Buruh migran: Beri saya kesempatan menjadi ibu sebenarnya

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Sayona Bekhasyiffa Sari atau Syiffa berharap dapat mendalami studi perbankan syariah di Malaysia.

Sayona Bekhasyiffa Sari, (17) seorang siswi Madrasah Aliyah di Blitar, Jawa Timur, berkemas-kemas hendak mengunjungi ibunya di Johor, Malaysia, akhir Februari lalu.

Ini akan menjadi perjalanan istimewa bagi remaja yang biasa dipanggil Syiffa itu. Pasalnya, ia tidak akan hanya bertemu dengan ibunya -yang bekerja di negara tetangga itu sehingga hidup terpisah selama 16 tahun terakhir- tetapi juga akan mengunjungi dua perguruan tinggi di Malaysia,.

Di negara tempat ibunya selama ini mencari nafkah, ia berharap dapat melanjutkan pendidikannya dengan beasiswa dari pemerintah.

"Karena Syiffa tak mau membebani mama, jadi kalau nanti program beasiswa sudah di-acc (disetujui) nanti melanjutkan ke Malaysia jadi akses ke mama lebih dekat, lebih sering bertemu tapi kalau tidak bisa melanjutkan di Indonesia," tuturnya.

Putri semata wayang Jovitasari itu diasuh oleh tante-tantenya sejak usianya baru sekitar satu tahun setelah Jovitasari bercerai dan kemudian merantau ke Malaysia.

Image caption Syiffa mengaku ingin merasakan kehidupan normal dengan ayah dan ibu.

"Waktu itu saya berjuang sebagai single parent (orang tua tunggal), saya lah mak dan sayalah pak. Kebetulan saya di sini pun pertama kali korban trafficking (perdagangan manusia) juga," papar Jovitasari, seorang tenaga kerja Indonesia (TKI)atau dikenal juga dengan istilah buruh migran, yang punya keterampilan rias dan bekerja di negar bagian Johor, Malaysia.

Awalnya ia bekerja sebagai penggulung kertas mesin kasir dan kemudian pindah ke salon sesuai dengan keterampilan yang dimilikinya.

"Tiga tahun bekerja saya tidak dapat hasil, tidak dapat pulang, tidak dapat tengok anak. Dan tiga tahun pertama itulah yang saya rasa awal yang menjadikan anak saya lupa dengan saya."

Tidak menghubungi keluarga

Putrinya, Syiffa, diasuh oleh kakak-kakak Jovitasari. Karena biaya telepon mahal ditambah dengan ketidakberanian menghubungi keluarga jika belum bisa mengirim uang, maka Jovitasari mengaku jarang menghubungi anaknya.

Sembilan tahun kemudian, ia baru pulang ke kampung halamannya di Blitar.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Tante Syiffa, Ucik Yuswadi mengaku rela 'melepaskan' Syiffa ke ibunya setelah ibunya 'mapan'.

"Ketika dia umur 10 tahun saya pulang. Ingatan saya anak saya sepertinya masih kecil. Saya belanja baju atau apapun saya anggarkan kayak umur masih kecil.

''Waktu itu saya tanya 'mana anak saya? Rupanya anak saya yang di depan yang sudah bersalaman. Anak saya tidak mengenali saya, saya pun tidak mengenali dia," kata Jovitasari dalam wawacara di Johor, Malaysia.

"Mama mungkin tidak sadar kalau Syiffa memanggil-manggil mama. Habis itu, yang dicari malah orang lain. Waktu itu ada sepupu pakai jaket Syiffa waktu kecil. Mama ingat itu jaket pernah Syiffa pakai jadi mama ingat sama jaketnya, tidak ingat anaknya," ujar Syiffa yang saya temui terpisah di Surabaya sebelum berangkat ke Malaysia.

'Cemburu'

Setelah pertemuan pertama itu, menurut Jovitasari, hubungan ibu dengan anak lebih erat. Bahkan Syiffa sudah sering mengunjungi ibunya di Malaysia. Bagaimanapun, jarak tetap ada dan Jovita merasa tidak bisa bersikap seperti kakak-kakaknya.

"Sepertinya saya sudah tidak ada otoritas. Kalau ibu dengan anak yang hanya dijaga oleh ibu, jika curhat atau minta pendapat itu antara saya dengan anak. Tapi sekarang ini saya merasa seperti ada perbandingan. Itu mungkin kecemburuan seorang ibu yang gagal untuk mendampinginya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Jovitasari memperlihatkan foto putrinya ketika ia mengunjunginya di Malaysia beberapa tahun lalu.

"'Mama bilang begini, ibu Ucik bilang begini, ibu Uwit bilang begini.' Jadi kalau dia gnomon seperti itu saya merasa bahwa pendapat saya tidak di hati dia sepenuhnya. Kadang-kadang saya merasa bahwa corak hidup anak saya bukan dari saya, tapi dari kakak-kakak saya. Saya hanya membantu dana," ujarnya.

Namun kakak tertua Jovitasari, Ucik Yuswadi menuturkan persaingan pengaruh dalam kehidupan Syiffa tidak ada.

"Di keluarga saya, kalau ada saudara yang harus dibantu itu harus saudara yang lebih tua yang sudah mungkin bisa mengangkat adik-adiknya. Itu memang didikan bapak ibu saya. Saya tidak mengambil haknya Jovi tapi saya cuma membantu untuk membesarkan anaknya. Jadi nanti kalau dia sudah mampu untuk mengambil anaknya sendiri, ya silakan ambil," jelasnya dalam wawancara dengan BBC.

'Broken home'

Baik ibu maupun anak menyatakan tidak ingin menyesali perpisahan mereka selama lebih dari 16 tahun dan ketika Syiffa mulai kuliah tahun depan mereka berharap akan bisa menghabiskan waktu bersama lebih banyak.

"Saya sudah menyuarakan kepada kakak-kakak saya 'Beri saya kesempatan untuk saya menjadi ibu yang sebenarnya, membimbigng dia, mencorak dia di ujung-ujung langkah dia. Maksudnya, kalau sudah lepas kuliah bermakna dia adalah dia sendiri," ungkap Jovitasari dalam wawancara dengan wartawan BBC, Rohmatin Bonasir, di Johor.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Jovitasari mengaku kini sudah waktunya bagi ibu dan anak untuk berkumpul.

Adapun putrinya mengaku punya harapan besar terhadap dirinya sendiri.

"Syiffa sebagai anak dari broken home, tidak semua anak dari broken home nakal, tidak bisa diatur. Saya ingin menunjukkan meskipun dari kecil Syiffa tidak bersama mama, tidak bersama papa, Syiffa diasuh oleh banyak orang, tapi Syiffa tunjukkan bahwa Syiffa bisa menjadi kebanggaan orang tua. Jadi Syiffa bisa jadi kebanggan orang tua. Mama itu punya Syiffa saja sudah cukup. Syiffa sudah bisa jadi obat buat mama sesuai dengan apa yang mama harapkan."

____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Tulisan ini merupakan bagian dari laporan seri 'Generasi tanpa asuhan ibu' di BBCIndonesia.com dan juga di Radio BBC Indonesia dalam acara Liputan Khas.

Topik terkait

Berita terkait