KBRI di Kuala Lumpur dampingi WNI 'anggota ISIS'

isis Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Pendukung kelompok ISIS mengiringi pemberangkatan jenazah rekannya ke tempat pemakaman di Polokarto, Solo, Maret 2016 lalu.

Pemerintah Indonesia melalui kedutaan besar di Kuala Lumpur, Malaysia, terus mendampingi seorang WNI yang ditangkap kepolisian Malaysia karena dituduh terlibat tindak terorisme di Malaysia dan disebut anggota kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, mengatakan KBRI di Kuala Lumpur telah mendampingi pria tersebut dan menunjuk seorang pengacara asal Malaysia sebagai kuasa hukumnya.

"Kita lihat di persidangan, sejauh mana bisa dibuktikan bahwa yang bersangkutan memang benar berencana untuk melakukan teror di Malaysia," kata Arrmanatha dalam jumpa pers, Rabu (15/03) siang, seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan.

Keterangan resmi Kepolisian Indonesia menyebutkan pria itu berinisial A (27 tahun) asal Pandeglang, Provinsi Banten, dan ditangkap oleh Kepolisian Malaysia pada 21 Februari lalu.

Kepolisian Malaysia mengatakan A melakukan kontak melalui media sosial dengan seorang warga Malaysia yang diduga anggota ISIS. Dia disebutkan berencana berangkat ke Suriah melalui Malaysia pada 22 Februari 2017.

"Yang bersangkutan berangkat dari Jakarta tanggal 18 Februari dan bermaksud ke Suriah dengan transit di Malaysia," ungkap Arrmanatha.

Dikirimi uang Rp 3 juta

Menurut polisi, perjalanan A ke Malaysia dibiayai oleh seseorang yang diduga kelompok militan ISIS di Malaysia.

"Dia dikirimi uang sekitar Rp3 juta dan diduga diiming-imingi fasilitas tempat tinggal ketika tiba di Suriah oleh terduga anggota ISIS," kata Kabag Penum Mabes Polri Kombes Martinus, pekan lalu.

Kepada wartawan di Bandung, pekan lalu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian juga membenarkan bahwa terduga asal Indonesia itu "bergabung dengan kelompok di Malaysia".

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Juru bicara Kemenlu Arrmanatha Nasir mengatakan KBRI di Kuala Lumpur telah mendampingi WNI tersebut dan menunjuk seorang pengacara asal Malaysia.

Tanpa menjelaskan latar belakang kelompok tersebut, Tito mengatakan, "Koneksi antara kelompok-kelompok di Indonesia dengan di Malaysia sudah biasa dan sudah lama sekali."

Kapolri Tito Karnavian mengatakan pihaknya telah menjalin komunikasi dan koordinasi dengan kepolisian Malaysia terkait kasus ini.

Kapolri kemudian mencontohkan hubungan kelompok Indonesia-Malaysia sudah berlangsung semenjak kelahiran dan keberadaan kelompok teroris Jamaah Islamiyah dan DII/TII.

"Pada saat mereka (DI/TII) diserang, ditekan, mereka larinya ke Sabah, Serawak. Pada saat zaman Jamaah Islamiyah, juga larinya ke Malaysia," ungkapnya.

"Pelaku dari Malaysia juga larinya ke sini (Indonesia)," tambah Kapolri seraya menyebut keberadaan tokoh Jamaah Islamiyah asal Malaysia seperti Azahari dan Noordin M Top, dua warga Malaysia, yang 'lari' ke Indonesia.

Keduanya tewas dalam operasi antiteror polisi.

Topik terkait

Berita terkait