Antara kemewahan Raja Salman dan kebersahajaan Presiden Jokowi

Salman Jokowi Hak atas foto BIRO PERS KEPRESIDENAN
Image caption Raja Salman dan Presiden Jokowi menjelang penandatanganan dfokumen.

Salah satu ironi dari kunjungan Raja Salman adalah dielu-elukannya sang raja dengan segala kemewahan dan kekuasaan mutlaknya, namun Presiden Jokowi yang bersahaja justru banyak dicemooh oleh sebagian kalangan, kata pengamat

Novriantoni Kahar, pakar Timur Tengah lulusan Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir menyebut, lawatan Raja Salman dengan 1500 anggota rombongan, tentu tidak akan dipermasalahkan di negerinya, yang merupakan monarki absolut.

"Namun ternyata, publik di Indonesia juga tak mempersoalkan rombongan yang jumlahnya spektakuler dengan segala fasilitas mewahnya itu. Malah banyak yang takjub, coba kalau Presiden Jokowi melawat dengan 500 delegasi, bisa jadi bulan-bulanan," kata Novriantoni.

"Saya tak tahu, mengapa banyak hal tentang Saudi dan raja Salman itu yang tak dipandang secara kritis. Mungkin karena rajanya dianggap sebagai khadimul haramain -pengabdi dua tanah suci, merupakan kiblat Islam," kata dia.

Di Indonesia yang menganut demokrasi, orang bebas menyampaikan kritik, berdemonstrasi, berdebat sengit tentang berbagai kebijakan, kata Novriantoni, "Sementara hal itu tak terjadi di Arab Saudi karena adalah negara monarki absolut, bukan demokrasi."

Dan sebagai masyarakat dari negara demokrasi, kata Novriantoni Kahar, "Aneh sekali kita mengagung-agungkan raja dengan segala kemewahannya dalam kunjungan ini, namun sebaliknya kita menghina-hina, kita perolok presiden kita yang bersahaja. Ini satu ironi dari kunjungan Raja Salman ini."

Raja Salman datang dengan 1500 orang anggota rombongan, termasuk sejumlah menteri dan pangeran, dengan dua pesawat Jumbo, lima besawat badan lebar, dan sebuah pesawat Hercules yang mengangkut ratusan ton peralatan. Pesawat Raja Salman bahkan dilengkapi fasilitas khusus: eskalator dan lift.

Hak atas foto BIRO PERS KEPRESIDENAN
Image caption Raja Salman melakukan kunjungan ke Jakarta dilanjutkan liburan ke Bali

Betapa pun, kata pengajar Universitas Paramadina ini, pertemuan dua tokoh dengan kontras tajam ini bisa memunculkan hasil positif.

"Presiden Jokowi memperlakukan Raja Salman dengan hormat, namun wajar. Tidak berlebihan: segalanya pantas, namun santai," jelas dia.

"Satu gestur yang sangat bagus adalah dalam mengajak Raja Salman menanam pohon. Presiden Jokowi mencangkul sendiri, kemudian memberikan cangkul kepada Raja Salman. Walaupun segalanya sudah disiapkan, jelas ini menunjukan suasana santai pemimpin suatu negara demokrasi, yang tak bisa dibayangkan terjadi di negara-negara monarki absolut.

Hak atas foto Biro pers Istana Presiden
Hak atas foto Biro pers

Sikap santai Jokowi dalam menerima Raja Salman, menurut Novriantoni , juga banyak dipuji dalam pemberitaan di media Arab Saudi.

"Misalnya bagaimana Presiden membuat video blog bersama Raja Salman saat makan. Ini dianggap oleh kalangan Islam konservatif Indonesia sebagai sesuatu yang kurang sopan, bahkan kurang beradab, namun di Arab Saudi malah dipuji-puji, sebagaimana tampak dari pemberitan media mereka," jelas Novriantoni.

Hak atas foto BIRO PERS KEPRESIDENAN
Image caption Raja Salman bertemu dengan para tokoh lintas agama, memunculkan kesepakatan tentang kehidupan kegamaan yang moderat.

"Media Saudi menyebut bagaimana Presiden Jokowi bisa begitu cair dengan protokoler, dan mereka memberitakannya dengan sangat positif."

Dengan gestur itu, kata Novriantoni, Presiden Jokowi menunjukan Indonesia adalah negara demokrasi besar berpenduduk mayoritas Islam yang dewasa, dan ingin hubungan setara dengan siapa pun termasuk Saudi.

Kita di satu sisi menghormati Raja Salman sebagai raja, sekaligus menunjukan bahwa Indonesia adalah negara yang plural, majemuk, toleran, dan juga kreatif.

Yang menjadi sorotan juga adalah pertemuan Raja Salman dengan para pemimpin agama.

Dalam kunjungannya, Raja Salman melakukan dua kali pertemuan. Yang pertama adalah pertemuan dengan para pemimpin lembaga-lembaga dan organisasi Islam. Disusul pertemuan dengan para tokoh dari berbagai agama, meliputi perwakilan Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dan Konghucu.

Pertemuan itu menekankan keprihatinan pada situasi dunia yang penuh permusuhan, berhadapan dengan ancaman terorisme dari waktu ke waktu, dan memunculkan perlunya sikap keagamaan yang moderat.

"Ini langkah yang patut kita sambut dari Raja Salman, kendati memunculkan suatu paradoks" kata Novriantoni.

"Paradoksna, si satu sisi kita melihat raja membuka diri, bersalaman dengan perempuan, tak keberatan melakukan selfie, berrtemu para tokoh lintas agama, dll. Di sisi lain, Arab saudi membiarkan, atau mungkin mendorong bentuk Islam yang ultra konservatif berkembang di belahan dunia muslim lain, dalam rangka hegemoni Saudi di bidang sosial dan keagamaan."

Hak atas foto Biro Pers Istana Presiden
Image caption Pertemuan para pemimpin dan tokoh Islam dengan Raja Salman

Betapa pun, Novriantoni menganggap kunjungan Raja Saudi ke Indonesia setelah hampir setengah abad ini, dengan segala paradoksnya, memberikan isyarat dan pesan yang cocok dengan tantangan Indonesia dan dunia yang diguncang radikalisme dan intoleransi.

"Dalam pidato-pidatonya Raja Salman mengatakan bahwa Saudi mengajak memelihara kedaulatan negara, memerangi intoleransi dan radikalisme serta terorisme. Ia juga eksplisit menyatakan penghargaan terhadap keberagaman Indonesia."

Pernyataan-pernyataan Raja Salman, serta pertemuannya dengan para tokoh lintas agama, menurut Novriantoni, memberikan isyarat yang positif, "dan di sisi lain tidak terlalu menyenangkan bagi kaum radikal di Indonesia, yang awalnya berharap mendapat tambahan semangat dari kunjungan Raja Salman ini."

Hak atas foto Biro pers

Namun apakah dengan kunjungan Raja Salman ini Saudi bisa mendapat inspirasi dari keberagaman budaya, toleransi dan demokrasi Indonesia?

"Kalau ini, terlalu berat bagi Saudi," ujar Novrianoni.

"Keluarga kerajaan sendiri mulai menerapkan kebijakan-kebijakan yang lebih longgar secara sosial. Tapi Saudi itu suatu negara monarki absolut, dengan tradisi Islam yang ultra konservatif. Jadi suatu keadaan demokrasi di Arab Saudi tidak bisa terlalu diharapkan terjadi dalam waktu dekat," kata Novriantoni.

Berita terkait