Kasus Sri Rabitah: Pencurian organ tubuh TKI bukan yang pertama kalinya

Aksi buruh migran Hak atas foto Getty Images
Image caption Pencurian organ pada pekerja migran sudah terjadi setidaknya tiga kali sebelumnya.

Kasus dugaan pencurian ginjal yang menimpa TKI asal Lombok, NTT, Sri Rabitah, bukan yang pertama kalinya terjadi, menurut organisasi buruh migran MigrantCARE, dan karenanya harus menjadi titik balik bagi pemerintah Indonesia untuk mengusut lebih jauh kejahatan serupa yang menimpa TKI.

Menurut analis kebijakan Migrant CARE, Wahyu Susilo, model pencurian organ terhadap tenaga kerja asing, berdasarkan beberapa lembaga HAM internasional, sering terjadi di kawasan Asia Timur, terutama Cina.

Namun dalam kasus ini, papar Wahyu, belum bisa diambil kesimpulan apa pun.

"Kita tidak tahu apakah ini hanya motifnya untuk mengganti ginjalnya majikan atau memang diperdagangkan, ini yang saya kira memang harus diselidiki lebih lanjut," kara Wahyu.

"Saya belum berani mengatakan ini juga bagian dari kejahatan sindikat, tetapi makanya pemeirntah kita harus benar-benar berani, mumpung saksinya masih hidup, jadi bisa mengungkapkan ini tanpa tekanan," tambahnya.

Dalam catatan Migrant CARE, menurut Wahyu Susilo, setidaknya ada tiga kasus lain pada 1993, 2012, dan 2016 lalu.

Pada 1993, TKI yang menjadi korban kasus pencurian organ adalah Ati Wardiyati. Dalam kasus yang terjadi di Singapura itu, Ati Wardiyati dikirim ke Indonesia dalam keadaan sudah meninggal dunia. Dan ternyata jasadnya sudah tidak utuh: sebagian organ tubuhnya sudah diganti dengan tas plastik, kata Wahyu.

Pada tahun 2012, dalam catatan Migrant CARE, di Malaysia terjadi tiga kasus penembakan TKI asal Lombok yang berujung kematian. Dan saat diotopsi, ketiga jasad juga sudah kehilangan organ tubuhnya.

Herman, Abdul Kadir Jaelani, dan Mad Noon, dinyatakan tewas akibat tembakan aparat Malaysia yang menganggap mereka bermaksud menyerang aparat. Jasad ketiganya, kata Wahyu, dikirim dengan jahitan di dada, perut, serta mata.

Lalu pada 2016 lalu, jasad Dolfina Abuk, seorang TKI asal Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) pulang penuh dengan jahitan.

Namun dalam tiga kasus ini, penyelidikan dari pemerintah tak pernah tuntas, menurut Wahyu lagi.

"Kita tidak pernah punya preseden membongkar kasus tentang pencurian organ tubuh ini secara tuntas. Kasus Sri Rabithah ini harus dijadikan momentum untuk menyelidiki lebih jauh. Karena korbannya masih hidup," kata Wahyu.

Berdasarkan pengalamannya pada 2012, keluarga korban ditekan untuk lebih baik berdamai. Namun upaya Sri untuk menyampaikan kasusnya ke publik, dinilai Wahyu, "memberi ruang untuk membongkarnya,

"Bagaimanapun juga ini butuh keterlibatan mereka yang mengerti persis kasus ini, seperti ahli forensik atau ahli bedah dalam," ujarnya.

Sebelumnya, kepada wartawan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan bahwa kementeriannya, lewat tim Direktorat Perlindungan WNI, sedang menangani kasus Sri Rabitah yang diduga diambil ginjalnya saat bekerja di Qatar pada 2014.

BNP2TKI juga mengatakan bahwa mereka masih mengumpulkan bukti akan apa yang terjadi pada Sri Rabitah.

Sri sudah mengadukan kemungkinan pencurian ginjal kanannya pada Bupati Lombok Utara, kemarin.

Sri dioperasi pada hari ketiganya bekerja. Dari awalnya disebut sebagai hanya pemeriksaan medis, Sri dibawa ke ruamg operasi dan dibius. Dia terbangun dengan rasa sakit dan jahitan di pinggang kanannya.

Kondisi kesehatan Sri terus turun dan dia kembali ke Indonesia. Saat melakukan cek kesehatan pada sepekan lalu, Sri mendapati bahwa dia hanya memiliki satu ginjal saja.

Berita terkait