'Saya tak pernah bahagia': kisah kaum LGBT yang dipaksa menikah

LGBT Hak atas foto Manuel Medir/CON
Image caption Kebanyakan kaum LGBT terpaksa menikah di Indonesia untuk menutupi 'identitas' mereka.

Sejumlah gay dan lesbian di Indonesia mengaku dipaksa menikah dengan lawan jenis, meskipun hal itu berlawanan dengan orientasi seksual mereka.

Ade menyadari ada yang janggal dalam dirinya sejak duduk di bangku sekolah menengah tingkat pertama. Saat memasuki masa pubertas itulah, Ade yang terlahir perempuan mengatakan lebih menyukai sesama perempuan dibanding remaja laki-laki.

Namun, Ade berusaha untuk mengubur ketertarikannya dan berusaha menjadi 'normal' dengan mencoba membangun hubungan dengan lawan jenis.

"Waktu saya muda, belum ada internet, media belum bicara LGBT. Otomatis saya merasa saya yang salah suka sama perempuan," tutur Ade.

Berkali-kali dia mencoba menjalin hubungan, namun tak ada satu pun yang berhasil.

"Saya termasuk playgirl mungkin. Karena gampang bagi saya untuk pergi. Sering pacaran dan sering putus. Hitungan hanya dua minggu, tiga bulan itu paling lama," katanya sambil terkekeh.

Seiring waktu berjalan, Ade fokus membangun kariernya dan tak pernah berpikir untuk menikah. Hingga akhirnya keluarganya menuntutnya untuk segera menikah.

"Orang tua saya bercerai. Saya tinggal dengan ibu saya. Dia sebenarnya tak terlalu menuntut, ya hanya dia sering mangatakan impiannya dia bahwa dia ingin saya menikah dengan adat Yogya. Dan itu mungkin dia utarakan ke orang-orang terdekat dia."

"Sehingga sering pertanyaan itu justru dari tante-tante, 'Kapan ini menikahnya?' Terus kalau ada acara besar selalu saya yang dituju. Dan orang-orang ini yang cerita 'Ibu kamu itu mau, itu impian dia sekali...'

"Dan saya ingin anak juga. Jadi akhirnya dua hal itu yang mendorong saya untuk menikah."

Akhirnya, pada usia 29 tahun, Ade memutuskan untuk menikah dengan pria yang menurutnya memenuhi kriterianya.

"Dia agamanya bagus. Orangnya juga ganteng, bagus saya pikir buat bibit anak saya," katanya sambil tertawa.

"(Kriteria) bibit, bebet, bobot-nya masuk dan dia cinta saya banget. Saya pikir saya tidak perlu cinta dia banget, dia yang perlu cinta saya banget. Dan satu hal lagi dia menjadi orang BUMN karena saya pikir anak saya lebih terjamin. Jadi mungkin tiga faktor itulah," paparnya.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption "Saya tidak pernah bahagia. Karena saya tak menemukan diri saya sendiri", kata Ade.

Sepuluh tahun setelah menikah, suami Ade ditugaskan bekerja di Palembang. Namun Ade memutuskan untuk tetap di Jakarta bersama kedua anaknya.

"Ketika kita berpisah karena tugas, saya merasa kok saya tidak merindukan dia, saya hanya merasa kebiasaannya saja yang berubah."

"Sekarang mencuci mobil sendiri. Kalau genteng bocor juga harus naik sendiri. Hanya itu yang saya rasakan."

"Waktu itu chatroom mulai merajalela. Saya mulai sering ke warnet."

"(Di chatroom) saya coba dengan lelaki sebenarnya juga. Saya pikir mungkin yang salah adalah suami saya. Tapi beberapa menit kita ngobrol saya sudah bosan."

"Apalagi laki-laki di chatroom itu selalu berakhir dengan seks. Saya pikir bosan banget. Kalau sama perempuan, saya itu bisa lama, bahkan kita bisa sambung dengan handphone, kita SMS-an. Akhirnya saya selalu dengan wanita."

Hubungan Ade dan sesama perempuan terus berlanjut, meski dia masih berstatus menikah.

"Ketika ada satu, dua orang dekat dengan saya, saya mulai bohong otomatis. Saat ditanya di mana, saya tidak mungkin jawab 'di Ancol dengan Kamelia atau Cecilia'. Saya mulai berbohong satu, dua kali. Akhirnya jadi sering. Dan saya pikir, ini tidak benar."

