Pelantikan Kapolres asal Papua di Tegal, Jawa Tengah, wujud representasi?

AKBP Semmy Ronny Thabaa saat dilantik sebagai Kapolres Tegal Kota, Polda Jawa Tengah, yang sebelumnya menjabat Kapolres Nabire. Hak atas foto Tribrata News
Image caption AKBP Semmy Ronny Thabaa saat dilantik sebagai Kapolres Tegal Kota, Polda Jawa Tengah, yang sebelumnya menjabat Kapolres Nabire.

Penunjukan AKBP Semmy Ronny Thabaa sebagai Kapolres Tegal Kota Polda Jawa Tengah dinilai oleh Ketua Dewan Adat Papua Wilayah Mepago, John Gobai, sebagai cara kepolisian memberi ruang kepada warga Papua untuk memimpin di daerah-daerah di luar Papua.

Sebelumnya, AKBP Semmy Ronny Thabaa dilantik menjadi Kapolres Tegal Kota Polda Jawa Tengah pekan lalu, menggantikan AKBP Firman Darmansyah. Semmy R Thabaa sebelumnya menjabat sebagai Kapolres Nabire, Polda Papua.

Pernyataan Kapolres Tegal Kota AKBP Semmy R Thabaa, seperti dikutip Humas Polres Tegal Kota, mengatakan, "Ini suatu kebanggaan bagi saya dan keluarga. Karena di negara Republik Indonesia yang kita cintai ini, apa yang dikhawatirkan beberapa pihak berkaitan dengan kebhinekaan, saya sebagai putra daerah asli Papua mendapat kesempatan menjabat di sini."

Menurutnya, sebagai orang Papua yang mendapat kesempatan menjabat Kapolres Tegal Kota, maka dia akan "secara maksimal melaksanakan tugas pokok kepolisian negara yang menjadi tanggung jawab Polres Tegal."

"Kita akan belajar dan berupaya menyesuaikan diri dengan wilayah baru serta karakteristik masyarakat dan budayanya yang berbeda dengan di Papua," katanya lagi.

"Ini bisa dilihat sebagai cara untuk menunjukkan kepada orang-orang di Jawa atau Indonesia lainnya, bahwa orang Papua sudah maju, sudah terpelajar. Ini menunjukkan kepada orang-orang di Jawa, bahwa kita tidak identik dengan kekerasan atau sifat-sifat negatif."

Posisi-posisi penting

Gobai berharap bahwa nantinya semakin ada ruang yang lebih besar bagi pejabat polisi asal Papua untuk mendapatkan posisi-posisi penting. "Bukan hanya staf di Mabes Polri. Tapi Kabareskrim atau apalah, perwira yang punya jabatan," ujarnya.

Meski begitu, Gobai berharap bahwa pemindahan ini lebih menunjukkan soal prestasi Thabaa sebagai individu, dan tidak terkait persoalan tambang di Kampung Nifasi, Kabupaten Nabire, Papua.

"Saya harap dia dipindahkan bukan hanya untuk memuluskan bisnis tambang, karena akhir-akhir ini dia cukup tegas untuk mediasi soal tambang," kata Gobai.

Dewan Adat Papua wilayah Meepago sudah mengadukan persoalan terkait tambang itu ke lembaga swadaya masyarakat Imparsial atas dugaan penyerobotan lahan adat di sekitar Kali Musairo, Distrik Makimi, Kabupaten Nabire, Papua oleh dua perusahaan tambang yang mereka sebut ilegal.

Sementara itu, pengamat dan peneliti dari Papua Resource Center, Amiruddin Al-Rahab, menilai tak ada yang istimewa dari pengangkatan Semmy R Thabaa ini.

"Sebagai prestasi pribadi ini bagus, dia bisa menjadi pejabat yang lebih tinggi, tapi itu adalah prestasi pribadi dia sebagai perwira polisi, tidak ada kaitannya dengan suku dan daerah asalnya. Semua perwira lulusan Akademi Kepolisian bisa ditempatkan di mana saja," kata Amiruddin.

Jika pelantikan ini dinilai sebagai suatu langkah afirmasi, maka Amiruddin menilainya, posisi polres terlalu kecil sebagai simbol, karena dia juga menyebut contoh Irjen Paulus Waterpauw yang kini menjabat sebagai Kapolda Papua, dan pernah bertugas di Jakarta sebagai Kapolsek Menteng dan Wakapolres Tangerang.

"Kalau mau jadi simbol, taruh di tempat yang semua orang bisa lihat. Kapolda DKI, Jawa Timur, atau Aceh. Kalau Kapolres, ada berapa Kapolres di negara ini, kan banyak," kata Amiruddin.

Topik terkait

Berita terkait