Berapa banyak anak-anak dilibatkan dalam jaringan teror?

Gereja Samarinda Hak atas foto FIRMAN / AFP
Image caption Polisi berjaga di depan Gereja Oikumene Samarinda, Kalimantan Timur, setelah pelemparan bom molotov. Salah seorang tersangka pelaku mengajak anaknya.

Perekrutan anak-anak ke dalam jaringan terorisme, menurut pengamat, belum meluas karena masih di lingkup keluarga terduga ataupun terpidana kasus terorisme. Meski begitu, pencegahan harus dilakukan melalui fatwa ulama.

Pengamat terorisme Al Chaidar mengatakan keterlibatan anak-anak dalam kasus terorisme terjadi karena kelompok tersebut sulit untuk menarik anggota baru, sehingga merekrut anggota keluarga mereka sendiri yang masih dibawa umur.

"Karena memang orang tuanya sudah kehilangan sumber daya untuk menarik dari jemaah yang lain, jadi mereka sudah mempergunakan sumber daya rumah sendiri, dan seharusnya itu tak perlu dilakukan," jelas Al Chaidar.

Tetapi di sisi lain, menurut dia, pelibatan anak-anak itu juga karena mereka ingin mengajak anak-anaknya mengikuti jihad.

"Mereka ingin mengajak anak-anak itu karena kepercayaan mereka, ikut di dalam usaha membantu orang tuanya dalam upaya membawa keluarganya ke dalam surga. Ada kepercayaan psikologis yang sangat kuat, kalau ada keterlibatan anak-anak itu akan lebih bagus lagi," jelas Al Chaidar.

Dugaan keterlibatan anak-anak dalam jaringan teror, disampaikan oleh Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli pada Senin (13/03) lalu. Dia mengatakan dua dari sembilan terduga teroris yang ditangkap di dua lokasi di Kabupaten Toli-Toli dan Kabupaten Parigi, Sulawesi Tengah, merupakan anak-anak.

Boy menduga sembilan orang yang ditangkap ini terkait dengan kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS, dan masih diperiksa oleh kepolisian. Sesuai dengan aturan, kepolisian memiliki waktu kurang dari tujuh hari, untuk memeriksa terduga pelaku terorisme sebelum memutuskan untuk ditetapkan sebagai tersangka atau melepasnya.

Hak atas foto Polda Metro Jaya
Image caption Olah TKP oleh tim gabungan kepolisian, di rumah kos di Bekasi beberapa waktu lalu tempat ditemukannnya bom yang melibatkan seorang perempuan.

Pelibatan anak-anak dalam aksi teror ini juga pernah dilakukan sebelumnya. Pimpinan kelompok Jemaah Ansharut Daulah (JAD) Samarinda yaitu JS mengajak anaknya, GA, ketika melempar bom molotov ke halaman Gereja Oikumene Sengkotek Samarinda, Kalimantan Timur. Dalam kasus ini, kepolisian menetapkan serorang orang anak lainnya sebagai tersangka.

Menurut kepolisian, kasus pelibatan anak-anak dalam aksi teror ini baru yang pertama sampai ke pengadilan.

Pencegahan lewat fatwa

Meski pelibatan anak-anak ini masih 'terbatas' di kalangan keluarga terduga pelaku teror, menurut Al Chaidar, kini harus dilakukan pencegahan agar tidak meluas.

Upaya pencegahan, menurut dia, dapat dilakukan dengan melibatkan ulama atau fatwa untuk mengharamkan pelibatan anak-anak dalam jaringan terorisme oleh Majelis Ulama Indonesia.

"Artinya MUI harus terlibat dalam pelibatan anak-anak itu, karena jelas ayat-ayatnya melarang kan. Memang tidak ada jaminan 100% efektif, kita harus mengajak pemimpinnya yaitu Ustad Aman Abdurahman untuk bersama-sama mengeluarkan keputusan atau fatwa yang menyatakan jihad tak boleh melibatkan anak-anak tapi itu akan sulit, " jelas Al Chaidar.

Hak atas foto Polisi
Image caption 'Surat wasiat 'yang ditulis Dian Yulia Novita, perempuan yang ditangkap di Bekasi tahun lalu sebelum melancarkan dugaan aksi teror, untuk dikirim kepada orang tuanya.

Pelibatan keluarga terdekat termasuk anak-anak menunjukkan pengaruh kelompok teror melemah. Al Chaidar menilai jaringan terorisme di Indonesia tak lagi memiliki kekuatan teknologi, modal, dan keterampilan.

"Dan expertise tidak ada kemampuan itu jadi mereka memanfaatkan sumber daya yang ada di sekililing mereka termasuk anak-anaknya itu yang disayangkan," kata dia.

Topik terkait

Berita terkait