"Saya tidak pernah bahagia. Karena saya tak menemukan diri saya sendiri. Saya selalu protes, mungkin dengan hidup, saya tak tahu, saya masih muda dan saya tidak mencari apa yang membuat saya protes. Saya hanya merasa setiap kali dia (suami) menjadi imam saya, saya tidak mau, saya merasa hati saya tidak ikut dia. Malah lebih jauh dari agama."

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Beberapa pegiat LGBT dalam Pawai Perempuan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Selama menikah, Ade mengaku tidak bahagia meskipun suaminya baik hati.

"Satu-satunya yang membuat saya bahagia ketika saya dapat anak. Anak saya normal, cantik. Kemudian saya punya anak yang kedua. Dua kali saya bisa merasakan bahagia, hanya itu."

"Pernikahan saya normal, suami saya baik, agamanya bagus, bertanggung jawab dengan istri, seks nya juga bukan yang hyper, normal-normal saja. Tapi saya tidak bahagia. Pada waktu itulah saya berkonflik dengan diri saya."

Ade pun berhenti berkonflik dengan dirinya dan mulai menerima seksualitasnya.

"Kita itu diciptakan Allah, rasa cinta datang dari Allah dan membalik-balikan hati, yang mampu semuanya Allah."

"Setiap salat kita selalu ada kata-kata 'tunjukkan aku jalan yang benar seperti orang-orang sebelum aku'. Itu hafalan dari kecil. Ketika saya sudah punya anak kedua, saya mulai belajar artinya. Dan setiap salat saya mengucapkan dengan sangat serius."

"Jadi kalau diberikan Allah mendadak rasa berubah terus cinta kepada laki-laki, saya akan menerima itu," kata Ade yang bercita-cita menjadi ustadzah dari kecil.

"Karena semua datang dari Allah, perasaan, cinta kita itu datang dari Allah. Orang LGBT itu, kalau memang Allah mau, gampang saja, tinggal 'klik', kembali ke normal. Dan saya meminta itu," katanya lirih dengan mata yang berkaca-kaca.

"Saya belum belajar Alquran terlalu dalam, tapi seharusnya agama menerima mereka."

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Seorang pegiat perempuan dalam Pawai Perempuan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Setelah menerima kenyataan bahwa dirinya adalah lesbian, Ade terbuka dengan ibu dan kedua anak perempuannya mengenai identitasnya.

"Kebetulan ibu saya tidak terlalu relijius, jadi saya lebih mudah masuk ke beliau. Dia sih bilang dia melihat saya tidak bahagia dalam perkawinan saya."

"Jadi begitu dia melihat saya begini tapi bahagia, akhirnya dia menerima. Sepertinya dia sudah menduga ya, jadi dia kagetnya, 'Oh akhirnya dia ngomong dengan saya'."

"Yang saya belajar selama ini adalah kalau kita melakukan dengan nafsu, seperti ganti-ganti pacar, perselingkuhan, itu yang tidak boleh. Tapi kalau kita benar-benar mau membangun hubungan, sampai tua, membangun rumah tangga. Kalau begitu, output kita kan juga bagus ke bangsa. Kalau rumah tangga kita bahagia, kita punya seseorang di rumah yang harus kita pikirkan, output kita juga bagus ke luar. Jadi tidak ada yang salah dengan LGBT."

"Sebelum itu, output saya juga jelek, saya pernah mencoba minum, rokok, seks bebas dengan laki-laki, itu sekian jauh saya terlempar."

"LGBT itu tidak mudah. Saya harus punya hukumnya. Saya harus tahu", ujar Ade yang saat ini bertekad belajar bahasa Arab agar dapat mengerti apa yang dikatakan Al Quran tentang LGBT.

Dipaksa menikah

Edo, aktivis LGBT yang bekerja di sebuah LSM yang bergerak di HIV/AIDS khusus bagi para homoseksual, mengatakan: "Menjadi LGBT itu tidak mudah."

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption "Bahagia sih bahagia karena dia menerima aku apa adanya. Tapi aku sendiri merasa ada yang kurang, aku masih ada keinginan untuk berhubungan dengan laki-laki," kata Edo.

Edo juga terpaksa menikah enam tahun yang lalu akibat tekanan keluarga.

