Mengunjungi rumah aman bagi 'anak oleh-oleh' TKI

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Anak-anak TKI yang lahir di luar negeri, pulang dengan stigma anak 'oleh-oleh'.

Sela ingin sekali membawa putranya, Hanif, ke desanya di Sumba Timur. Akan tetapi kehadiran putra pertama kelahiran Makau sembilan bulan lalu itu tidak bisa diterima oleh ayah Sela.

"Ibu saya tidak apa-apa. Ibu saya justru bilang tidak boleh untuk membunuh anak saya. Kakak pertama juga tahu. Cuma yang sangat keras itu dari keluarga bapak, sama sekali tidak menerima," tutur Sela.

Hanif (bukan nama sebenarnya) adalah anak Sela hasil hubungan di luar nikah dengan seorang pria warga negara India yang sama-sama bekerja di Makau.

"Waktu saya hamil lima bulan, saya kasih tahu cowok saya, terus dia tidak mau. Dia suruh saya membuang anaknya. Saya tidak mau, habis itu berantem. Saya dipukul, perut saya ditendang. Saya kabur ke rumah teman," kata Sela yang sempat menolak diwawancara di Makau oleh media ketika kasusnya mencuat tahun lalu.

Atas bantuan Mohamad Kholili, pemilik rumah aman Migrant Aid Indonesia di Jember, Jawa Timur, Sela berhasil membawa pulang anaknya ke Indonesia dan menempati rumah aman itu.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sela hendak mencari kerja di Hong Kong dan menitipkan anaknya di rumah Mohamad Kholili.

Di sana, Sela berencana meninggalkan Hanif untuk sementara dan pergi mencari kerja ke Hong Kong. Ia tidak mau anaknya diadopsi orang lain.

"Buat saya (anak) sangat berarti. Sangat berarti, segalanya buat saya. Dulu pun diminta orang untuk adopsi saya tidak mau. Disuruh menggugurkan, dibayar uang HK$50.000 (sekitar Rp85 juta), saya tidak mau."

Lingkup keluarga

Ketika BBC berkunjung ke rumah aman itu, selain Hanif yang masih disusui oleh Sela, terdapat satu anak lagi, Avi (7). Avi dilahirkan seorang ibu dari sebuah kota di Jawa Tengah dan berayah orang Nepal. Keluarga besar Avi disebutkan belum bersedia menerimanya sehingga ia dititipkan di rumah aman.

Beberapa hari setelah kunjungan BBC, datanglah seorang ibu bersama bayinya dari Hong Kong. Adapun sebelumnya sudah ada puluhan anak yang akhirnya diterima oleh keluarga besar mereka sejak rumah aman itu dibuka pada 2007 lalu.

Penelitian Yayasan Tunas Alam Indonesia (Santai) tahun 2015 di Lombok Timur mengungkap anak-anak yang kelahirannya tidak direncanakan atau bahkan tidak diinginkan di kalangan buruh migran atau TKI kerap mendapat pelecehan dan diberi label-label seperti 'anak oleh-oleh' dan 'anak unta'.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Rumah pribadi Mohamad Kholili merangkap fungsi sebagai rumah penitipan anak dari para TKI.

Oleh karena itu, rumah aman ini, menurut Mohamad Kholili, bertujuan untuk mencegah perisakan terhadap anak dan sekaligus tetap menjaga pertalian antara anak dan ibu sampai keluarga besarnya bisa menerima anak tersebut.

"Anak yang lahir tidak diinginkan atau tidak direncanakan itu menemukan sesuatu yang normal seperti anak-anak yang lain sehingga kalau dia butuh bapak maka ikon itu bisa ditemukan.

"Di sini kita tolak adopsi itu dengan catatan bahwa sepanjang ibu itu masih punya kemauan maka anaknya dititipkan saja di sini. Karena dia mau tak mau harus kembali ke negara tujuan di mana ia bekerja untuk mencari peningkatan ekonomi," kata Mohamad Kholili.

Sosok yang biasa dipanggil Cak Kholili itu juga mempunyai dua orang anak. Ia dipanggil abah baik oleh anak-anaknya sendiri maupun oleh anak-anak asuhnya.

"Anak-anak ini sama seperti anak-anak saya, harus diterima seperti anak saya. Kalau orang tua saya menganggap mereka seperti cucunya sendiri. Setiap mereka pergi (diambil keluarga) kepergian mereka pasti ditangisi."

