Bagaimana mendapatkan teman di negara baru

Kiat tinggal di negara baru Hak atas foto Getty Images

Bagi para ekspatriat yang mendapatkan penugasan di negara-negara baru, membangun lingkaran sosial dapat menjadi tantangan yang terberat dari semua tantangan yang ada. Beberapa pembaca berbagi kiat berkenalan dengan orang baru di tempat-tempat baru.

Untuk mereka yang hidup di luar negeri, pindah ke negara baru artinya mendapat sejumlah tantangan - dari kebiasaan dan budaya yang aneh sampai menemukan tempat tinggal. Tetapi salah satu yang paling menantang adalah bertemu orang-orang baru: tentu saja, salah satu dari kisah-kisah populer kami tahun lalu adalah cerita tentang kencan di Swedia, yang mempelajari kesepian yang mungkin dialami para ekspatriat ketika mencoba untuk menetap di luar negeri. Jadi, kami lemparkan pertanyaan: Bagaimana Anda berkenalan dengan teman-teman baru setelah pindah ke satu negara baru? Banyak di antara Anda memberikan jawaban yang inovatif, bijaksana bahkan bagai dalam buku.

Setelah bekerja di Timur Tengah, Afrika dan Amerika Serikat, serta daratan Eropa, "di mana semua kehidupan sosial didiktekan oleh kolega-kolega kerja," Mark Richard Adams mendapati dirinya memulai kegiatan baru di Norwegia pada tahun 1991.

"Awalnya, ini cuma negara yang lain, hanya proyek lain, tetapi kemudian saya bergabung di sebuah gym, belajar bermain ski... dan mulai jalan-jalan di pegunungan. Melalui kegiatan-kegiatan ini saya membangun jaringan pertemanan di luar pekerjaan."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Memulai hobi-hobi baru merupakan cara cepat untuk bertemu orang-orang baru - bagi Mark Richard Adams, bermain ski membantunya membangun jaringan pertemanan.

"Hampir 26 tahun kemudian, saya menetap secara permanen di Norwegia, menikahi seorang perempuan Norwegia yang luar biasa, dan kami memiliki seorang anak laki-laki berusia 11 tahun. Orang-orang Norwegia tidak mudah diajak berkenalan, jadi Anda harus sabar, tetapi hal ini layak dilakukan. Saya telah berusaha sebaik mungkin untuk mempelajari bahasa, budaya, sejarah dan politik mereka. Ini sangat membantu."

Bagi Jeannie Liu, kuncinya adalah bersikap persisten. "Saya mencoba pergi kembali ke tempat yang sama, lagi dan lagi, seperti sebuah restoran, atau sebuah supermarket. Akhirnya saya mengenal orang-orang dan diundang untuk hadir di berbagai pertemuan. Lalu saya bertemu lebih banyak orang dan berteman dengan lebih banyak orang."

Penguasaan bahasa selalu membantu, katanya, tetapi "bahkan tanpa penguasaan bahasa yang fasih, hanya tersenyum dan berbuat baik pada semua orang; mendengarkan orang.. dan tentu saja memperhatikan orang-orang di sekitar Anda."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Baik penduduk lokal dan ekspatriat menggunakan grup meet-up untuk memperluas jaringan sosial mereka

Jaringan sosial, online dan offline

Bergabung dengan kelompok-kelompok dalam situs jaringan sosial Meetup menyelamatkan Christine Ndirangu ketika dia pindah ke London, Inggris.

"Ini merupakan kehidupan yang serba cepat, sulit bertemu sedikit orang yang saya kenal sebelumnya. Untungnya Meetup ada untuk orang-orang yang seperti itu. Saya merasa terkejut bahwa bahkan penduduk asli London menggunakan Meetup untuk memperluas jaringan sosial mereka setelah teman-teman lama mereka mapan dan tidak ingin terlalu sering keluar rumah.

"Tidak dapat dikatakan bahwa saya mendapatkan pertemanan seumur hidup, tetapi setidaknya saya dapat pergi dan melakukan hal-hal yang menyenangkan."

Dengan nada yang sama, bagi Caro Chan, pertemuan di lantai dansa dan kelas bahasa merupakan titik awal yang baik untuk berkenalan dengan teman-teman baru di Inggris. Tetapi dia menurutnya di Jepang situasinya lebih sulit karena kebanyakan teman-temannya dikenalnya di tempat kerja.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Hambatan bahasa bisa menambah kesendirian kita.

Menjadi bagian dari komunitas iman merupakan hal yang 'sangat besar' bagi Dave Kelly. "Persamaan keyakinan membantu mengatasi perbedaan budaya, mendobrak potensi hambatan dalam pertemanan dan membawa orang-orang yang berbeda bangsa untuk bersatu," tulisnya, menjawab pertanyaan kami.

Setelah tinggal di luar negeri selama lima tahun, Nayim Amari merancang empat taktik utama untuk menetap: menerima orang lain, menghormati perbedaan, mempelajari budaya baru dan bertemu orang-orang baru.

"Tingkat keberanian"

Bagi yang lainnya hal itu tidak semudah dan sesederhana itu. Emilia Bergoglio, yang tinggal di Jepang, membangun kehidupan sosial di negara yang dia tinggali sekarang tidaklah mudah: "Singkatnya, saya belum kenal siapa pun."

Dia menuliskan bahwa para kolega di tempat kerja tidak dimaksudkan menjadi sahabat, dan orang-orang asing lainnya cenderung untuk berkumpul di antara sesama mereka.

"Hanya saja sekarang kemampuan bahasa lokal saya mengalami peningkatan, saya dapat bercakap-cakap dengan penduduk lokal, tetapi hubungan kami lebih karena sopan santun saja."

"Saya tidak merasa kecewa dengan keadaan ini, dan ketika saya merasa benar-benar ingin ngobrol, saya akan melakukan hubungan Skype dengan teman-teman lama saya di Eropa. Saya juga akan segera memulai pekerjaan baru saya, jadi mungkin saja keadaan segera akan berubah."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Banyak yang berjuang melawan kesepian ketika pindah ke satu negara baru, tetapi jiwa mandiri sangat penting, kata David Duffy

David W. Duffy merasa kesepian yang sama, bahkan setelah 10 tahun tinggal di Polandia, tetapi mengatakan bahwa jiwa mandiri merupakan hal yang yang sangat penting. "Perlu ada keberanian tertentu, dan mental yang cukup kuat untuk mampu menghadapi kesendirian, karena kesendirian dapat melemahkan kita.

"Orang-orang yang lebih terikat pada kenyamanan rumah dan keluarga akan lebih mengalami kesulitan. Bagaimana pun saya tidak akan mengubahnya sama sekali - bagi saya, rasa petualangan jauh lebih kuat.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini berjudul How do you make friends in a new country di BBC Capital.

Berita terkait