Bagaimana nasib anak-anak yang ditinggalkan ibu mereka menjadi TKI dan diasuh oleh kerabat?

Rus'an Hayyi Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Rus'an Hayyi menjawab pertanyaan-pertanyaan Ely Susiawati tentang cara-cara mendaftarkan diri program bidik misi untuk masuk ke perguruan tinggi.

Sebagian besar anak-anak buruh migran mengalami ketertinggalan secara akademik setelah diasuh oleh dua generasi lebih tua.

Paling tidak itulah yang terjadi di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Kabupaten itu tercatat sebagai pengirim tenaga kerja Indonesia (TKI) atau buruh migran terbesar di Indonesia. Data Kabupaten Lombok Timur menunjukkan terdapat 15.000 lebih buruh migran dari kabupaten itu pada 2016.

Menurut Kepala Sekolah SMAN Wanasaba, Rus'an Hayyi, di sekolah tersebut hampir 52% dari total siswa 470 adalah anak-anak TKI. Tidak semua orang tua mereka lantas mampu mengirim uang secara rutin dari luar negeri.

''Berbicara tentang prestasi, katakanlah sangat kurang karena keadaan di rumah tidak ada yang menjaga. Karena orang tua tidak mampu menjaganya sehingga prestasi belajarnya semakin anjlok, tetapi tidak semuanya. Ada satu atau dua yang menonjol," kata Rus'an.

Selain motivasi belajar di sekolah berkurang, Rus'an menilai ada hal lain yang berdampak pada anak-anak buruh migran. ''Dari segi psikologis sangat terganggu. Ketika di sekolah anak-anak itu minder. Kadang-kadang anak yang seperti itu masuk sekolahnya ya Senin-Kamis (tidak rutin).''

Nenek mengasuh cucu-cucu

Salah satu cara mengatasi persoalan, menurut Rus'an Hayyi, adalah memberikan perhatian khusus di sekolah dengan mengajak mereka mengobrol tentang apa saja sehingga diharapkan dapat memberikan rasa percaya diri.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Ely membantu neneknya, Nurhasanal, membuat persiapan sebelum memasak sayur.

Di antara sedikit siswa yang menonjol itu adalah Ely Susiawati, terlepas dari kondisi keluarganya.

Di sekolahnya, ia tercatat sebagai salah satu siswa berprestasi, mewakili sekolah dalam berbagai ajang kompetisi dan berharap dapat melanjutkan ke perguruan tinggi pilihannya di Jawa Tengah dalam bidang kedokteran.

Akan tetapi, ketika Ely di rumah, tidak ada teman berdiskusi tentang kemajuan pendidikannya atau tentang kemajuan teknologi yang dapat mendukung pendidikannya atau justru memberikan dampak negatif.

Situasi ini terjadi karena nenek Ely, Nurhasanal, yang mengasuhnya sejak Ely masih duduk di kelas 5 SD, tidak punya latar pendidikan dan tidak paham dengan perkembangan terkini.

"Positifnya kalau di sini, ninik mengajarkan kita 'cucuku kami ini harus ini caranya salat, caranya ngaji. Kamu harus jadi anak yang soleh. Walaupun kamu sudah sesusah ini, kamu harus pintar, harus cerdas'".

Ingin diasuh ibu

Meskipun tidak mampu mendukung dari segi pelajaran sekolah, hubungan nenek dan cucu tampak erat.

Nurhasanal (55) berperan sebagai nenek dan sekaligus sosok ibu bagi Ely setelah ibu kandungnya merantau ke Arab Saudi dan belum pernah pulang selama enam tahun terakhir ini. Adapun ayahnya sudah bercerai.

"Kalau dibilang ninik kayak orang tua, lebih dari orang tua atau setara dengan orang tua, walaupun batinnya memang ingin diasuh oleh ibu. Itu ingin banget. Tapi kenyataannya diasuh ninik tapi tak kalah caranya untuk mendidik.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sebagian anak-anak sekolah di Lombok Timur diasuh oleh kerabat dan bukan oleh orang tua mereka.

Selain Ely, Nurhasanal juga mengasuh dua adik Ely, termasuk adik bungsu yang ditinggal oleh ibunya sejak usia delapan bulan.

"Kita berusaha pinjam modal untuk membeli barang-barang dijual di pasar supaya dia dapat makan, semua cucu kita itu," kata Nurhasanal.

Setiap hari, ia berdagang buah-buahan di pasar Aikmal, Lombok Timur, dan hasilnya hanya cukup untuk keperluan makan.

"Ada kesulitan tapi kita pinjam uang kalau dia (Ely) minta uang untuk sekolah. Pinjam dulu kepada orang lain."

Sedangkan kiriman dari ibu Ely yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi tidak rutin.

"Sudah lama dia tak kirim terus. Dia lama di sana, belum berhasil kan. Apa yang dia kirim, tidak ada. Kita pinjam dulu."

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Mahyang mengasuh dua cucu yang masih bersekolah dasar, termasuk Erwin yang berdiri di belakangnya, dan seorang putrinya sendiri yang masih bersekolah di SMP.

Lain lagi nasib Erwin seorang siswa kelas 1 SD, dan kakaknya Pratama kelas 3 SD. Untuk urusan belajar di rumah mereka dibantu oleh bibi mereka yang baru duduk di bangku kelas 1 SMP. Ibu kandung kedua siswa SD itu merantau ke Arab Saudi sebagai pekerja domestik setelah suaminya menceraikannya.

Jadi mereka diasuh oleh nenek, Mahyang (47). Penghasilannya dari upah memotong cabai kering rata-rata hanya Rp20.000 per hari.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Mahyang tinggal di rumah gubuk bersama seorang putri dan dua cucunya.

Dengan penghasilan itu, warga Desa Lenek Lauk, Kabupaten Lombok Timur tersebut menghidupi dua cucunya dan anaknya sendiri.

''Cucu saya yang terakhir itu baru lima bulan ditinggal pergi ibunya, yang pertama umurnya sembilan tahun ketika ditinggal pergi ibunya. Ibunya pergi ke Arab Saudi mencari nafkah untuk anak-anaknya dan untuk saya juga,'' ujarnya.

''Kalau ada dikirimi, kalau tidak ada ya tidak dikirimi uang. Satu tahun cuma satu kali, kadang-kadang Rp3 juta, Rp2 juta untuk uang jajan anak-anaknya. Tapi saya bahagia melihat anak saya pergi mencari nafkah untuk cucu saya dan saya karena saya orang tidak punya.''

Ia mengakui kedua cucunya tidak terlalu antusias menempuh pendidikan dan biasa tidur awal di gubuk mereka di sebuah pinggir sungai kecil.

_________________________________________________________________________________________Tulisan ini adalah bagian dari seri 'Generasi tanpa asuhan ibu' di BBCIndonesia.com dan juga di Radio BBC Indonesia.

Topik terkait

Berita terkait