Mengapa ‘aneh’ mengharapkan Raja Salman bicara Islam moderat?

Salman Jokowi Hak atas foto Biro Pers Setpres

Pidato Raja Salman bin Abdul Aziz di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Kamis (02/03) tidak berbicara konkrit terkait ajakan untuk mengembangkan Islam yang moderat.

Namun seorang cendikiawan Islam memang menilai 'aneh' jika mengharapkan Raja Arab Saudi untuk berbicara Islam moderat.

"Itu harapan aneh, karena jelas tradisinya di sana Wahabi, yang jauh tertinggal dari yang kita miliki di Indonesia," ungkap cendikiawan muslim perempuan Lies Marcoes, kepada BBC Indonesia, Kamis (02/03).

Dalam pidato singkatnya di DPR, Raja Salman hanya mengutarakan, "Sesungguhnya tantangan yang kita hadapi khususnya bagi umat Islam dan dunia secara umum; seperti fenomena terorisme, benturan peradaban, tidak adanya penghormatan terhadap kedaulatan negara... (Ini) telah mengharuskan kita untuk menyatukan barisan dalam menghadapi tantangan ini."

Hal serupa terjadi saat Raja Salman bertemu sekitar 30 ulama di Istana Merdeka, sore harinya.

Pembicaraan hanya seputar ucapan terima kasih Presiden Jokowi atas kembalinya kuota haji Indonesia dan peluang pengembangan kerjasama pendidikan Islam dan kesehatan antar kedua negara.

Hak atas foto Biro Pers Setpres
Image caption Raja Salman bertemu sejumlah ulama Indonesia di Istana Merdeka.

Pernyataan bahwa Raja Salman akan berbicara tentang Islam moderat, pertama kali diutarakan Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah. "Intinya beliau (Raja Salman) akan mengulang kembali (pidatonya) tentang sifat moderat dari agama dan keharusan (umat Islam) bersifat moderat," ujar Fahri, Rabu (01/03).

Tapi menurut Lies, bagi seorang pimpinan Arab Saudi maka Islam moderat justru merupakan 'ancaman'.

"Karena dengan moderat, monarki akan goyah. Mereka tak akan beri ruang sedikit pun bagi kelompok yang berbeda dengan haluan mereka."

Hak atas foto Biro Pers Setpres
Image caption Dalam kunjungannya, Raja Salman dan Presiden Jokowi menandatangani 10 Nota Kesepahaman.

Indonesia moderat

Di tengah harapan sebagian masyarakat Indonesia terhadap Raja Salman sebagai 'duta' Islam moderat, Indonesia, di sisi lain sebenarnya merupakan negara yang penduduk Islamnya dinilai paling moderat.

"Karena di sini masyarakat sipil hidup, di sana (Arab Saudi) tidak ada sama sekali. Gerakan perempuan di sini hidup, di sana tidak ada sama sekali," tutur Lies.

Hak atas foto Biro Pers Setpres
Image caption Pemerintah Indonesia menganugerahkan bintang kehormatan Adipurna kepada Raja Salman.

Namun, dia memahami besarnya harapan terhadap Raja Arab untuk berbicara tentang Islam moderat karena semakin frustrasinya masyarakat dengan kondisi dunia yang dianggap 'semakin fundamentalis'.

"Mereka (masyarakat) berharap, barangkali Raja (Salman) bisa memerankan itu karena ia dianggap keras menolak ISIS."

Image caption Raja Salman dianggap keras menentang ISIS.

"(Ada salah persepsi) karena pemerintah kurang menjelaskan apa sebenarnya tujuan kunjungan ini. Tujuannya kan sebenarnya hanyalah bisnis dan investasi," tutur Lies.

Mengharap Iran?

Jika Arab Saudi dinilai bukan negara yang tepat untuk berbicara Islam moderat, lalu kepada negara mana masyarakat bisa berharap?

"Mesir. Karena karakternya mirip dengan Indonesia; republik, ada universitas, ada masyarakat sipil, intelektual muslim tumbuh di sana. Tapi Arab Spring tampaknya membawa Mesir ke arah berbeda."

Lies -lulusan IAIN Syarif Hidayatullah jurusan Perbandingan Agama- menilai dengan kondisi tidak stabil di Mesir maka harapan terhadap munculnya Islam moderat mungkin berasal dari Iran.

"Di Iran alam demokrasinya bertumbuh dan teruji," kata Lies Marcoes.

Hak atas foto Reuters
Image caption Turunnya Ahmadinejad dari jabatan presiden dinilai berlangsung demokratis.

"Presiden terdahulu Iran, Mahmoud Ahmadinejad bisa disebut berasal dari kelompok fundamentalis. Meskipun begitu, dia tak melahirkan kelompok radikal. Ketika (Ahmadinejad) diturunkan, bisa dengan proses demokrasi dan tidak melahirkan kelompok radikal."

Namun, menurut Lies sulit menjadikan Iran dan pimpinannya sebagai 'duta' Islam moderat bagi masyarakat Indonesia, karena Syiah-nya menjadi masalah di Indonesia.

Berita terkait