Aparat ‘tak pernah’ hukum pemelihara satwa liar tanpa izin di pengadilan

jawa barat Hak atas foto Julia Alazka
Image caption Salah satu satwa yang diambil Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat dari tempat wisata Kampung Gajah Wonderland.

Dalam ratusan kasus terkait perdagangan satwa liar ilegal di Indonesia, aparat hukum belum pernah satu kali pun menghukum pemelihara satwa liar tanpa izin di pengadilan, kata pegiat lingkungan.

Padahal, menurut Dwi Adhiasto, manajer program unit kejahatan satwa liar lembaga Wildlife Conservation Society (WCS), Undang-undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya jelas menyebut "setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup".

"Di Indonesia, proses hukum berjalan efektif terhadap pemburu dan pedagang satwa yang dilindungi, walau bobot hukumannya kurang dari dua tahun. Namun, bagi pemelihara, tidak pernah sampai vonis. Bagi pemelihara, proses hukumnya hanya sebatas penyitaan dan tidak ada konsekuensi hukum lagi," kata Dwi kepada BBC Indonesia.

Seraya menyitir data WCS tentang 470 kasus perdagangan satwa liar pada periode 2003-2016, Dwi mengklaim bahwa pemelihara satwa yang dilindungi belum pernah ada yang dipenjara.

"Pemelihara kan ada di titik terakhir, demand. Sedangkan para pemburu dan pedagang sebagai supplier akan mencoba memenuhi demand," kata Dwi.

Saat menanggapi kasus penyitaan belasan ekor satwa liar yang dilindungi di tempat wisata Kampung Gajah Wonderland, Kabupaten Bandung, Dwi mengatakan tindakan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat sudah sesuai dengan Pasal 24 ayat 1 UU No.5 Tahun 1990.

Pasal 24 ayat 1 menyebutkan, "apabila terjadi pelanggaran terhadap larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21, tumbuhan dan satwa tersebut dirampas untuk negara".

Hak atas foto Julia Alazka
Image caption Jumlah satwa yang diambil BBKSDA Jawa Barat dari Kampung Gajah Wonderland mencapai 16 ekor.

Penyitaan belasan ekor satwa

Pada Jumat (17/01), BBKSDA Jawa Barat menyita belasan ekor satwa yang dilindungi dari kebun binatang mini di Kampung Gajah Wonderland, Kabupaten Bandung Barat.

Satwa-satwa yang disita mencakup Owa Jawa, Siamang, Elang Brontok, Tarsius, Binturung, Julang Mas, Kakatua Jambul Kuning, dan Merak.

"Kita akan kejar dari mana asal-usul satwa itu," kata Kepala BBKSDA Jabar, Sustyo Iriyono.

Apabila hewan-hewan itu didapat dengan cara ilegal, Sustyo menegaskan "kita sita untuk negara".

Menurut Sustyo, Kampung Gajah Wonderland bisa saja memelihara satwa-satwa yang dilindungi asalkan memenuhi syarat pendirian lembaga konservasi sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar.

'Lagi urus izin'

Sementara itu, humas KGW, Herman, menepis istilah 'penyitaan' yang dikemukakan BBKSDA Jabar. Menurutnya, hewan-hewan yang diambil dari KGW sekedar dititipkan.

"Kita menitipkan, bukan menyerahkan juga ke mereka. Karena kita punya mini zoo, karena surat izin kita lagi diurusin sekarang kan. Jadi izin kita keluar akan dipulangin, bukannya disita," ujar Herman, sebagaimana dikutip wartawan di Bandung, Julia Alazka.

Hak atas foto Julia Alazka
Image caption Satwa-satwa yang disita dari Kampung Gajah Wonderland mencakup Owa Jawa, Siamang, Elang Brontok, Tarsius, Binturung, Julang Mas, Kakatua Jambul Kuning, dan Merak.

Herman mengaku paham bahwa satwa yang diamankan BBKSDA Jabar adalah satwa dilindungi. Meski demikian, ia menyatakan, pihaknya akan tetap memelihara belasan satwa itu untuk melengkapi koleksi mini zoo KGW yang dibuka sejak setahun lalu.

"Kita menitipkan karena surat kita lagi diurus, nanti akan kita ambil lagi kalau izin kita keluar. Percuma atuh kita urusin izinnya, kita nggak pelihara," katanya.

Selain belasan satwa dilindungi yang diamankan BBKSDA, KGW memelihara beberapa jenis satwa yang diimpor dari beberapa negara, seperti merak putih Sri Lanka dan angsa asal Australia.

Herman mengaku, pihaknya mendapat hibah dari teman dan pengunjung.

"Kita dapat hibahan. Kita dapat yang lokal, yang mesti ada suratnya, itu hibahan dari pengunjung dan juga dari teman-teman karena tempat kita gede," kata Herman.

Topik terkait

Berita terkait