Mengapa laba Garuda turun 89%? Masih bisakah bersaing?

garuda Hak atas foto Reuters
Image caption Garuda Indonesia mengumumkan penurunan keuntungan tahun 2016 menjadi Rp120 miliar dari Rp1 triliun di tahun sebelumnya.

Penurunan keuntungan sampai 89% Garuda Indonesia dipandang sejumlah pihak tidak mengejutkan mengingat ketatnya persaingan bisnis penerbangan, khususnya di kawasan Asia.

Pengamat penerbangan, Gerry Soejatman, mengatakan anjloknya keuntungan ini sebenarnya masih lebih baik dibandingkan perkiraaan sebelumnya.

"Kelihatannya di awal pasti jelek, tetapi kalau kita liat prediction (perkiraan) untuk tahun 2016 itu kan merugi. Bahwa mereka bisa me-recover (mengatasi) sebagian dari projected loss (perkiraan kerugian) itu, menjadi masih ada sisa untung, itu cukup bagus. Karena di kuartal pertama 2016 itu Garuda ruginya besar sekali. Untuk kuartal dua, tiga dan empat itu mereka me-recover sebagian besar dari loss-nya dan masih ada sisa net profit (keuntungan bersih) sedikit," kata Gerry.

Penurunan penghasilan ini sesuai dengan perkiraaan sebelumnya terkait pasar regional, kata analis dari Samuel Asset Management, Joseph Pangaribuan.

"Itu sesuai dengan ekspektasi pemburukannya. Tahun ini dari awal kita sudah lihat kinerja Garuda akan memburuk, itu karena penurunan daripada yield (pendapatan) di semua jenis penerbangan Garuda, baik itu yang low cost carrier (maskapai murah) dan yang full service (maskapai dengan layanan penuh).

"Di low cost carrier ada persaingan juga karena maskapai lain juga nurunin harga dan batas atas dari low cost penerbangan diturunin, mau nggak mau batas bawah juga turun," kata Joseph yang khusus mengamati pergerakan perusahaan yang telah menjual 14% sahamnya ke masyarakat tersebut.

Hari Rabu (22 Maret), Direktur Utama Garuda, Arief Wibowo, mengumumkan penurunan keuntungan tahun 2016 menjadi US$9,07 juta atau Rp120 miliar dari US$76.48 juta atau Rp1 triliun pada tahun sebelumnya.

Dia mengatakan kepada para wartawan anjloknya keuntungan maskapai karena ketatnya (jalur) dalam dan luar negeri yang menyebabkan penurunan pendapatan. Secara umum, bisnis penerbangan mengalami penurunan pendapatan setiap kursi terisi per kilometer atau yield sebesar 9%.

Hak atas foto AFP
Image caption Singapore Airlines bersaing ketat dengan maskapai lain seperti Qatar, Etihad dan Emirates.

Masih dapat bersaing

Garuda yang merupakan maskapai penerbangan nasional Indonesia ini terbang ke lebih 40 tujuan dalam Indonesia dan 36 lokasi di dunia. Tetapi bagaimana daya saing Garuda Indonesia dibandingkan maskapai penerbangan lainnya di kawasan maupun dunia?

Gerry Soejatman mengatakan posisinya masih lebih baik dibandingkan Singapore Airlines atau Thai Airways, misalnya.

"Singapore Airlines sangat tergantung dengan pasar long haul-nya (jarak jauh) dia. Apalagi yang pasar Australia ke Eropa. Dan itu sedang digeroti habis-habisan oleh Qatar, Etihad dan Emirates. Jadi business model mereka pun juga under stress (bermasalah). Garuda masih punya advantage (kelebihan) di mana ada pasar domestik," jelas Gerry.

Pada tahun 2015, Garuda cukup banyak melakukan perluasan bisnis sehingga terjadi kelebihan kapasitas, tetapi hal itu sekarang dipandang telah teratasi dengan melakukan penurunan harga.

Persaingan bisnis yang terjadi saat ini memang menyebabkan sebagian besar maskapai penerbangan melakukan penurunan harga, tetapi keadaan ini masih dipandang sehat, kata Joseph Pangaribuan.

"Sampai sekarang masih cukup sehat yah. Ini karena di industri pesawat ini agak susah untuk memperkirakan supply (pasokan). Kebanyakan maskapai itu telah memesan pesawat untuk tiga tahun yang akan datang pada saat ini. Over supply (kelebihan pasokan) yang ada saat ini itu dikarenakan kondisi beberapa tahun lalu," jelas Joseph.

Image caption Direktur Utama Garuda Arief Wibowo mengatakan anjloknya keuntungan maskapai karena ketatnya (jalur) dalam dan luar negeri yang menyebabkan penurunan penghasilan.

Penghematan

Ke depan, para pengamat memandang sejumlah langkah perlu diambil Garuda Indonesia, agar tetap bisa bersaing di kawasan dan dunia, selain di dalam negeri. Salah satunya dengan kebijakan yang berhati-hati, kata pengamat penerbangan Gerry Soejatman.

"Strateginya sekarang lebih ke cautious growth (pertumbuhan secara hati-hati) karena saya lihat ini memang kuncinya untuk maintain competitiveness-nya (mempertahankan daya saing) Garuda. Mereka tidak bisa berhenti tetapi ekspansinya harus berhati-hati. Dan mereka memang strateginya untuk tahun ini adalah very cautious expansion (perluasan dengan sangat hati-hati)," tegas Gerry.

Sementara Joseph Pangaribuan dari Samuel Asset Management memandang selain efisiensi, Garuda juga perlu semakin melibatkan diri dalam pasar pesawat pesanan.

"Kalau masih ada ruang untuk efisiensi, itu harus dilakukan. Semakin hati-hati dalam memprediksi jumlah pesawat yang dipesan. (Di samping) Dicari rute-rute baru, tetapi rute-rute itu mungkin coba dicari yang bisa charter ke Cina. Bisa langsung dapet market-nya di sana," kata analis saham Joseph Pangaribuan.

Garuda Indonesia pertama kali beroperasi pada tahun 1949 dan membawa 25 juta penumpang setiap tahunnya.

Berita terkait