Sidang ke-15 Ahok: "Kata 'pakai' sebelum Al Maidah, amat penting"

Basuki Tjahaja Purnama, alias Ahok sidang 3 January 2017. Hak atas foto REUTERS/Dharma Wijayanto/Pool
Image caption Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, saat persidangan sebelumnya. Ia kukuh tudingan para penentangnya -dan dakwaan jaksa, yang menyembutnya menodai agama.

Di persidangan ke-15 kasus Ahok, saksi ahli bahasa yang dihadirkan pengacara menyebut, kata 'pakai' antara kata 'dibohongi' dan 'Al Maidah' menegaskan bahwa yang membohongi bukan Quran melainkan orang.

Rahayu Surtiati selaku ahli bahasa yang didatangkan tim kuasa hukum mengatakan bahwa ucapan Ahok, "dibohongi pakai Surat Al-Maidah", tidak berarti ada kebohongan dalam surat Al-Maidah.

"Al Maidah itu tidak berbohong, hanya dijadikan alat untuk membohongi. Jadi, ada orang yang menggunakan Al Maidah 51 untuk membohongi orang lain," kata guru besar linguistik di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia itu.

Pernyataan itu, tambah Rahayu, diungkapkan Ahok berdasarkan pengalaman pribadinya. Ini terungkap dari permulaan kalimat Ahok, "Saya mau cerita..."

"Itu berdasarkan fakta, bahwa surat Al-Maidah digunakan untuk membohongi orang supaya menang (pemilihan)," katanya dalam sidang yang dipimpin hakim Dwiharso Budi Santiarto.

Hak atas foto AFP
Image caption Ahok mengaku, sejak terjun di politik, ia banyak disudutkan oleh para politikus dan kalangantertentu, dengan menggunakan ayat-ayat suci, khususnya Al Maidah 51.

Dilaporkan Pijar Anugerah dari BBC, dalam sidang kali ini pengacara juga menghadirkan dua saksi ahli lainnya yaitu Ahmad Ishomuddin sebagai ahli agama dari PBNU Jakarta dan Djisman Samosir, ahli hukum pidana dari Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

Sebagaimana yang sudah-sudah, persidangan yang berlangsung di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan itu ditandai aksi dukungan dan penentangan.

Sejumlah pendukung maupun penentang Ahok sudah berdatangan sejak pagi, dengan peralatan dan mimbar unjuk rasa masing-masing.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Massa beratribut kotak-kotak, plus sejumlah orng berkostum Islami, beberapa kali menyerukan pembebasan Ahok.
Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Para penentang Ahok, menuntut dipenjarakannya sang gubernur -menggunakan jeda sidang untuk salat di jalanan.

Sebelum pemeriksaan saksi, majelis hakim menyatakan akan mengusahakan agar sidang diselenggarakan dua kali sepekan agar cepat selesai. Ada batasan dari surat edaran Mahkamah Agung agar sidang tidak lebih dari 5 bulan, kata ketua Majelis Hakim, Dwiharso Budi Santiarto

"Sebelum puasa kalau bisa kita sudah putus. Juga gedung ini kan gedung orang, dan kita banyak diprotes masyarakat karena macet dan sebagainya."

Ahok dijerat Pasal 156 dan 156a KUHP dan diancam pidana penjara selama-lamanya lima tahun.

Dakwaannya adalah, "sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan (a) yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia dan (b) dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa."

Ahok menolak keras dakwaan itu.

Topik terkait

Berita terkait