Lawatan Raja Salman: Dari 'skandal keuangan' ke makanan halal

Salman, Widodo Hak atas foto MI/PANCA SYURKANI/POOL
Image caption Raja Salman dan Presiden Joko Widodo menandatangani 11 nota kesepahaman di berbagai bidang seperti ekonomi, pendidikan dan sosial-budaya.

Kunjungan Raja Salman bin Abdul Aziz dari Arab Saudi ke beberapa negara Asia selama satu bulan mengundang berbagai reaksi, mulai dari Malaysia, Indonesia, Brunei, Jepang dan Cina.

Apakah itu tentang masalah yang tidak terselesaikan, kekaguman akan skalanya, kesulitan makanan halal sampai ke keuntungan bisnis.

Salman dan 1.500 delegasinya yang terdiri para 10 menteri, 25 pangeran dan pengusaha itu berada di Indonesia dari tanggal 1-9 Maret, setelah sebelumnya berada di Malaysia selama empat hari.

Hak atas foto AP/VINCENT THIAN
Image caption Dana hadiah dari Kerajaan Arab Saudi sekitar Rp8 triliun ke rekening pribadi PM Razak tidak diungkapkan.

'Skandal' PM Razak ditutupi

Kunjungan Raja Salman di Malaysia dipandang memberikan pengaruh positif karena memastikan kelanjutan proyek fasilitas pengilangan minyak dan petrokimia di Johor senilai Rp93 triliun yang sempat tertunda.

Selain itu muncul juga kepastian janji kenaikan kuota haji menjadi 30.000 orang bagi negara Asia Tenggara yang mayoritas warganya Muslim tersebut.

Tetapi salah satu masalah yang sebenarnya membayang-bayangi di Malaysia adalah skandal keuangan terkait dana hadiah dari Kerajaan Arab Saudi sekitar Rp8 triliun ke rekening pribadi Perdana Menteri, Najib Razak.

Dan tentu masalah itu tidak disinggung dalam lawatan ini, seperti dikatakan Jimadie Shah Otham, editor media oposisi, Malaysiakini.com.

"Rakyat Malaysia tentunya bertanya-tanya tentang dakwaan skandal melibatkan perdana menteri, yaitu penerimaan uang 2,6 billion Ringgit yang dimasukkan ke account perdana menteri."

"Sepanjang empat hari lawatan Saudi, perkara itu, kita tidak jelas. Seorang profesor dari sebuah universitas lokal melihat pertemuan Raja Salman dan Najib ini melihatkan hubungan baik dengan Saudi, dan sekaligus maksudnya menutup dakwaan," jelas Jimadie.

Saat masalah ini menjadi puncak pemberitaan di Malaysia, Kerajaan Arab Saudi sudah mengeluarkan pernyataan bahwa dana itu diberikan kepada Najib Razak untuk membantunya meraih kemenangan dalam pemilu 2013 lalu.

Hak atas foto Reuters
Image caption Saat di Bali, Raja Salman dan rombongan diperkirakan akan tinggal di hotel St. Regis, Hilton, Ritz-Carlton dan Laguna.

Mewah dan kaya

Di Indonesia cukup banyak pemberitaan tentang besarnya skala lawatan Raja Salman. Apakah itu tentang delegasi yang berjumlah 1.500 orang, tujuh pesawat berbadan lebar yang dipakai, pengamanan 10.000 personil ataupun hotel-hotel yang disiapkan saat liburan di Bali.

Tetapi kemewahan dan kekayaan kerajaan Timur Tengah ini diduga justru akan menimbulkan reaksi merugikan, kata Yahya Cholil Staquf, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

"Orang Indonesia akan melihat itu, akan cenderung negatif. Apalagi di Indonesia ini secara ekonomi mayoritas Muslim di Indonesia ini masih belum menikmati taraf ekonomi yang tinggi, sehingga mereka melihat ini raja yang kaya raya dan bermewah-mewah sementara di berbagai belahan dunia masih banyak orang-orang yang menderita," ujar Yahya Cholil Staquf.

Arab Saudi dan Indonesia telah menandatangani sejumlah kesepakatan senilai Rp93 triliun.

