Malaysia pandang Siti Aisyah 'gadis naif polos korban Korut'

Siti Aisyah, Kim Jong Nam, Malaysia, Korea Utara Hak atas foto Reuters
Image caption Kepolisian Malaysia akan mendakwa resmi Siti Aisyah, dengan ancaman hukuman mati.

Warganegara Indonesia, Siti Aisyah, dan Doan Thi Huong dari Vietnam, terancam mati lewat hukuman gantung jika terbukti bersalah terkait pembunuhan Kim Jong-nam, kakak tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

Malaysia adalah satu dari beberapa negara di dunia yang menerapkan hukuman mati selain Indonesia dan Amerika Serikat.

Tetapi apakah eksekusi memang diterima masyarakat negara itu?

Paling tidak, sebagian terpidana mati di Malaysia terbukti bersalah melanggar hukum terkait penyalahgunaan obat terlarang, pembunuhan berencana maupun yang tidak direncanakan.

Dato' Manja Bin Ismail, redaktur pelaksana Televison Networks mengatakan masyarakat Malaysia tidak mempermasalahkan hukuman mati karena penduduk negara tersebut tergolog Muslim konservatif.

"Rata-rata masyarakat kami masih konservatif. Dari segi Islam-nya kebanyakannya penganut Islam dan dalam Islam dibolehkan kalau terbukti membunuh. Kalau bunuh itu hukumannya mati," tuturnya.

Bagaimanapun sebenarnya terdapat gerakan menentang hukuman mati meski tidaklah besar, kata Profesor Clive Kessle, pengamat sosial politik Malaysua, dari Universitas New South Wales, Australia.

Image caption Masyarakat Malaysia pada umumnya tidak mempermasalahkan hukuman mati.

"Sekarang terdapat gerakan di Malaysia oleh LSM sebagai bagian gerakan lebih luas di kawasan yang mendesak penghapusan hukuman mati atau paling tidak moratorium. Sebagian besar orang menerima hukuman mati karena sudah ada sejak kemerdekaan, zaman penjajahan, juga suatu hal yang umum sebelum masa penjajahan saat zaman kesultanan Melayu," kata pengamat yang tinggal di Malaysia dan Australia ini.

Korban yang naif

Di Malaysia, pada umumnya jika seseorang terbukti bersalah dan dikenakan hukuman mati, para terhukum akan menjalani penjara lima sampai delapan tahun sebelum eksekusi dilakukan.

Dan hal ini mungkin saja akan dialami Siti Aisyah asal Serang, Banten yang diberitakan mengira dirinya terlibat dalam acara TV untuk lucu-lucuan dengan melibatkan khalayak umum.

Laporan berbagai media Malaysia memandangnya sebagai orang naif yang menjadi korban rekayasa, seperti dikatakan Profesor Kessler.

"Perasaan pada umumnya adalah ini hanya gadis muda polos naif Indonesia yang dipakai orang-orang Korea Utara, yang bekerja untuk Korea Utara, yang melibatkannya ke dalam pembunuhan yang mereka lakukan. Jadi saya pikir muncul rasa simpati kepada Siti Aisyah," ujar Kessler.

Pada tahun 2016 terdapat 792.571 warganegara Indonesia yang tinggal dan bekerja di Malaysia. Mereka, termasuk Siti Aisyah dipandang sebagai bagian dari masyarakat negara itu.

"Di sini kita tidak membedakan masyarakat karena rakyat Indonesia sudah lama di sini. Kami menganggap sudah sebagian dari kami. Kasus Siti Aisyah ini semata-mata rakyat Indonesia. Itu saja. Mungkin saja rakyat Malaysia sendiri dijadikan salah seorang di sini," kata Dato' Manja Bin Ismail dari Televison Networks.

Hak atas foto AFP
Image caption Polisi di Malaysia mencari empat pria ini yang mereka yakini terlibat dalam serangan mematikan terhadap Kim Jong-nam.

Mata-mata Korea Utara

Desakan Pyongyang agar Malaysia mengembalikan jenazah Kim Jong-nam, kakak tiri penguasa Korea Utara, hanyalah salah satu topik yang ramai dibicarakan di media.

Manja Ismail mengatakan warga Malaysia terpukau dengan kegiatan mata-mata yang dilakukan di negaranya.

"Kebanyakan tidak perduli Siti Aisyah tapi lebih tertarik kepada kasus Korea Utara dengan cara pembunuhan, dengan intriknya, spy-nya. Itu lebih menarik perhatian masyarakat di sini. Hubungan diplomatik kami, di antara Korea Utara dengan Malaysia. Isyu yang terbaru saat ini adalah soal tuntutan kepada mayat," kata Ismail.

Banyak media melaporkan dengan rincian kasus pembunuhan dengan menggunakan zat saraf VX ini, di samping sikap Korea Utara dalam menyikapinya, seperti dikatakan Profesor Clive Kessler.

"Terdapat liputan yang sangat rinci atas semua aspek kejadian ini. Perasaan di pemerintahan dan juga masyarakat umum adalah tentang betapa lancangnya Korea melakukan hal ini kepada kita, betapa lancangnya mereka melakukan kejahatan di wilayah kami," kata pengamat Malaysia itu.

Siti Aisyah dan Doan Thi Huong rencananya akan dihadirkan di pengadilan Rabu (01/03) untuk mendengar dakwaan resmi atas mereka.

Topik terkait

Berita terkait