Tentang milad, jilbab, Raja Salman, dan Indonesia

Salman bin Abdul Aziz, Arab Saudi, Indonesia Hak atas foto Associated Press
Image caption Raja Salman bin Abdul Aziz, pemimpin Arab Saudi yang mempengaruhi Indonesia dari berbagai segi, termasuk kebudayaan.

Lawatan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz ke Indonesia yang dijadwalkan akan dilakukan pada tanggal 1-9 Maret mengedepankan kembali hubungan kedua negara, salah satunya tentang interaksi budaya Indonesia dengan Arab Islam.

Akhir-akhir ini, sebagian pihak memandang terjadi peningkatan penggunaan kata-kata Arab dalam kehidupan sehari-hari warga umum, disamping semakin banyak perempuan Indonesia yang mengenakan busana Muslimah yang oleh sebagian dianggap lebih merupakan busana Arab.

Apakah ini berarti terjadi peningkatan penetrasi budaya Arab Islam di Indonesia? Ataukah penggunaan kata seperti milad dan penggunaan jilbab memang sudah sejak lama terjadi di Indonesia, yang sebagian besar penduduknya beragama Islam?

Hak atas foto Associated Press
Image caption Program TV seperti Game of Thrones membuat sebagian orang semakin mendukung budaya Arab Islam.

Milad, media sosial dan Islam

Dengan semakin maraknya pemakaian media sosial, seperti Facebook, Twitter dan Path, semakin banyak juga terlihat netizen yang menggunakan kata-kata Arab. Milad misalnya, sekarang makin sering dipakai untuk mengucapkan selamat ulang tahun.

Pengamat sosial budaya, Hamid Basyaib, memandang populernya medsos dan turunnya Presiden Soeharto menimbulkan kesan peningkatan pemakaian kata-kata Arab.

"Terasa meningkat karena dibantu oleh sosial media, lalu reformasi, lebih utama lagi. Reformasi Indonesia lebih 20 tahun lalu. Kemudian, apa yang kita anggap pengaruh-pengaruh itu bercuatan, bermunculan, sehingga terasanya lebih tegas, lebih jelas banget. Sebetulnya itu nggak terlalu."

Hamid menambahkan hal ini juga terjadi sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi budaya Barat di Indonesia.

"Itu justru reaksi terhadap makin dominannya budaya Barat modern. Itulah semacam bentuk perlawanan dari satu segmen sosial bangsa Indonesia yang merespons itu, karena justru mereka merasa ini penetrasi budaya Barat modern, justru sangat kuat dimana-mana. Di TV, di radio, di media. dimana-mana," kata Hamid, pengamat yang juga kolumnis.

Sementara Alwi Shahab, seorang wartawan senior mengatakan memang akhir-akhir ini terjadinya peningkatan pemakaian kata-kata Arab terkait dengan peningkatan usaha memahami Islam di masyarakat.

"Akhir-akhir ini juga makin banyak orang yang menggunakan simbol bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari, itu juga karena pengaruh kehidupan agama, tetapi juga kehidupan mereka sendiri yang dalam keislamannya makin lama makin tumbuh, karena sekarang mereka menyadari bahwa untuk mengerti tentang Islam itu, mereka harus menguasai bahasa Arab," kata pemerhati budaya Arab di Indonesia ini.

Hak atas foto SAKDIYAH MARUF
Image caption Pemakaian jilbab yang lebih tertutup menggantikan kerudung yang lebih longgar ketentuannya.

Jilbab menjamur

Akhir-akhir ini, semakin banyak perempuan Indonesia yang mengenakan pakaian yang dianggap Islami, seperti rok panjang yang dipadu jilbab. Kepopuleran busana Muslim ini juga membuat semakin maraknya bisnis jenis pakaian ini.

Hamid Basyaib mengatakan sebenarnya tidak terdapat kejelasan tentang sebab musabab kecenderungan ini. Tetapi keberhasilan revolusi Iran pada akhir tahun 70-an dalam menumbangkan kekuasaan Shah dukungan Barat, membuat Muslim dunia, termasuk Indonesia semakin percaya diri.

"Pengaruh revolusi Iran tahun 79-an. Makanya awal tumbuhnya kan awal 80-an. Sebelum itu kan kita tidak mengenal jilbab atau hijab dalam pengertian yang sekarang. Kita punya beberapa budaya lokal yang menutup auratnya dengan cara yang berbeda. Misalnya paling jelas itu di Sumatera Barat. Itu pakai kerudung saja, baju kurung.

"Revolusi Iran itu seperti memompa percaya diri umat Islam di seluruh dunia, tentu saja di Indonesia juga. Bahwa suatu kekuasaan yang begitu sekuler dan begitu tunduk kepada superpower Amerika, ternyata bisa ditumbangkan oleh senjata agama. Pemimpinnya namanya Khomeini yang menggerakkan seluruh gerakan melawan the dominant power yang dianggap zalim itu dengan resep-resep agama," jelas Hamid.

Sebagaimana peningkatan pemakaian kata-kata Arab, Alwi Shahab memandang populernya busana Muslim erat kaitannya dengan upaya pencarian identitas orang Islam.

"Ini dikaitkan dengan keadaan agama, dakwah mereka terhadap agama. Jadi dianggap tidak baik kalau seorang tokoh agama melakukan dakwah tidak memakai jilbab. Jilbab itu adalah suatu yang prinsip. Sampai di keluarga-keluarga itu kalau yang dulu tidak pernah terlihat, yang mungkin 20 tahun lalu jarang terlihat, orang sekarang sudah memakai jilbab kemana-mana," kata Alwi.

Lawatan Raja Salman dan Arabisasi Indonesia?

Jadi apakah kunjungan pemimpin negara Islam berpengaruh seperti Raja Salman akan membuat Indonesia semakin menjadi Arab, semakin Islami?

Alwi Shahab memandang lawatan raja Arab Saudi setelah jeda selama 45 tahun, akan akan meningkatkan pengaruh budaya Islam Arab.

"Ya kan jelas arahnya akan ke situ meskipun tidak seluruhnya, bahwa akibat kedatangan raja itu mungkin nanti orang di Indonesia akan bertambah pengaruh kebudayaan Arab dan Islamlah, Arab dan juga Islam. Sehingga mereka bicara bahasa Arab dan yang lain-lain," katanya.

Namun Hamid Basyaib berpandangan lain.

"Nggak banyak pengaruhnya. Dia kan Islamnya versi Wahabi. Di Indonesia itu Wahabinya nggak, hampir tak pernah seperti Wahabi Saudi. Muhamadiyah itu dasar-dasarnya itu Wahabi. Tapi Wahabi dalam versi yang lunak. Wahabi yang cuma anti-TBC, Tahayul Bid'ah dan Khurafat," kata Hamid Basyaib.

"Di sisi lain ada NU, yang jauh lebih besar dari Muhamadiyah dan sangat anti-Wahabi. Di hari pertama pembentukannyapun, tahun 1926, memang NU itu dibentuk untuk membendung Wahabi," tandasnya pula.