Setelah Wali Kota Makassar razia kondom jelang Hari Valentine

kondom Hak atas foto AFP / Getty
Image caption Satpol PP memajang hasil razia menjelang Hari Valentine di Surabaya, 2015 lalu. Razia kondom juga dilakukan Wali Kota Makassar, M Ramdhan Pomanto, satu hari sebelum Valentine, tahun ini.

Beragam reaksi bermunculan setelah Wali Kota Makassar M Ramdhan Pomanto menggelar razia penjualan kondom di sejumlah minimarket, pada Senin (13/02) malam, menjelang Hari Valentine atau Hari Kasih Sayang.

Dede Oetomo, pendiri Gaya Nusantara yang juga pemerhati masalah HIV/AIDS, mengkritik razia tersebut.

Menurutnya, wali kota bertanggung jawab melindungi masyarakat Makassar dari penularan HIV/AIDS, sebagaimana tertera dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 21 Tahun 2013 tentang penanggulangan HIV dan AIDS.

"Dengan razia itu, dia sebenarnya sudah menjegal dirinya sendiri. Dia seharusnya melindungi masyarakat dari HIV dan kondom sudah terbukti bisa mencegah penularan HIV. Dengan melakukan razia kondom, berapa orang yang akan sakit dan mati?" tanya Dede.

Wali Kota Makassar, M Ramdhan, menyebutkan, kondom masih akan bisa didapatkan di minimarket tapi tidak dipajang mencolok. Namun menurut Dede, pemikiran itu tidak didasari riset dan strategi jangka panjang.

"Berbagai kajian menunjukkan, anak-nak muda yang rentan terhadap penularan HIV/AIDS, takut membeli kondom di tempat umum. Nah, dengan kondom disembunyikan dan membelinya harus bertanya kepada penjaga minimarket, mereka tambah takut membelinya," kata Dede.

Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Makassar, kasus HIV di kota Makassar sudah mencapai 5.647 orang. Adapun kasus AIDS sebanyak 2.058 orang per 2015 .

Angka itu bertambah 364 orang sampai semester pertama 2016.

Hak atas foto AFP/ Getty
Image caption Penolakan terhadap pembagian kondom beberapa kali dilakukan sejumlah elemen masyarakat dengan argumen langkah tersebut mendukung perilaku seks bebas. Namun, argumen itu dibantah aktivis pendukung pencegahan HIV/AIDS.

'Bukan pelarangan'

Kepada BBC Indonesia, M Ramdhan mengaku mendasari aksinya karena "begitu banyak komplain masyarakat selama beberapa hari terakhir terhadap anak-anak mereka dan keluarga mereka yang gampang mengakses kondom.

Dia menegaskan razia yang dia pimpin bukan pelarangan, melainkan "penertiban penjualan kondom secara bebas dan promotif."

Menurutnya, sama seperti penjualan rokok, seharusnya penjualan kondom jangan dipajang. "Tapi kalau ada yang minta, ada barangnya. Kita tidak larang, cuma tidak boleh dia promotif sekali. Kondom dijual paling depan (di minimarket). Itu berarti kan sudah ada unsur kesengajaan."

Soal fakta bahwa kondom merupakan sarana pencegahan penularan HIV/AIDS, Ramdhan mengaku paham dan mengingatkan bahwa dirinya adalah pembina penanggulangan masalah HIV/AIDS.

"Tapi (kondom) bukan untuk anak kecil, harus dibatasi. Saya akan bikin peraturan. agar kondom tidak dipromosi untuk semua umur. Sama seperti rokoklah. Saya kira dalam dua bulan ini."

'Tanpa kondom, seks tetap terjadi'

Razia kondom wali kota Makassar memancing ragam komentar di media sosial.

Iram Pknm, salah seorang netizen, menulis di Facebook, "Era postmodern saat ini tidak ada jaminan perilaku sex bebas di kalangan remaja akibat penggunaan kondom. Tanpa kondom, perilaku seks bebas & beresiko tetap akan terjadi. Edukasi yg tepat dan benar serta peran kerja sama ortu, guru, dan masyarakat sangat dharapkan."

Pudjo Kesumo Dewo mempersoalkan masalah hukum yang ditimbulkan oleh razia wali kota Makassar.

"Emang jualan kondom di mini market melanggar hukum?!?! Kalau gw jadi yang punya minimarket, nuntut ganti rugilah. Enak aja dia main ambil-ambil barang dagangan gw."

Hak atas foto AFP / Getty Images
Image caption Poster anjuran memakai kondom saat berhubungan seks tampak di sebuah klinik di Jakarta. Tingkat kasus HIV/AIDS di Jakarta diprediksi cukup tinggi. Adapun di Makassar, berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Makassar, kasus HIV di kota Makassar sudah mencapai 5.647 orang. Adapun kasus AIDS sebanyak 2.058 orang per 2015 .

Tentu ada pula yang sepakat dengan pemikiran wali kota Makassar yang melatari razia kondom.

Haris Beuh menulis, "Dengan iklannya selalu ditonton, gunakanlah kondom saat berhubungan... tanpa disadari alam bawah sadar kita menangkap pesan tersembunyi, kalau seks itu boleh asal pakai kondom, nggak perlu tahu sah atau tidak sah hubungannya."

Adapun Ummi Elis Maulida, mengaitkan kondom dengan zina secara agama.

"Ajang perzinahan.. na'udzubillahi mindzallik.. semoga kita dijauhkan dari perbuatan seperti itu.. aamiin."

Perayaan Hari Valentine beberapa kali dikaitkan dengan seks oleh sejumlah pihak di berbagai wilayah dunia.

Pada 2011, pemerintah Malaysia menggalakkan kampanye larangan perayaan Hari Valentine bagi umat Muslim dengan menyebut perayaan hari kasih sayang itu sebagai 'jebakan' yang bisa mendorong perilaku tak bermoral.

Tahun ini, Pengadilan Tinggi Islamabad di Pakistan, mengumumkan larangan penjualan semua barang-barang terkait Hari Valentine di kantor pemerintah dan tempat umum.

Topik terkait

Berita terkait