Sidang ke-10 Ahok: Mengapa BAP ahli bahasa identik dengan saksi lain?

ahok Hak atas foto RAMDANI / AFP / Getty
Image caption Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok menghadiri sidang ke-10 terkait kasus dugaan penistaan agama.

Tim pembela hukum Ahok mempertanyakan berita acara pemeriksaan (BAP) yang berisi keterangan saksi ahli bahasa Mahyuni dalam sidang ke-10 kasus dugaan penistaan agama, yang disebut identik dengan saksi lain, termasuk kesalahan ketiknya.

Menurut tim pengacara Ahok dalam sidang ke-10, Senin (13/02), BAP Mahyuni sama persis dengan Husni Muadz yang juga berkapasitas sebagai saksi ahli bahasa.

"Dalam 17 halaman BAP ini kita temukan ada kesamaan," kata tim pembela hukum Ahok di persidangan.

"Ada dua BAP yang sama persis, pada butir 17 BAP ahli, halaman enam. Pertanyaan dan jawaban sama dengan ahli lain. Bahkan kesalahan menulis kata pun sama: 'tidak' ditulis 'tidka'," kata pembela hukum Ahok di persidangan.

Saat ditanya apakah melakukan penjiplakan, saksi ahli Mahyuni membantah.

"Kalau kebetulan sama, tidak paham. Kalau perspektif kita, sebagai ilmuwan sama," kata Mahyuni, sebagaimana dilaporkan wartawan BBC dari persidangan, Isyana Artharini.

Hak atas foto Reuters
Image caption Ahok menyebut Surat Al Maidah 51 dalam pidatonya di Kepulauan Seribu pada September 2016 lalu.

Tim pembela hukum Ahok juga mempersoalkan bahwa transkrip yang diajukan oleh kejaksaan memiliki tanda baca.

"Apa yang jadi masalah dalam kasus ini, dituang dalam dakwaan, (transkrip) ada koma, ada titiknya, seolah bisa diteropong isi hatinya. Jaksa entah dari mana keputusannya. Reproduksi tulisan harus jelas. Masalah kami, di dakwaan tidak ada soal penonton tepuk tangan, selfie-selfie, suasananya gimana," kata Tommy Sihotang, anggota tim pengacara Ahok

"Transkrip seharusnya netral, tidak ada tanda baca. Ketika dibubuhi tanda baca, siapa yang kasih wewenang?" imbuhnya.

Kubu Ahok bukan sekali ini mempermasalahkan BAP saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum. Dalam sidang 31 Januari 2017, tim pengacara Ahok mengaku menemukan 'kejanggalan' dalam BAP saksi pelapor bernama Ibnu Baskoro.

Menurut tim pengacara Ahok, Ibnu menerangkan dalam BAP bahwa dia mengetahui penyebutan Surat Al Maidah 51 oleh Ahok pada 28 September 2016 pada pukul 11.34 WIB. Padahal, video pidato Ahok di Kepulauan Seribu baru diunggah Pemprov DKI Jakarta pada 28 September 2016 pada pukul 13.00 WIB.

Selain Ibnu Baskoro, BAP milik Sekretaris Jenderal DPD Front Pembela Islam (FPI) DKI Jakarta, Novel Chaidir Hasan Bamukmin, juga dipersoalkan dalam sidang 3 Januari 2017.

Dituliskan pada BAP bahwa pada tahun 1992-1995, Novel pernah bekerja di restoran 'Fitsa Hats' -dan bukan Pizza Hut.

Topik terkait

Berita terkait