Salah satunya antara perusahaan minyak kedua negara -Pertamina dan Aramco- senilai Rp80 triliun pada kunjungan kerja selama tiga hari.

Usai urusan resmi di Jakarta, Raja Salman dan rombongannya akan berlibur ke Bali dari tanggal 4-9 Maret dan tinggal di hotel-hotel mewah: St. Regis, Hilton, Ritz-Carlton, dan Laguna.

Hak atas foto AFP
Image caption Ketersediaan makanan halal menjadikan Raja Salman dan rombongannya tidak akan lama di Cina.

Makanan halal

Di Cina, Raja Salman dijadwalkan akan bertemu Presiden Xi Jinping, Perdana Menteri Li Keqiang dan anggota Kongres Rakyat Nasional selain juga bertemu dengan perwakilan umat Muslim di Cina, yang jumlahnya sekitar 20 juta.

Dia diperkirakan juga akan salat di salah satu dari 64 masjid di Beijing, di ibu kota negara komunis yang tidak mengakui agama itu.

Tetapi kemungkinan Raja Salman tidak akan melakukan perjalanan liburan di Cina, seperti di Indonesia, dan aganya salah satu alasannya adalah makanan.

"Mungkin Raja Arab Saudi itu khawatir itu makanan. Karena di Indonesia di mana-mana ada makanan halal. Tetapi di Tiongkok mungkin ada juga banyak restoran halal, tetapi mungkin tidak sama dengan di Indonesia, " kata Xu Liping, peneliti masalah Indonesia di Beijing.

Hak atas foto AP
Image caption Jepang akan tertarik jika Arab Saudi dapat memberikan pasokan minyak berkesinambungan dengan harga bersaing.

Uang yang terpenting

Raja Salman dan delegasi juga akan mengunjungi Jepang pada lawatan di kawasan Asia. Sama seperti di Cina, mereka akan bertemu pihak pemerintah dan bisnis, seperti kamar dagang Keidanren.

Masih belum jelas apakah saham perusahaan minyak Saudi, Aramco, akan didaftarkan di pasar saham Tokyo atau tidak, seperti yang dilaporkan beberapa media.

Tetapi langkah penjualan 5% saja saham akan menghasilkan dana segar sekitar US$100 miliar, yang memang diperlukan negara yang mengalami anjloknya harga minyak dunia dari US$90/barel pada 2010 menjadi US$40-US$50/barel.

Memang bagi Jepang yang terpenting adalah keuntungan ekonomi, seperti dijelaskan Richard Susilo koresponden Tribun News Kompas di Tokyo.

"Jepang itu intinya adalah uang. Bisnis. Kalau dia bisa kasih pasokan minyak yang kontiniu, bukan hanya dari Arab -juga dari Indonesia, dari Malaysia, dari Australi dan sebagainya- minyak yang kontinu, dengan harga yang sangat bersaing, pasti dia akan beli."

"Tinggal masalahnya adalah sejauh mana dari political will antara kedua negara ini," tambah Richard Susilo.

Hak atas foto AFP
Image caption Pantai pesisir Perancis yang biasanya dipenuhi pengunjung, ditutup karena kunjungan Raja Salman.

Tagihan di Prancis

Pada bulan Agustus 2015, kunjungan Raja Salman dan 1.000 anggota rombongannya ke Prancis dipotong dari rencana semula selama tiga minggu, diduga karena muncul sejumlah protes terkait sebagian pantai umum Riviera yang ditutup demi privasi mereka.

Sejumlah media dunia juga melaporkan pihak Arab Saudi sempat menunggak pembayaran tagihan sebesar €3,7 juta atau Rp52 miliar.

Jadi apakah muncul masalah sejenis di Asia?

Richard Susilo, wartawan di Tokyo mengatakan tindakan itu seperti akan sulit dilakukan di Jepang mengingat pembayaran berbagai layanan harus dilakukan di depan.

"Kalau di Jepang itu saya rasa tidak mungkin terjadi karena pada awal kita masuk, biasanya sudah digesek dulu kartu kreditnya sebagai deposito. Sama seperti di Indonesia."

"Jadi kalaupun dia tidak bayar, kartu kredit itu akan di charge automatically oleh hotel dan akan masuk ke rekening hotel," jelas Richard di Tokyo.

Berita terkait