Seruan tidak mensalatkan pro-Ahok 'tak sesuai ajaran Islam'

spanduk anti ahok Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Spanduk dipasang di depan masjid Al-Ikhlas di Kelurahan Karet, Jakarta Selatan. Sampai Minggu (26/02) spanduk itu masih terpasang.

Umat Islam diimbau untuk mengabaikan ajakan tidak mensalati jenazah pendukung dan pembela Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, seperti yang tertulis dalam spanduk yang dipasang di sejumlah masjid di Jakarta.

Dewan Masjid Indonesia dan Pemuda Muhammadiyah mengatakan ajakan tersebut tidak sesuai ajaran Islam dan terlalu mempolitisasi masjid.

Di halaman Masjid Mubasysyrin, yang artinya kasih sayang, belasan anak-anak bermain sepak bola.

Terletak di Kelurahan Karet, Jakarta Selatan, masjid ini menjadi sorotan, karena tulisan di dalam spanduk yang dipampang di bagian depan masjid itu. Bunyinya: Masjid ini tidak mensalatkan jenazah pendukung dan pembela penista agama.

Usai salat Asar, Minggu (26/02), saya berusaha menemui pimpinan masjid itu, tetapi ditemui oleh ketua remaja masjidnya. Seorang mahasiswa berusia 21 tahun bernama Abdullah Muhammad Khomeini Malak.

Dia semula hanya menyodorkan keterangan pers tertulis tentang alasan dibalik pembuatan spanduk tersebut. Tetapi kemudian dia akhirnya bersedia berkomentar seraya meminta pernyataannya dikutip dengan benar.

"Ini shock therapy," kata Abdullah, ketika saya bertanya bahwa tulisan di spanduk itu telah dipertanyakan oleh beberapa tokoh Islam karena dianggap tidak sesuai ajaran Islam.

"Kadang-kadang cara mengingatkan (kepada umat Islam) itu berbeda-beda. Ada yang halus, ada yang kasar," paparnya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Terletak di Kelurahan Karet, Jakarta Selatan, masjid Mubasysyrin menjadi sorotan, karena tulisan di dalam spanduk yang dipampang di bagian depan masjid itu.

Dalam keterangan tertulis, pimpinan masjid itu mengatakan bahwa spanduk itu ditujukan kepada umat Islam yang memberikan loyalitasnya kepada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang dianggap menista Alquran.

Sekitar 500 meter dari masjid ini, spanduk serupa juga dipasang di depan masjid Al-Ikhlas. Saya tidak berhasil menemui pimpinannya, tetapi berjumpa tiga orang warga setempat yang berkomentar berbeda.

Seorang ibu yang menolak disebutkan namanya mengatakan dirinya mendukung isi spanduk tersebut. "Boleh saja," katanya pendek.

Sementara seorang pria, Sulaiman, yang rumahnya tidak jauh dari masjid mengatakan, "Apakah spanduk itu bermasalah? Terserah bapak menafsirkan, kalau warga lain lagi (tafsirnya)."

Tetapi sikap berbeda diutarakan warga lainnya yang tidak mau menyebutkan namanya. "Ini urusan orang dengan agamanya. Enggak usah dicampuri." Di akhir wawancara, dia mengaku terganggu dengan isi spanduk tersebut.

Dewan Masjid Indonesia: Abaikan isi spanduk

Dimintai tanggapan atas isi spanduk dan sikap beberapa pimpinan masjid yang kemudian memasangnya, Dewan Masjid Indonesia dan Pemuda Muhammadiyah mengatakan ajakan tertebut tidak sesuai ajaran Islam dan terlalu mempolitisasi masjid.

"Abaikan saja (isi ajakan dalam spanduk). Yang mau salatkan (jenazah umat Islam yang mendukung Ahok), misalnya, tetangga atau saudaranya, jalankan (salat jenazah) saja," kata Wakil ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI), Masdar Farid Mas'udi, kepada BBC Indonesia, Minggu (26/02) petang.

Pernyataan di dalam spanduk tersebut, demikian Masdar, tidak tepat serta terlalu berlebihan. "Karena mensalatkan jenazah itu fardu kifayah."

Artinya, harus ada yang mensalatkan jenazah umat Islam tersebut kemudian menguburkannya. "Apabila itu tidak dilakukan, semua umat Islam akan berdosa," papar Masdar.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Wakil ketua Dewan Masjid Indonesia mengatakan tindakan pemasangan spanduk tersebut di depan masjid sebagai tindakan "terlalu mempolitisir masjid".

Masdar menilai tindakan pemasangan spanduk tersebut di depan masjid sebagai tindakan "terlalu mempolitisir masjid". "Soal agama jangan dikait-kaitkan dengan pilihan politik," tambahnya.

Ditanya kenapa DMI tidak memaksa agar spanduk itu dilepas dan diturunkan, Masdar mengatakan pihaknya tidak bisa memaksa. "Kami tidak bisa memaksa, tapi moral pada umumnya tidak sependapat dengan itu. Saya kira akal sehat juga menolaknya."

Sepengetahuannya, dalam sejarah kontemporer perjalanan masjid di Indonesia, ini adalah kasus pertama yang mengaitkan masjid dengan masalah politik secara "ekstrem".

Pemuda Muhammadiyah: Tidak sesuai fiqh Islam

Sementara itu, Ketua Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan ajakan pimpinan beberapa masjid itu tidak sesuai ajaran Islam.

"Tidak ada alasan untuk tidak mensalatkan seorang Muslim yang masih bersyahadat dan tidak melakukan syirik. Apalagi yang bersangkutan (umat Islam) hanya gara-gara beda pilihan secara politik," papar Dahnil kepada BBC Indonesia, Minggu malam.

"Jadi apa yang dilakukan (pengurus beberapa masjid dengan spanduk tersebut), di luar pemahaman fiqh Islam," kata Dahnil.

Secara fiqh, sambungnya, mensalatkan jenazah orang yang beragama Islam itu fardu kifayah. "Kalau saya meninggal, misalnya, ada yang mensholatkan, maka orang lain itu gugur kewajibannya."

Karena itulah, Dahnil menganggap apa yang dilakukan pengurus masjid itu "tidak perlu". "Jangan sampai hanya karena kontestasi politik, sampai melakukan hal seperti itu."

Dahnial menyarankan agar tokoh yang dihormati di kawasan masjid tersebut untuk berperan agar spanduk itu bisa diturunkan.

Dia menduga tindakan itu dilakukan beberapa pengurus masjid karena "emosional terhadap situasi politik."

Topik terkait

Berita terkait