Pelaku ledakan bom di Bandung beraksi karena 'terjepit'

Bom Bandung Hak atas foto AFP
Image caption Polisi saat meminta pelaku penyerangan bom di Bandung untuk menyerah dan keluar dari kantor kelurahan.

Ledakan bom yang terjadi di Bandung dinilai oleh pengamat lebih menunjukkan kelemahan sel terorisme yang 'terjepit' untuk melakukan aksi, terutama dilihat dari rendahnya kualitas bom yang digunakan dan sasaran yang terkesan tak direncanakan dengan baik.

Pengamat terorisme Universitas Indonesia, Ridwan Habib, menilai bahwa serangan yang dilakukan 'sangat amatir', terutama dari rangkaian bahan yang digunakan serta sasaran yang dituju 'menunjukkan kelompok ini semakin desparete (putus asa)' dan 'kehilangan orientasi penyerangan'.

"Sekarang kalau tujuannya untuk eksistensi pun, menyerang taman kosong juga sesuatu yang menurut saya agak aneh," kata Ridwan.

Selain itu, bahan bom yang digunakan, casing, serta detonator, berupa panci dan pupuk urea -menurut Ridwan- amat sederhana yang menunjukkan keterbatasan logistik.

"Kader mereka juga sudah semakin sedikit karena yang melakukan aksi justru orang lama, yang pernah terlibat pada 2010," ujar Ridwan lagi.

Belum lagi dari pilihan lokasi yang dinilai Ridwan sebagai tidak memiliki unsur simbolik, bukan markas polisi, bukan penjara, bukan Istana. Lokasi serangan dianggap tidak efektif dalam menunjukkan eksistensi kelompok teroris di dunia internasional.

"Seperti orang dikejar target waktu, harus segera menyerang, sementara persiapannya minim, dan orangnya juga minim," kata Ridwan lagi.

Jaringan pelaku masih diselidiki

Terhadap penilaian ini, juru bicara Polda Jabar, Kombes Yusri Yunus, masih belum memberikan tanggapan jelas. "Itu kan masih katanya, kita berdasarkan intelijen semua. Itu kan prediksi orang-orang saja," kata Yusri.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa tim Densus 88 bersama tim dari Polda Jabar masih mendalami keterlibatan pelaku dengan kelompok-kelompok lain, dan kelompok tempat pelaku bergabung.

Terkait tuntutan agar polisi membebebaskan teman-temannya yang berada di tahanan, menurut Yusri, muncul dari perkataan pelaku yang didengar oleh saksi mata dan bukan langsung dari pelaku, yang meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit.

Di Jakarta, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan kepada para wartawan bahwa satu pelaku yang tewas itu terkait dengan kelompok Jamaah Ansharut Daulah atau JAD di bawah pimpinan Maman Abdurahman, namun sel-sel kelompok ini dekat dengan Bahrun Naim.

Hak atas foto Polda Jabar
Image caption Bom dengan casing panci sederhana dinilai menunjukkan lemahnya sel pelaku serangan oleh pengamat.

"Kita belum melihat ada hubungannya dengan (rencangan kedatangan) Raja Salman," kata Kapolri Tito Karnavian kepada wartawan, Senin (27/02) di Jakarta.

Sejauh ini, menurutnya, kepolisian masih meyakini bahwa motif peledakan bom di Taman Pandawa di dekat Kantor Kelurahan Arjuna, Bandung, lebih didasarkan keterangan terduga pelaku.

Upaya pencegahan

Bagaimanapun Ridwan mengapresiasi respons polisi yang dinilainya cepat menghadapi laporan masyarakat terhadap kejadian bom meski menilai belum ada strategi yang berubah dalam upaya melakukan deradikalisasi di kalangan sel-sel teroris.

Ridwan mencontohkan bahwa upaya pencegahan dan pemantauan teror masih belum beranjak dari upaya pendekatan tokoh yang selama ini dinilainya 'terbukti tidak efektif'.

"Karena mantan-mantan napi justru menanggapi tokoh-tokoh eks pelaku terorisme yang melakukan pendekatan ke mereka itu thogut, atau bagian dari aparat atau Densus," kata Ridwan.

Oleh karena itu Ridwan menilai harus ada bentuk kerjasama baru di penjara-penjara, di mana pemerintah, melalui polisi atau BNPT, dengan menggunakan sel-sel yang identitas orang-orangnya benar-benar dirahasiakan agar bisa benar-benar masuk ke dalam jaringan dengan rapi dan baik.

Topik terkait

Berita terkait