RI tuntut pertanggungjawaban perusak terumbu karang di Raja Ampat

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Sebuah kapal Inggris merusak ribuan meter terumbu karang

Pemerintah Indonesia membuka kemungkinan untuk menerapkan langkah hukum terhadap Kapten MV Caledonian Sky, Keith Michael Taylor, dan perusahaan Noble Caledonia, atas insiden kerusakan terumbu karang di Raja Ampat, Provinsi Papua Barat.

Menurut Djoko Hartoyo dari Biro Informasi dan Hukum di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, pemerintah telah membentuk sebuah tim yang terdiri dari berbagai kementerian dan lembaga terkait.

Ada tiga tugas pokok gugus tugas tersebut yakni menangani aspek hukum baik perdata maupun pidana termasuk Mutual Legal Assistance (bantuan timbal balik) maupun upaya ekstradisi bila diperlukan.

Hak atas foto Stay Raja Ampat
Image caption MV Caledonian Sky saat berlayar di Raja Ampat.

Kedua, tim ini juga bertugas untuk melakukan penghitungan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh kandasnya kapal MV Caledonian Sky, keselamatan navigasi dan hal-hal terkait lainnya.

Deputi Koordinasi Bidang Kedaulatan Maritim Kemenko Kemaritiman Arif Havas Oegroseno menegaskan pemerintah siap menempuh segala cara agar pemilik kapal MV Caledonian Sky bersedia bertanggung jawab.

"Kita siap untuk mengambil segala langkah yang diperlukan agar masyarakat tidak dirugikan dan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh MV Caledonian Sky bisa segera diatasi," ujarnya sesaat setelah melakukan rapat koordinasi di Kantor Kemenko Kemaritiman, Senin (13/3).

Berdasarkan UU 32/2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, perusakan kekayaan alam seperti terumbu karang, lahan gambut dan hutan merupakan tindakan kriminal yang ancaman hukumannya adalah pidana penjara. Oleh karena itu, kendati perusahaan asuransi bersedia untuk membayar kerusakan lingkungannya, namun hal tersebut tidak dapat menghilangkan aspek pidananya.

Kandas di terumbu karang

Insiden kandasnya MV Caledonian Sky di perairan Raja Ampat, Provinsi Papua Barat, membuat warga setempat, yang mengandalkan wisata menyelam, sedih dan khawatir.

"Saya lahir di sini. Saya menangis ketika saya melihat kerusakannya. Kerusakannya besar dan parah. Perlu 10 tahun sampai 100 tahun untuk memperbaikinya," ujar Ruben Sauyai.

Pria berusia 30 tahun yang berprofesi sebagai instruktur menyelam profesional ini mengelola rumah penginapan dan tempat penyewaan alat menyelam di Raja Ampat.

"Beberapa orang bekerja sebagai nelayan dan petani, tapi kebanyakan bekerja di sektor pariwisata," kata Sauyai, yang mengelola pusat penyelaman enam tahun lalu.

Hak atas foto Ruben Sauyai
Image caption Terumbu karang yang rusak di Raja Ampat.

Puluhan ribu orang telah mengunjungi keindahan bawah laut di Raja Ampat dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, kerusakan parah baru terjadi ketika MV Caledonian Sky yang berbobot 4.290 ton kandas di atas sekumpulan terumbu karang usai mengamati keanekaragaman burung pada siang hari tanggal 4 Maret 2017. Saat itu, laut sedang surut.

Kementerian Koordinasi Bidang Kemaritiman memperkirakan kapal tersebut menghancurkan terumbu karang seluas 1.600 meter persegi.

Beragam rekaman video yang diabadikan sejumlah penyelam menunjukkan terumbu karang dihantam badan kapal.

Noble Caledonia selaku pemilik MV Caledonian Sky mengatakan insiden itu "disayangkan". Lebih lanjut, perusahaan tersebut "berkomitmen kuat untuk melindungi lingkungan" serta menyokong penuh investigasi.

Hak atas foto Ruben Sauyai
Image caption Kerusakan terumbu karang diperkirakan mencapai 1.600 meter persegi.

Ricardo Tapilatu, kepala Pusat Riset Sumber Daya Kelautan Pasifik di Universitas Negeri Papua terlibat dalam tim evaluasi resmi. Dia mengatakan kapal tersebut terjebak saat laut surut meski dilengkapi peralatan GPS dan radar.

"Kapal tunda dari Kota Sorong dikerahkan untuk membantu kapal pesiar itu kembali mengapung. Seharusnya itu tidak dilakukan karena akan merusak terumbu karang lebih parah. Mereka seharusnya menunggu laut pasang," kata Tapilatu kepada laman Mongabay.

Ricardo meyakini perusahaan Noble Caledonia harus membayar kompensasi sebesar US$1,28 juta hingga US$1,92 juta untuk memulihkan kondisi Raja Ampat.

Media sosial

Insiden itu telah memicu kemarahan publik Indonesia di media sosial

"Ini tidak bisa diterima! Apa mereka tahu berapa lama terumbu karang untuk bisa tumbuhApa Anda sudah lihat kerusakannya?" ujar Feby Riani, salah seorang pengguna Facebook.

"Ini Raja Ampat..salah satu daerah dengan terumbu karang paling indah di dunia ," tambahnya.

Hak atas foto AFP
Image caption Raja Ampat dianggap sebagai perairan dengan keragaman hayati kelautan yang penting di dunia.

Sebuah petisi daring telah diluncurkan berisi desakan agar Noble Caledonia tidak hanya memberi kompensasi berupa uang, tapi juga memperbaiki kerusakan terumbu karang.

Kapal itu sendiri telah berlayar dan Noble Caledonia menyatakan "lambung kapal tidak rusak dan tetap utuh".

Di lain pihak, Laura Rest dari persatuan rumah penginapan di Raja Ampat, mengaku para pengusaha dan warga Raja Ampat amat bersedih

"Terumbu karang adalah hal utama yang menarik banyak wisatawan ke sini. Ini kontraproduktif dengan prospek wisata," ujarnya.

Sejak insiden kapal, Ruben Sauyai menghindar membawa wisatawan ke lokasi yang rusak karena keindahan alam di sana telah "tiada".

"Kami sudah lama mencoba merawat terumbu karang itu dan hilang semua hanya dalam hitungan jam. Saya begitu sedih dan malu membawa wisatawan ke sana," ujarnya.

Topik terkait

Berita terkait