pilpres kemarin (2014) itu, kan seru, jadi harus nyoblos lah. Terus terang, satu pasangan calon yang saya pilih itu, saya harapkan harus menang," kata Andi.

Baru pada pemilihan kepala daerah kali inilah, Andi memutuskan untuk pulang. "Waktu Pak Jokowi (menjadi kandidat gubernur DKI Jakarta), saya nggak milih, nggak pulang," kata Andi.

Dan sama halnya seperti Siswati, jika nantinya kandidat pilihan Andi lolos ke putaran dua, dia akan datang lagi untuk memastikan kemenangan kandidatnya itu.

Nomor satu atau tiga

Orang-orang itu pulang ke Jakarta karena ingin turut memilih Ahok. Di pihak lain, ada pula upaya untuk menggalang warga Jakarta yang berada di luar kota, untuk pulang saat pencoblosan, dalam gerakan yang sepertinya 'Asal bukan Ahok.'

Salah satunya Griya Al-Qur'an, sebuah lembaga pendidikan baca tulis Quran yang berpusat di Surabaya, yang memiliki cabang di berbagai kota di Indonesia.

Seperti dicantumkan di poster yang beredar di media sosial, Irwitono, pendiri lembaga ini menawarkan subsidi ongkos bagi para siswa ber-KTP Jakarta untuk 'pulang dan 'coblos nomor 1 atau 3.'

Tapi kepada Ging Ginanjar dari BBC Indonesia, Irwitono menolak jika upayanya disebut penggalangan.

"Kami cuma memberikan bantuan, bagi yang ingin menggunakan hak suaranya di Pilgub Jakarta. Jadi bukan penggalangan atau pengerahan massa," katanya.

Disebutkan, sejak diumumkan awal pekan ini, sudah beberapa puluh yang mendaftar.

Hak atas foto Griya Al-Qur'an
Image caption Nomor 1 atau 3: Poster Griya Al-Quran

Untuk wilayah Jawa Timur pemberangkatan dilakukan dari Surabaya.

"Kami menyiapkan lima bis dari Surabaya, mungkin berangkat H-2 atau H-3, lalu kembali tanggal 15 malam, setelah pencoblosan," kata Irwitono pula.

Dari lokasi lain, misalnya Batam, yang beberapa sudah mendaftar, akan dibelikan tiket pesawat, tambah Irwitono.

Ia menyebut, fasilitas yang mereka sediakan hanya transportasi, dan kemungkinan konsumsi, dan tidak ada tambahan uang jalan atau apa pun.

Irwitono belum bisa memperkirakan, berapa anggaran yang dibutuhkan. Namun sejauh ini, mereka membuka kemungkinan seluas-seluasnya bagi sebanyak mungkin orang.

"Karena banyak donatur, bahkan dari luar negeri, yang menyumbangkan dana untuk ini," katanya.

Ia menyebut, Griya Al-Qur'an sudah sering melakukan hal seperti ini, memberi fasilitas mudik gratis. Namun terkait Pilkada, memang baru kali ini.

Dan hanya untuk Jakarta. Dan sejak awal, memang arahnya adalah tidak memilih Ahok, dengan seruan coblos nomor 1 (Agus Harimurti Yudhoyono) atau 3 (Anies Baswedan).

Namun Irwitono menegaskan, ini bukan sekadar gerakan asal bukan Ahok.

"Kami mempersilakan para siswa yang memiliki hak pilih, untuk memilih siapa saja di antara nonor satu atau tiga. Karena prinsip kami adalah memilih calon yang sesuai akidah kami. Yaitu memilih yang Muslim," tandas Irwitono.

Topik terkait