Kedekatan itu tampak dari interaksi dan aktivitas anak-anak tersebut. Mereka tampak bermain akrab, menyantap makanan yang sama, melakukan ibadah bersama. Di sini tampak pula toleransi di bawah satu atap. Sela beragama Kristen, sedangkan keluarga Kholili adalah Muslim yang taat.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Avi sempat diasuh oleh ibunya sendiri di kampungnya selama tiga bulan tetapi keluarga besarnya disebut tidak bersedia menerimanya.

Para tetangga diundang untuk menghadiri acara akikah untuk menandai kelahiran seorang bayi dengan menggelar doa dan menyembelih kambing.

Manusiawi

Seorang tetangga menuturkan ia sekarang paham dan menghargai apa yang dilakukan oleh Mohamad Kholili meskipun sebelumnya sempat terganggu karena ada anak asuh yang nakal.

Ketua Umum Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Arist Merdeka Sirait mengatakan rumah aman bagi anak-anak TKI itu patut diapresiasi.

"Saya kira itu adalah satu langkah yang manusiawi karena melihat anak itu harus dilindungi sebab anak adalah amanah dan anugerah Tuhan. Jadi apa yang dilakukan oleh teman di Jawa Timur harus diapresiasi.

"Ini adalah inisiatif dari masyarakat karena melihat anak itu sebagai korban, anak itu tidak bersalah, anak itu harus dibesarkan, anak itu harus mendapatkan hak yang sama dengan yang lain," terang Arist Merdeka Sirait dalam wawancara telepon dengan wartawan BBC, Rohmatin Bonasir pada Jumat (10/03).

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Lili menitipkan anak kepada seorang pengasuh di Batam yang bisa ditempuh dengan kapal laut selama dua jam perjalanan.

Di negara tetangga Indonesia, Malaysia, salah satu tujuan populer bagi TKI, seorang ibu, Lili (nama samaran), tengah bimbang. Semula ia menitipkan bayinya kepada seorang pengasuh di Batam dengan alasan ia bisa sering mengunjungi anaknya dari hasil hubungan di luar nikah itu karena jarak Batam dengan Johor dekat.

"Saya bisa menengoknya setiap dua minggu sekali karena hanya perlu perjalanan sekitar dua jam."

Belakangan ia tahu gajinya sebagai pekerja serabutan di Johor habis untuk membayar jasa pengasuh di Batam. Dan untuk menitipkan anaknya di kampung halaman, aku Lili, tidak mungkin sebab ia punya suami. Kini ia berpikir untuk menitipkan anaknya di rumah aman yang dijalankan oleh Mohamad Kholili di Jember.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Mohamad Kholili membimbing putranya dan anak asuhnya berdoa.

Namun apakah rumah aman ini efektif menjadi semacam jembatan bagi anak-anak yang kelahirannya tidak direncanakan atau bahkan tidak diinginkan dengan keluarga besar mereka? Atau mungkin justru menjadi pembenaran bagi sebagian TKI untuk tidak 'berhati-hati'?

"Terlepas dari aspek 'kenakalannya orang tuanya', tetapi hak anak itu penting kita penuhi. Model seperti ini, menurut saya, lebih bagus daripada dititipkan kepada orang yang tidak paham tentang pendidikan anak," tegasnya.

Sebelum menjalankan rumah aman bagi anak-anak buruh migran yang kelahirannya tidak direncanakan atau tidak diinginkan, Kholili dikenal sebagai pendiri Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI).

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Avi gemar memelihara ayam yang jumlahnya puluhan di kandang di samping rumah aman yang menjadi tempat tinggalnya selama ini.

Biaya pengurusan anak disumbang oleh ibu mereka semampunya. Jika ibu-ibu mereka tidak bisa mengirim uang, maka salah seorang tokoh NU di Jember itu mengaku menggunakan dana pribadi untuk mengurus anak-anak asuh.

Ia bekerja sebagai konsultan sebuah lembaga di Hong Kong dan gaji dari lembaga itu ia gunakan untuk keperluan mereka. Adapun istrinya bekerja sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi di Jember.

Namun kehadiran anak-anak dari berbagai latar belakang itu bukannya tanpa masalah. Avi sekarang mendapat pendidikan di rumah, setelah di kelas 1 SD identitas dan latar belakangnya mulai diusik oleh pihak sekolah. Avi mengaku senang belajar di rumah dan bermain dengan anak-anak tetangga.

Jika sekarang Avi dan Hanif masih ada yang melindungi, tidak jelas bagaimana nasib mereka jika suatu hari kelak keluarga besarnya siap menerima anak-anak itu.

_________________________________________________________________________________________

Tulisan ini adalah bagian dari seri 'Generasi tanpa asuhan ibu' di BBCIndonesia.com dan juga di Radio BBC Indonesia.

Topik terkait

Berita terkait