Agus, Ahok dan Anies rilis aplikasi pantau Pilkada Jakarta, mana yang paling efektif?

aplikasi

Masing-masing pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta mengeluarkan aplikasi berbasis internet untuk mengawasi pemungutan suara dalam Pilkada DKI Jakarta pada Rabu (15/02). Lalu bagaimana keefektifan masing-masing aplikasi untuk mengawal pemilu? Apakah fitur yang disajikan gampang digunakan?

"Jaga Agus-Sylvi"

Tim pasangan calon gubernur-wakil gubernur Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni meluncurkan aplikasi yang hanya bisa diunduh oleh ponsel pintar berbasis Android pada pertengahan Januari 2017.

Meskipun aplikasi ini ditegaskan berfokus untuk "mengantisipasi kecurangan", ada tiga fitur berbeda yang disajikan layanan yang diklaim Agus sudah 'diunduh puluhan ribu orang' tersebut.

Ketiga fitur itu adalah berita, misi harian dan chat.

Jika kita membuka fitur berita, terdapat sejumlah berita positif terkait pasangan nomor urut satu ini, misalnya berita berjudul Agus Harimurti luncurkan buku"atau Cegah anak konsumsi miras, Sylviana utamakan pendidikan spiritual.

Namun, berita yang disajikan hanya ada enam buah, dan tampaknya jarang diperbarui. Keenam berita itu semuanya berasal dari tanggal enam dan tujuh Februari.

Image caption Fitur berita dalam aplikasi milik Agus-Sylvi.

Pengawasan terlihat di fitur misi harian, dimana pengguna diminta untuk datang ke tempat pemungutan suara (TPS) dan memfoto daftar pemilih. Aplikasi ini juga memperingatkan "jika ada pemilih asing, segera kontak call center." Keluhan tidak langsung dilayangkan lewat layanan ini.

Image caption Keluhan dapat disampaikan pada bagian Chat.

Pengaduan "keluhan/laporan/temuan" paling jelas terlihat di fitur chat. Namun, ketika digunakan, fitur ini tampaknya hanya menerima pengaduan berupa tulisan, tidak foto atau video.

"MataBadja"

Dibandingkan dua aplikasi lainnya, Mata Badja yang dibuat oleh tim relawan pasangan cagub-cawagub Basuki Tjahaya Purnama dan Djarot Saiful Hidayat lebih terkonsentrasi sebagai media pelaporan hasil dan kecurangan dalam pilkada.

Ketika pengguna masuk mencobanya, kita akan diminta untuk mengunduh formulir "Pelaporan Publik Pilkada 2017".

Image caption Aplikasi Mata Badja di Google Play Store.

Dengan menggesek ke kanan, pengguna dipersilahkan mengisi data diri, nomor telepon, email, wilayah pencoblosan dan nomor TPS, sebelum masuk ke bagian inti pelaporan.

Bagi Anda yang menginginkan pengisian data dengan format sederhana di satu halaman, mungkin akan sedikit merasa kewalahan, karena data di atas berada di halaman berbeda dan hanya bisa diisi jika data sebelumnya telah diisi.

Image caption Setiap informasi dimasukkan dengan menggesek ke kanan.

Di halaman inti, pengguna bisa mengunggah foto formulir C1 hasil penghitungan pilkada di TPS.

Unggahan tersebut bisa diikuti laporan kecurangan. Pengguna tinggal memilih satu dari 17 jenis kecurangan yang ditulis, misalnya "memilih lebih dari sekali", atau "merusak surat suara".

Image caption Hanya satu kecurangan yang bisa dipilih untuk setiap formulir.

Jika terjadi ancaman di TPS, pengguna juga bisa melaporkannya, apakah kecurangan tersebut dari "penyelenggara", "aparat keamanan", atau "ormas atau kelompok tertentu".

Pelaporan tersebut dapat diiringi unggahan foto dan narasi.

Image caption Pengguna jika bisa melaporkan jika mereka mendapat ancaman saat memilih.

Meskipun begitu, baik laporan kecurangan atau ancaman, pengguna aplikasi masing-masing hanya bisa memilih satu dari sekian banyak pilihan. Sehingga jika terjadi lebih dari satu kecurangan atau ancaman, pengguna harus membuatnya di formulir berbeda dan memulai semua proses satu-persatu dari awal.

Aplikasi ini juga hanya bisa diunduh oleh ponsel Android.

"Salam Bersama untuk DKI Jakarta"

Untuk menggunakan aplikasi milik tim pasangan cagub-cawagub Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang juga berbasis Android ini, pengguna harus mendaftar terlebih dahulu.

Menariknya, kita harus memilih satu dari 10 'status' yang ditawarkan, apakah mendaftarkan diri sebagai anggota "jaringan partai Gerindra", "relawan keumatan", "relawan pemuda dan mahasiswa" dan lain sebagainya.

Image caption Berbagai layanan dalam fitur Form.

Setelah mendaftar pengguna akan melihat empat fitur yang ada; form, info, news dan buzzer.

Namun, tiga fitur terakhir (info, news dan buzzer) tampaknya jarang sekali diperbarui. Kontennya hanya satu dan serupa yaitu tautan berjudul "Rindu kami padamu, Ya Rasul" yang sudah diunggah sejak 12 Desember lalu.

Image caption Banyaknya informasi sama yang dihadirkan oleh aplikasi Salam Bersama untuk DKI Jakarta.

Fitur utamanya yaitu "form" yang memiliki empat layanan. Yang paling menarik adalah layanan bernama "Yuk kenali TPS" dan "Yuk lapor".

Pada "Yuk kenali TPS" pengguna bisa melihat seluruh daftar nama pemilih di kelurahan tempat pengguna terdaftar, lengkap dengan nomor TPS-nya. Nama pemilih itu disusun sesuai abjad dan disediakan tempat untuk mengunggah foto pemilih tersebut.

Image caption Laporan pelanggaran bisa ditulis dalam satu halaman.

Sementara, laporan kecurangan bisa dituliskan di layanan "Yuk lapor". Pengguna bisa memilih tim mana yang melakukan kecurangan, lokasi, kronologi kecurangan dan pilihan untuk mengunggah bukti foto.

Berbeda dan lebih ringkas dibandingkan "Mata Badja", seluruh data pelaporan di "Salam Bersama untuk DKI Jakarta" dituliskan dalam satu halaman saja.

Topik terkait

Berita terkait