Pawai Perempuan serukan ‘hapus kekerasan dan diskriminasi’ di Indonesia

perempuan Hak atas foto Hilman Hamdoni
Image caption Salah satu peserta Pawai Perempuan di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada Sabtu (04/03).

Seraya membawa aneka poster dan berpakaian cerah, sejumlah orang menggelar Pawai Perempuan atau Women's March di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada Sabtu (04/03) pagi.

Tuntutan para peserta pawai, sebagaimana lantang diteriakkan seorang orator, "agar tidak ada perempuan didiskriminasi, agar tidak ada lagi diskriminasi hanya karena orientasi seksualnya."

Kekerasan seksual yang menimpa perempuan juga menjadi sorotan dalam aksi yang diadakan untuk menyambut Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 8 Maret 2017.

Hak atas foto Hilman Hamdoni
Image caption Berdasarkan catatan tahunan Komnas Perempuan pada Februari lalu, kasus kekerasan terhadap perempuan pada 2015 mencapai 321.752 kasus, naik 9% dari 2014.
Hak atas foto Hilman Hamdoni
Image caption Jumlah kasus pembunuhan dan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan sudah dalam taraf "darurat" untuk ditangani, kata pegiat hak-hak perempuan.

Berdasarkan catatan tahunan Komnas Perempuan pada Februari lalu, kasus kekerasan terhadap perempuan pada 2015 mencapai 321.752 kasus, naik 9% dari 2014. Dari ratusan ribu kasus itu, bentuk kekerasan yang paling banyak dialami oleh perempuan adalah kekerasan fisik , yaitu 38%. Kekerasan seksual menempati urutan kedua dengan 3.325 kasus.

Perhitungan lain, sebagaimana disampaikan akun Menghitung Pembunuhan Perempuan di Facebook yang dibentuk oleh Kate Walton, aktivis dan penulis asal Australia, terdapat 193 kasus pembunuhan dengan korban perempuan sepanjang 2016.

Kate menyebut data itu menunjukkan situasi 'darurat kekerasan' terhadap perempuan.

Hak atas foto Hilman Hamdoni
Image caption Hanifah mengajak serta anak laki-lakinya "agar dia tahu perjuangan perempuan".
Hak atas foto Hilman Hamdoni
Image caption Sebagian peserta Pawai Perempuan.

'Agar tahu perjuangan perempuan'

Kondisi yang dialami perempuan Indonesia itulah yang mendorong para peserta pawai mengajak serta anak mereka, sebagaimana dilakukan Hanifah. Perempuan itu mengikuti pawai dengan membawa anak lelakinya yang berusia tujuh tahun.

"Agar dia tahu perjuangan perempuan," katanya kepada wartawan Hilman Handoni yang melaporkan untuk BBC Indonesia.

Hak atas foto Hilman Hamdoni
Image caption Sejumlah peserta datang dengan mengenakan busana daerah.

Sejumlah peserta pawai juga ingin mengingatkan bahwa rakyat Indonesia bisa berbuat lebih baik terhadap kaum perempuan.

"Berbicara feminisme itu sebenarnya bukan cuma Barat. Tapi di Indonesia juga punya nilai luhur dalam memuliakan perempuan," ujar Dea Safira Basori, pegiat Indonesia Feminis yang datang dengan memakai atribut pakaian daerah.

Hak atas foto Hilman Hamdoni
Image caption Beberapa pelajar sekolah menengah pertama ikut Pawai Perempuan dengan membawa pesan anti-perundungan.

Akan tetapi, ada pula peserta yang menggarisbawahi kekerasan tidak melulu melibatkan tindakan fisik.

Endah dan Intan, dua di antara kesembilan pelajar sekolah menengah pertama dari kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, mengaku perundungan atau bullying menjadi masalah yang dihadapi perempuan-perempuan di sekolah.

Mereka mengajak sesama pelajar untuk tidak merundung satu sama lain. "Ini hanyalah awal," demikian bunyi kalimat dalam salah satu poster yang mereka bawa.

Soal kekerasan terhadap perempuan, suara orator dalam pawai itu kembali terdengar. "Betapa banyak perempuan, buruh migran yang mengalami kekerasan di Arab Saudi, tapi luput dalam pembicaraan," pekiknya.

Hak atas foto Hilman Hamdoni
Image caption Sejumlah peserta mengecam perilaku kalangan yang justru menyalahkan dan menyudutkan perempuan dalam kasus-kasus kekerasan seksual.
Hak atas foto Hilman Hamdoni
Image caption Aksi Pawai Perempuan juga diikuti kaum LGBT.

'Laki-laki juga harus ikut'

Pawai Perempuan atau Women's March telah diikuti jutaan perempuan di seluruh dunia. Aksi bermula dari kota Washington DC, Amerika Serikat, sebagai bagian dari respons perempuan yang kecewa dengan berbagai kicauan Presiden AS Donald Trump yang dinilai seksis dan diskriminatif terhadap perempuan dan kelompok minoritas lain.

Tapi tuntutan aksi kemudian berkembang melebihi kecaman terhadap Presiden Trump.

Hak atas foto Hilman Hamdoni
Image caption Pawai Perempuan bermula dari kota Washington DC, Amerika Serikat, sebagai bagian dari respons perempuan yang kecewa dengan berbagai kicauan Presiden AS Donald Trump.

Dalam aksi di pusat Jakata, pada Sabtu (04/03), pihak penyelenggara yang terdiri dari puluhan lembaga perlindungan hak-hak asasi, mendesak Indonesia kembali ke toleransi dan keberadaan, menuntut pemerintah mengadakan infrastruktur hukum yang berkeadilan gender, mengajak pemerintah dan masyarakat memenuhi hak kesehatan perempuan dan menghapus kekerasan terhadap perempuan.

Ada pula desakan agar pemerintah membangun kebijakan publik yang pro-perempuan dan pro-kelompok marginal lain, termasuk perempuan difabel, serta menuntut pemerintah dan partai politik meningkatkan keterwakilan dan keterlibatan perempuan di bidang politik.

Hak atas foto Hilman Hamdoni
Image caption Komedian Ari Kriting mengatakan kaum laki-laki seharusnya ikut Pawai Perempuan.

Bagaimanapun, aksi ini tak hanya melibatkan perempuan.

Ari Kriting, seorang komedian tunggal, terlihat ikut dalam aksi ini. "Saya melakukan aksi ini untuk ibu saya, dan ibu-ibu di kawasan Timur Indonesia."

Menurutnya, laki-laki seharusnya ikut aksi ini. "Kita sering kok melakukan kekerasan terhadap perempuan. Kita godain perempuan, itu kan juga pelecehan," tutupnya.

Topik terkait

Berita terkait