Sidang ke-17: Ahok jelaskan lagi mengapa singgung Al-Maidah

Ahok Hak atas foto RAMDANI/AFP/Getty Images
Image caption Di sidang ke 17, AHok akan menjalani tanya jawab di depan hakim.

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kembali menjelaskan soal latar belakang mengapa ia menyinggung ayat di surat Al-Maidah, saat memberikan sambutan di depan warga di Kepulauan Seribu.

Hal ini paparkan di lanjutan sidang kasus penistaan agama di Jakarta, hari Selasa (04/04). Akibat pidato itu ia menjadi terdakwa.

Ahok menuturkan bahwa acara di Kepulauan Seribu terkait dengan program bagi hasil budidaya ikan tapi tak banyak yang tertarik dengan program tersebut.

"Saya tebak-tebak apa karena uang. Dari situlah saya pikir ini jangan-jangan seperti di Belitung. Orang-orangnya polos, mereka takut harus bayar budi kalau Pilkada," kata Ahok."Di Belitung ada selebaran untuk menolak saya menjadi gubernur pada 2007. Belitung itu kecil, rata-rata kita kenal semua. Orangnya bilang, 'Mohon maaf Hok, Ibu tidak pilih kamu. Saya takut murtad." Saya lihat Ibu itu (di P. Seribu) saya ingat Ibu di Belitung."Ahok juga menjelaskan bahwa dia mendengar Al-Maidah ayat 51 hanya dari Gus Dur, panggilan akrab Abdurrahman Wahid, mantan presiden dan mantan ketua PB NU, yang ketika itu menjadi juru kampanyenya.

Sebelum memberikan penjelasan, diputar sejumlah video terkait pidato Ahok. Hingga sebelum reses siang hari, ditampilkan tiga video dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang bersumber dari saksi pelapor.

Ketiga barang bukti dari JPU tersebut adalah: video pidato di Kep. Seribu dilanjutkan dengan kunjungan kerja di Kepulauan Seribu yang diunggah di YouTube oleh Pemprov DKI, video kompilasi percakapan Ahok dengan wartawan di Balaikota mengenai video viral itu: dan video konferensi pers Ketua Partai Nasdem Surya Paloh dan pasangan calon Ahok-Djarot.

Namun video terakhir sempat bermasalah hingga akan dilanjutkan pemutarannya setelah reses. Selain itu, JPU juga mengajukan barang bukti sebuah flash disk yang berisi buku elektronik 'Mengubah Indonesia'.

Ditemui wartawan di luar ruangan sidang, pengacara Sirra Prayuna berkata barang bukti yang ditampilkan akan memberi gambaran mengenai latar belakang video pidato Ahok yang dianggap menista agama.

"Kalau dilihat betapa panjangnya video tersebut dan ada pemotongan "jangan mau dibohongi dgn Surat Al Maidah dan lain-lain itu," biarlah majelis Hakim yang akan menilai itu", kata Sirra.Tim pengacara juga akan mengajukan beberapa barang bukti, diantaranya salah satu video Gus dur dan bukti surat.

Atas beberapa video yang diajukan JPU, tim pengacara Ahok mengatakan 'kesemuanya diarahkan agar ada Ahok melakukan penistaan'.Selain itu ada potongan video Ahok yang marah-marah dalam rapat di Balai Kota Jakarta dan mengatakan, "Kalau orang beriman tidak mencuri uang rakyat."

Kepada Hakim, Ahok mengatakan bahwa dirinya marah akibat dana yang dipotong dalam sebuah proyek.

Trimoelja Soerjadi, pemenang Yap Thian Hien Award yang menjadi salah satu pembela Ahok menyatakan, ada dua hal pokok yang menjadi fokus dalam tanya jawab dengan Ahok.

"Pertama, apakah benar ada faktor kesengajaan dalam pidato Pak Basuki di Kepulauan Seribu itu untuk menyinggung umat Islam, dan kedua benarkah ada perbuatan penodaan atau penistaan agama dalam ucapan-ucapan itu," kata Trimoelja kepada wartawan, menjelang sidang.

Disebutkan Trimoelja, kesaksian para ahli yang dihadirkan para pengacara, baik ahli agama, ahli bahasa, serta ahli sosiologi, menunjukkan tak ada kesengajaan itu dan tak ada penodaan atau penistaan. Ini berbeda dengan kesaksian para ahli yang dihadirkan jaksa penuntut umum sebelumnya.

Penampilan Ahok ini akan merupakan satu-satunya acara persidangan hari ini, setelah sebelumnya dihadirkan para saksi ahli dan saksi fakta, baik yang dihadirkan tim pengacara Ahok maupun tim jaksa penuntut umum.

Hak atas foto Pool Photo via AP
Image caption Jaksa Penuntut Umum menjerat Ahok dengan Pasal 156 dan 156a KUHP.

Ahok dijerat Pasal 156 dan 156a KUHP dengan dakwaan yang, "sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan (a) yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia dan (b) dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa."

Massa pendukung Ahok dan penentangnya berkumpul sejak pagi di sekitar Auditorium Gedung Kementerian Pertanian, tempat berlangsungnya sidang.

Kedua belah pihak sudah mulai melakukan mimbar bebas dengan mobil mimbar masing-masing. Mereka dipisahkan dalam jarak sekitar 500 meter.

Topik terkait

Berita terkait