Lawatan Salman: Janji, MOU dan realisasinya

aramco, minyak, arab saudi, pertamina Hak atas foto AP
Image caption Kilang baru Cilacap akan memberikan pasokan 75.000 barel/hari dalam waktu dua tahun lagi.

Lawatan resmi Raja Salman bin Abdul Aziz dari Arab Saudi di Indonesia selama tiga hari telah berakhir pada tanggal 3 Maret, walau dia bersama rombongannya masih akan melanjutkan liburan ke Bali.

Sebelas Nota Kesepahaman (MoU) telah ditandangani, antara lain tentang investasi langsung perusahaan Saudi, Aramco, di kilang Cilacap, Jawa Tengah senilai Rp93 triliun. Kedua negara juga meneken Nota Kesepahaman tentang peningkatan kuota haji/umroh Indonesia.

Tapi apakah sejumlah MOU ini dipandang seusai harapan atau masih ada berbagai hal yang perlu diperbaiki?

Hak atas foto Reuters
Image caption Tangki minyak di markas Aramco yang sahamnya akan dijual di pasar dunia untuk mengatasi masalah ekonomi Arab Saudi.

Saling untung

Menjelang kedatangan Raja Salman, Sekretaris Kabinet, Pramono Anung sempat mengatakan MoU senilai US$25 miliar atau Rp333 triliun merupakan potensi investasi dalam lawatan raja Saudi dengan 1.500 delegasinya.

Sampai akhir acara resmi, kontrak yang paling besar ditandatangani adalah penanaman modal langsung Arab Saudi di tempat penyulingan minyak di Cilacap, Jawa Tengah senilai Rp93 triliun atau kurang sepertiga dari yang disebut pemerintah Indonesia sebelumnya.

Tetapi pengamat perminyakan, Kurtubi, tetap menyambut positif MOU tersebut karena menguntungkan kedua negara.

"Dari sisi Saudi Aramco. Pertama, sejak awal mereka memiliki pasar yang tetap di Indonesia, otomatis nanti setelah kapasitas kilang bertambah maka crude oil yang akan dijual ke Indonesia akan bertambah. Jadi efisien dari pihak Aramco karena tidak harus melewati pihak ketiga dan langsung ke use- nya yaitu Pertamina.

"Dan Pertamina juga diuntungkan karena ada kepastian pasokan minyak mentah untuk Indonesia karena jika menyangku kilang minya, maka crude oil harus tersedia dalam jangka panjang," tambah Kurtubi.

Kesepakatan sebenarnya sudah dicapai kedua pihak sejak bulan Desember 2016 dan pada tahun 2017 disain engineering dijadwalkan sudah selesai.

Pembangunan kilang baru, yang merupakan perbaikan atas kilang sudah ada akan memerlukan 6.000 tenaga kerja dan kelak akan mengurangi impor BBM Indonesia.

Saat ini kapasitas kilang Indonesia satu juta barel/hari dan yang efektif beroperasi sebesar 800 ribu barel/hari. Kilang baru akan memberikan tambahan 75.000 barel/hari dalam waktu dua tahun lagi.

Kehadiran Arab Saudi di Indonesia, menurut Jamhari Ma'ruf -peneliti pusat pengkajian Islam dan Masyarakat, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidatulah, Jakarta- juga didorong oleh kerajaan itu mencari penanaman modal lain menyusul perubahan di Amerika Serikat dan Eropa.

"Saudi ini sudah merasa juga bahwa tampaknya mereka harus menjadi alternatif investasi setelah Amerika kemungkinan akan menutup diri, ekonomi Eropa gunjang-ganjing terus dengan ke luarnya Inggris dari Uni Eropa."

"Tampaknya ada keinginan dari Arab Saudi untuk mencari alternatif investasi. Selama ini Saudi mengabaikan kedekatan kultural dari negara-negara Muslim," jelas Jamhari.

Hak atas foto AP
Image caption Sebagai pemegang kuota haji terbesar, Indonesia seharusnya mendapatkan posisi tawar yang lebih baik dari Arab Saudi.

Kuota naik, tapi...

Arab Saudi sudah meningkatkan kuota haji/umroh Indonesia menjadi 211.000 orang. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia merupakan penerima kuota haji/umroh terbesar dan sektor jasa seperti haji/umroh memang diperkirakan akan menggantikan posisi minyak sebagai penyumbang pemasukan terbesar kerajaan Timur Tengah ini.

"Sektor jasa, dalam hal ini pengelolaan umrah dan haji meningkat. Benar Arab memang terpukul. Ekonominya memang sulit. Selama ini kan di Arab Saudi, gaji pegawai negeri, beasiswa bagi mahasiswa dari seluruh dunia, sangat jor-joran," jelas Rusli Abdulah pengamat ekonomi dari INDEF ( (Institute of Development and Economics and Finance).

Hal tersebut, tegas kata Jamhari Ma'ruf dari UIN, seharusnya meningkatkan posisi tawar Indonesia dalam mendapatkan pelayanan yang lebih baik dari pengelola dua tempat suci Islam, Mekah dan Madinah.

"Selama ini daya tawar Indonesia cukup lemah. Tidak bisa membuat Arab Saudi bergeming dengan keadaan Indonesia. Bertahun-tahun kita complain tentang penginapan, tentang kualitas catering, bahkan tentang kuota, nampaknya tidak pernah mendapat respon yang baik dari Saudi. Umat Islam Indonesia harus mendapatkan bargaining position yang lebih tinggi untuk bisa menawar lebih baik dari Saudi," kata Jamhari.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sejumlah orang sempat ditangkap pada aksi membela TKI di depan kedubes Arab Saudi (2/3).

TKI

Selain pertemuan dengan berbagai pihak resmi dan liburan di Bali dari tanggal 4-9 Maret, lawatan Raja Salman ini juga diwarnai unjuk rasa puluhan orang yang menuntut perbaikan nasib Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Saudi.

Sejumlah laporan penyiksaan, pembunuhan dan perkosaan muncul selama bertahun-tahun dan pemerintah Indonesia dipandang kurang berusaha membantu warga yang diperkirakan menyumbangkan devisa sebesar US$8 miliar atau sekitar Rp100 triliun pada tahun 2014.

Apakah lawatan Raja Salman memberikan harapan yang lebih baik?

"Salah satu MOU-nya tentang perlindungan tenaga kerja Indonesia di Saudi. Sekarang saatnya bagi pemerintah Indonesia untuk mendesak perbaikannya seperti apa, perlindungannya seperti apa. Apakah mereka juga mendapat perlindungan hukum maupun perlindungan politik yang jelas di Saudi Arabia," kata Jamhari dari UIN Jakarta.

Berita terkait