Aksi mengecor kaki dengan semen dan berbagai 'protes ekstrem' lain

Kendeng Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Patmi merupakan salah seorang petani perempuan yang sempat mengikuti aksi mengecor kaki dengan semen, meninggal akibat serangan jantung.

Delapan aktivis melakukan aksi mengecor kaki mereka dengan semen untuk mendukung protes para petani dari Pengunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah pada Rabu (22/03).

Aksi mengecor kaki dengan semen ini sempat terhenti pada Selasa, setelah salah seorang petani, Patmi (48 tahun) meninggal akibat serangan jantung. Patmi sempat mengikuti aksi ini bersama dengan petani lainnya sejak pekan lalu.

Aksi mengecor kaki dengan semen ini dilakukan untuk kedua kalinya oleh para petani Sedulur Sikep, untuk memprotes kebijakan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang menerbitkan kembali izin pabrik semen di kawasan karst pengunungan Kendeng yang terbentang dari Pati hingga Rembang.

Para petani ini pertama kali melakukan aksi ini pada Agustus 2016 lalu, yang diwakili oleh sembilan perempuan yang dikenal dengan sebutan 'Kartini Kendeng'.

Ketika itu, pemerintah Jawa Tengah tidak kunjung menjalankan putusan Mahkamah Agung untuk membatalkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 660.1/17 Tahun 2012, tanggal 7 Juni 2012, tentang Izin Lingkungan Kegiatan Penambangan oleh PT Semen Gresik (Persero) Tbk, di Kabupaten Rembang.

Putusan MA ini menulis PT Semen Gresik, meski yang diberi izin adalah PT Semen Indonesia.

Pada Agustus 2016 lalu, para petani Rembang ini melakukan aksi serupa dan bertemu dengan Presiden Joko Widodo pada 2 Agustus 2016. Dalam pertemuan itu disepakati harus dilakukan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), sebelum pabrik semen di kawasan Kendeng beroperasi.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Sejumlah aktivis perempuan juga mengikuti aksi mengecor kaki mereka dengan semen sebagai dukungan untuk para petani pengunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah.
Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Aksi mengecor kaki dengan semen telah dilakukan sejak Senin (13/03).

KLHS tengah dilakukan oleh tim Kantor Staf Presiden dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yang akan mengumumkan hasilnya pada April depan.

Tetapi di saat kajian dilakukan tim tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengeluarkan izin baru kepada PT Semen Indonesia pada 23 Februari. Dia juga menyatakan kepada media bahwa PT Semen Indonesia dapat kembali beroperasi.

Pada 16 Januari lalu, Ganjar telah mencabut izin PT Semen Indonesia dalam Surat Keputusan Gubernur No. 660.1/4 tahun 2017 tentang Pencabutan Keputusan Gubernur setelah Mahkamah Agung mengabulkan gugatan petani pengunungan kendeng dan yayasan Wahana Lingkungan Hidup Walhi atas Semen Indonesia, pada 5 Oktober lalu.

Meski aksi telah dilakukan sejak Senin ( 13/04) lalu, tetapi tidak mendapatkan respons dari pemerintah. Kepala Kantor Staf Presiden Teten Masduki mengatakan tim KLHS tengah bekerja dan meminta agar aksi mengecor kaki dengan semen itu dihentikan.

Tetapi para aktivis menilai itu pernyataan menunjukkan tidak adanya empati dari pemerintah pusat. Dewi Kartika dari Konsorsium Pembaharuan Agraria KPA yang ikut dalam aksi Rabu (22/03) ini menyatakan mengecor kaki dengan semen merupakan inisiatif petani dan merupakan pilihan terakhir karena sejumlah upaya yang mereka lakukan tidak mendapat respon dari pemerintah.

"Ini adalah insiatif dari mereka, sebagai masyarakat Samin mereka punya kebudayaan sendiri, sejak awal mereka sudah berusaha sejak mendirikan tenda dan dibanyak tempat, dan hari ini kami ingin terlibat langsung," jelas Dewi.

"Kami akan melakukannya sampai ada sinyal positif dari pemerintah."

Sebagian kalangan menganggap aksi mengecor kaki dengan semen ini baru pertama kali dilakukan. Tetapi sejumlah aksi 'ekstrem' lain pernah dilakukan di Indonesia ataupun di negara lain.

Aksi bakar diri

Sebelumnya aksi protes yang 'ekstrem' pernah dilakukan oleh seorang buruh dengan membakar diri pada Hari Buruh 1 Mei 2015. Buruh tersebut, Sebastian Manufuti yang dikenal sebagai aktivis salah seorang organisasi buruh ini tewas akibat luka bakar yang serius.

Di negara lain, aksi bakar diri juga pernah dilakukan yaitu di Sri Lanka pada Mei 2013 lalu yang dilakukan oleh seorang biksu Buddha sebagai protes terhadap penyembelihan ternak.

Biksu Bowatte Indratatne, sejak lama telah berkampanye menentang metode penyembelihan halal oleh umat Islam, dia juga merupakan seorang politisi.

Sebelumnya aksi bakar diri juga pernah dilakukan oleh biksu di Tibet.

Aksi jahit mulut

Aksi jahit mulut pernah dilakukan oleh para petani dan aktivis di Mesuji, Lampung, dan warga Pulau padang untuk memprotes penyelesaian konflik graria pada 2011 lalu.

Warga Pulau Padang memprote keputusan Menteri Kehutanan Nomor 37 Tahun 2009 tentang pemberian hak penguasaan hutan tanaman industri kepada PT Riau Andalan Pulp and Paper di daerah tersebut.

Ketika itu salah seorang petani perempuan yang mengikuti aksi dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya menurun.

Pada tahun 2000 lalu, 12 orang pengungsi di Australia menjahit mulut mereka sebagai protes terhadap lambannya proses aplikasi untuk status pengungsi mereka. Para pemrotes disebutkan berasal dari Afghanistan atau negara Timur Tengah lainnya.

Hak atas foto AFP
Image caption Anna Hazare aktivis antikorupsi India melakukan aksi mogok makan selama 12 hari.

Aksi mogok makan

Aktivis anti korupsi India Anna Hazare melakukan aksi mogok makan selama lebih dari dua pekan di Delhi.

Hazare ingin mendesak pemerintah India agar memperkuat UU anti korupsi, yang disebutnya terlalu lemah. Hazare melakukan protes itu di dalam penjara. Mantan pengemudi tentara yang berusia 74 tahun ini ditahan setelah beberapa jam melakukan aksi mogok makan tersebut.

Di Indonesia, aksi mogok makan sering kali dilakukan oleh sejumlah aktivis.

Berita terkait