Aksi 112 Istiqlal: Rizieq Shihab FPI datang sesudah Agus, Anies, Sandi

Tampak juga bekas Ketua Umum PAN dan Menko Perekonomian Hatta Radjasa, bekas Menteri Pendidikan M. Nuh -selain Agus Harimurti. Anies Baswedan dan Sandiaga Uno Hak atas foto ANDI SYAHPUTERA
Image caption Tampak juga bekas Ketua Umum PAN dan Menko Perekonomian Hatta Radjasa, bekas Menteri Pendidikan M. Nuh -selain Agus Harimurti. Anies Baswedan dan Sandiaga Uno

Kendati disebutkan sekadar 'dzikir dan tausyiah,' aksi 112 yang disepakati dipusatkan di Masjid Istiqlal tetap kental nuansa politik anti-Ahok. Bahkan, dua kandidat lain: cagub Agus Harimurti dan cagub-cawagub Anies Baswedan-Sandiaga Uno menghadiri acara itu bersama sejumlah politikus.

Calon gubernur nomor urut satu serta calon gubernur serta calon wakil gubernur nomor urut tiga itu datang menjelang salat Subuh, mengikuti ceramah Arifin Ilham.

Saat itu, hadir pula sejumlah politikus. Antara lain bekas Ketua MPR Hidayat Nurwahid, bekas Menteri Pendidikan M. Nuh, serta Hatta Radjasa yang berpredikat bekas Menteri Perekonomian, bekas Ketua Umum PAN sekaligus besan presiden ke-enam Susilo Bambang Yudhoyono.

Para kandidat Pilgub Jakarta minus calon petahana Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok itu meninggalkan Istiqlal sekitar pukul 08.00 WIB.

Sementara Rizieq Shihab, yang merupakan pendiri dan Imam Besar Front Pembela Islam, pemimpin dua aksi raksasa sebelumnya, dan yang sepertinya merupakan tokoh paling dinanti pada aksi 112 ini, datang menjelang salat dzuhur.

Sebagaimana dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Oki Budhi, dalam ceramahnya Rizieq Shihab melontarkan kecaman pada pemerintah terkait sejumlah kasus hukum yang belakangan dihadapinya.

"Pemerintah jangan lakukan langkah provokasi dengan kriminalisasi ulama. Kalau ulama dibiarkan dikriminalisasi, akan sulit untuk memberikan pengertian pada umat," katanya.

Rizieq Shihab dijerat pasal penodaan Pancasila dan penghinaan presiden pertama, Soekarno, dan sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh oleh Polda Jabar.

Sejauh ini, Rizieq belum memenuhi panggilan Polda Jabar untuk menjalani pemeriksaan. Kapolda Jabar, Irjen Pol. Anton Charliyan mengancam untuk 'membawa' Rizieq jika tetap tidak memenuhi panggilan itu.

"Saya sudah jadi DPO untuk dihadirkan di Polda Jabar. Saya minta kuasa hukum untuk komunikasi dengan Polri. Usai acara ini saya siap datang ke Polda Jabar. Jangan khawatir saya akan hadir. Akan jalani proses hukum sebagai warga negara yang baik, tapi jangan ada rekayasa," tambah Rizieq di mimbar Masjid Istiqlal.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Kendati disebut sebagai 'Dzikir dan Tausyiah Nasional' aksi 112 tetap kental dengan warna politik Pilgub Jakarta, khusunya penentangan terhadap Ahok.

Pada Kamis (9/02) lalu, Rizieq mengumumkan perubahan rencana aksi 112, dari rencana aksi jalan kaki Istiqlal-Monas-Bundaran HI, menjadi 'Dzikir dan Tausyiah Nasional' yang berlangsung seluruhnya di Istiqlal.

Hal itu diungkapkan Rizieq Shihab, dalam jumpa pers di kediaman Menkopolhukam Wiranto, setelah pertemuan yang juga melibatkan sejumlah tokoh FPI, FUI dan GNPF-MUI.

Kesepakatan itu sejalan dengan kekukuhan polisi yang menolak memberi izin aksi jalan kaki itu, dan mengancam akan membubarkan dan melakukan penangkapan, jika para peserta aksi 112 bersikeras.

Kapolri Tito Karnavian lalu menyerukan agar para penyelenggara aksi 112 agar acara itu 'dijauhkan dari warna politik,' dan tidak 'akal-akalan' melakukan kegiatan politik yang dibungkus kegiatan keagamaan.

Tak urung, acara di Istiqlal, baik di dalam maupun di luarnya, kental dengan warna politik itu -khususnya terkait Pilkada Jakarta.

Sebagian besar ceramah berbicara tentang 'kewajiban memilih cagub Muslim' di Pilgub Jakarta mendatang.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Spanduk dan poster anti pemimpin non Muslim -terkait pada Ahok di Pilkada Jakarta, dibantang dan dibawa para peserta aksi 112.

Salah satunya, Rosyid Abdullah dari FUI, yang dalam ceramahnya antara lain mengatakan, "Islam harus betul-betul bangkit, kita harus menang di medan pertempuran: medsos dan menang di persidangan karena penista agama wajib dihukum berat."

"Umat harus memilih pemimpin muslim," tandasnya, yang disambut takbir para peserta.

Ia bahkan mengajak peserta aksi bersumpah bersama: "Aku bersumpah, aku siap berjuang korbankan jiwa dan raga untuk bela Allah, Rasul, Ulama, bela Islam, siap berjuang bersama ulama imam besar Rizieq Shihab untuk memenangkan gubernur muslim."Para peserta aksi mengikuti ucapan penceramah dan takbir.

Warna politik juga tampak dari berbagai spanduk dan poster yang dibawa peserta aksi di luar Masjid.

Kekerasan pada wartawan

Dilaporkan juga terjadi kekerasan terhadap wartawan dalam kesempatan terpisah.

Sebuah mobil milik awak Kompas TV diusir dari kawasan Istiqlal oleh sejumlah peserta, Jumat malam.

Sementara dua wartawan Metro TV melapor menderita pemukulan dan pengusiran. Selain seorang wartawan Global TV yang diintimidasi.

Belum ada pernyataan dari penyelenggara Aksi 112 tentang kasus ini. Upaya BBC untuk menghubungi FPI belum membuahkan hasil.

Sejumlah organisasi kewartawanan, antara lain Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pewarta Foto Indonesia (PWI), mengeluarkan pernyataan yang mengecam kejadian itu dan menyerukan polisi agar mengusutnya.

Berita terkait