Serangan atas Novel Baswedan pertajam sorotan pada kasus korupsi

kpk Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Penyidik senior KPK, Novel Baswedan, saat ini menangani sejumlah kasus besar, termasuk perkara dugaan korupsi KTP elektronik.

Beragam reaksi bermunculan setelah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, diserang menggunakan cairan kimia yang diduga air keras.

Tama Langkun, pegiat Indonesia Corruption Watch yang pernah dijatuhkan dari motor dan ditikam beberapa tahun lalu saat melaporkan kasus rekening milik sejumlah perwira Polri, menilai serangan semacam itu dilakukan untuk menghambat kasus-kasus korupsi yang ditangani Novel.

Novel saat ini disebut sedang menangani sejumlah kasus besar, antara lain kasus dugaan korupsi KTP elektronik atau e-KTP.

"Tiada kecelakaan murni. Ini kan semacam pola-pola atau upaya-upaya untuk melakukan pelemahan terhadap KPK atau pelemahan terhadap agenda korupsi. Semakin besar kasusnya, semakin besar risikonya," kata Tama kepada BBC Indonesia.

Hak atas foto DOKUMENTASI KELUARGA
Image caption Novel Baswedan menderita luka di bagian muka, namun dalam kondisi sadar dan stabil. Setidaknya Novel telah mengalami enam kali aksi kekerasan yang menjurus pada upaya pembunuhan, kata mantan pimpinan KPK, Busyro Muqoddas.

Akan tetapi, aksi tersebut diyakini justru kontraproduktif bagi pihak yang ingin mencederai Novel.

"Semakin caranya kasar, publik akan semakin resisten. Sebetulnya dengan cara seperti ini justru akan backfire, akan jadi gelombang dalam konteks pressure group. Ini akan membuat hakim tidak berani main-main. Semua mata tertuju pada persidangan, dia akan berpikir berulang-ulang untuk macam-macam," kata Tama.

Juru bicara KPK, Febri Diyansyah, memastikan serangan terhadap Novel Baswedan tidak akan menghambat proses hukum sejumlah kasus hukum yang saat ini sedang bergulir.

"Kalau serangan ini dimaksudkan untuk menghambat kerja-kerja KPK dalam pemberantasan korupsi, maka penyerang dan dalangnya keliru, karena hal itu tak akan terjadi," kata Febri Diansyah.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sejumlah pegiat menunjukkan solidaritas pada Novel Baswedan.

Upaya teror

Bagaimanapun, bercermin dari serangan yang menimpa Novel Baswedan, mantan pimpinan KPK, Busyro Moqoddas, menggarisbawahi pentingnya perlindungan negara terhadap staf KPK.

Pasalnya, menurut Busyro, insiden Novel adalah 'sebuah kebiadaban' dan 'langkah nyata dalam upaya teror terhadap KPK'. Apalagi, Busyro mencatat Novel telah mengalami setidaknya enam kali aksi kekerasan yang menjurus pada percobaan pembunuhan.

"Bandit-bandit koruptor itu dominan dengan melakukan tindakan-tindakan yang menteror di lapangan dan ini sudah kasat mata. Maka tiada yang lain kecuali presiden selaku panglima tertinggi TNI dan Polri perlu segera membentuk tim gabungan dengan unsur masyarakat untuk memburu pelaku," ucap Busyro.

Usulan perlindungan terhadap staf KPK disambut baik Tama Langkun dari ICW. Secara eksplisit dia menekankan besarnya risiko yang dihadapi KPK dalam menangani kasus e-KTP.

"Dimensi perkara ini besar. Yang diproses bukan sekadar korupsi pengadaan barang dan jasa saja. Bukan cuma orang satu kementerian yang diproses, tetapi dalam konstruksi dakwaan yang dibangun ada korupsi pengadaan dan ada korupsi penganggaran. Ini nggak main-main.

"Penganggaran tidak hanya melibatkan satu atau dua fraksi, tapi keseluruhan. Bahkan sekarang ketua DPR juga disebut dalam dakwaan. Ini menurut saya harus ada proteksi dari negara kepada penegak hukum," papar Tama.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Mantan pimpinan KPK, Busyro Muqoddas (tengah), Bambang Widjojanto (kanan), dan pegiat Kontras, Haris Azhar (kiri), mendesak Presiden Jokowi untuk membentuk tim gabungan untuk menuntaskan kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan.

Sejauh ini, menanggapi penyerangan terhadap Novel Baswedan, Presiden Joko Widodo telah memerintahkan Kapolri Tito Karnavian untuk mengusut tuntas.

"Itu tindakan brutal yang saya mengutuk keras. Saya perintahkan kepada Kapolri untuk dicari siapa (pelakunya). Jangan sampai orang-orang yang mempunyai prinsip teguh seperti itu dilukai dengan cara-cara yang tidak beradab. Saya kira ini tidak boleh terulang hal-hal yang seperti itu," ujar Presiden Jokowi.

Tekad presiden sangat dinantikan mantan pimpinan KPK, Bambang Widjojanto. Menurutnya, dari enam aksi kekerasan terhadap Novel Baswedan, tiada satupun yang diusut tuntas.

"Kita sudah sampai tahapan, siapapun pelakunya harus diklasifikasikan sebagai teroris. Kalau negara absen menghadapi teroris, maka sebenarnya negara mengalami kegagalan dalam keamanan," ujar Bambang.

Berdasarkan pemeriksaan awal kepolisian, Novel Baswedan disiram cairan kimia oleh dua orang yang menaiki sepeda motor, saat dia berjalan kaki dari masjid menuju rumah pada Selasa (11/04) dini hari.

Cairan itu mengenai wajah dan matanya hingga ia perlu menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Topik terkait

Berita terkait