"Waktu Lebaran, mungkin banyak kali ya di keluargaku yang ngomong bagaimana-bagaimana," kisah Edo.

Pada suatu ketika, ibunya langsung meminta dia menikah.

"Kata ibuku, 'Temuin ini, namanya ini, anaknya bidan'. Aku dijodohin. Ibuku bilang, 'Pokoknya bulan haji nanti kamu sudah harus menikah. Sudah ada siap uangnya, tinggal jalanin aja'. Di situ aku kelabakan," tuturnya.

Saat bertemu calon istrinya, Edo menebak pernikahannya tidak akan langgeng.

"Pas aku bertemu dengan dia, kita makan bakso terus dia bilang 'Abang, bicaranya lebih cowok sedikit dong'. Langsung aku merasa dia tak bisa menerima aku. Beberapa kali dia bicara seperti itu. Baru bertemu dua kali dia sudah menginginkan aku berbicara tidak feminin. Bagaimana kalau aku harus seumur hidup dengan dia?"

Karena itu, Edo memutuskan tidak menikah dengan calon yang sudah disiapkan ibunya. Akan tetapi, ada perempuan lain yang diajaknya menikah dengan syarat.

"Pulang ke Jakarta, ketemu teman cewek yang memang suka sama aku. Kami sudah lima tahun berteman. Sudah lama tidak ketemu, kemudian kita jalan dan ngobrol. Dia sudah tahu banget aku itu siapa. Karena merasa tertekan, aku mengajak dia menikah."

"Besoknya dikasih keputusan, 'Oke, saya mau'. Tetapi ada syaratnya, keluarganya tidak boleh tahu aku bekerja di mana dan identitas gay aku tidak boleh diketahui keluarganya begitu pun keluargaku."

"Akhirnya lewat Idul Adha aku menikah dengan dikuat-kuatkan jiwanya. Aku belum mau menikah, tapi karena terpaksa harus mencari jalan keluar."

Edo menikah selama tiga tahun sampai akhirnya istrinya meninggal dunia akibat kanker payudara pada 2013.

"Bahagia sih bahagia karena dia menerima aku apa adanya. Jarang sekali ada perempuan yang mau menerima laki-laki dengan orientasi ini. Tapi aku sendiri merasa ada yang kurang, aku masih ada keinginan untuk berhubungan dengan laki-laki," kata Edo.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Penerimaan masyarakat untuk kaum LGBT masih jauh, namun setidaknya mereka tidak perlu dipaksa menikah hanya untuk menutupi 'identitas' mereka.

'Dilematis'

Situasi dilematis ini tak hanya dihadapi Edo sendiri.

"Begitu juga yang aku dengar dari teman-teman dan dari lapangan. Kalau gay, LSL (laki-laki sama laki-laki) itu jadi dilema di saat kita ingin (berhubungan dengan sesama jenis) sedangkan kita menikah. Banyak kasus seperti ini, jarang kita melihat gay menikah terus tidak berhubungan lagi dengan gay yang lainnya," tutur Edo.

Edo menceritakan bahwa dia memiliki tiga teman yang homoseksual di Lampung. Mereka sudah menikah dan punya anak, tetapi pada saat bersamaan tetap berhubungan dengan laki-laki.

"Itu dapat menyebarkan penyakit, selain ke diri dia juga ke istrinya kalau dia tidak tahu cara pencegahan. Saran aku sih, kalau memang orientasinya memang LSL, tak usah menikahlah karena itu akan merugikan banyak pihak. Merugikan istrinya karena dia tidak bahagia dengan istrinya sehingga cepat cerai."

"Belum lagi penularan penyakit. Banyak juga teman-teman dipaksa menikah padahal sudah punya penyakit. Kalau sudah punya anak bisa menularkan ke anaknya juga kalau ada penyakit. Kasihan menurut aku."

Edo mengaku mendapat banyak cerita mengenai kaum homoseksual yang dipaksa menikah dengan lawan jenis ketika orientasi seksual mereka terungkap. Beberapa orang, kata Edo, merasa frustrasi dan bunuh diri.

Penerimaan masyarakat untuk kaum LGBT masih jauh, namun Edo berharap setidaknya mereka tidak perlu dipaksa menikah hanya untuk menutupi 'identitas' mereka.

Berita terkait