Murid-murid SD di pedalaman Kalimantan 'sangat senang' dengan bantuan Presiden Jokowi

sekolah Hak atas foto Biro Setpers Istana
Image caption Bantuan Presiden Jokowi diserahkan kepada empat murid SD di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Sejumlah murid sekolah dasar di daerah terpencil di Provinsi Kalimantan Barat 'sangat senang' setelah permintaan tas sekolah yang mereka suarakan melalui video di media sosial mendapat respons Presiden Joko Widodo.

"Kami sangat bersyukur atas bantuan presiden, apalagi anak-anak karena permintaan mereka untuk memiliki tas terkabul," kata Anggit Purwoto, guru yang bertugas di Desa Sungkung, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, selama tujuh bulan terakhir kepada BBC Indonesia, Rabu (12/04).

Ditanya soal reaksi para murid, Anggit mengatakan bantuan itu membuat mereka 'sangat senang'.

"Yang tadinya tidak punya pensil, tidak punya alat tulis, sekarang mereka punya. Saya berharap ini menambah semangat mereka untuk belajar," ujarnya.

Meski demikian, Anggit menekankan bahwa perlengkapan sekolah bukan akar masalah anak-anak tersebut.

"Akar masalah mereka adalah akses. Sulit menjangkau desa ini," tegasnya.

Jalan menuju desa ini, cerita Anggit, perlu dua hari, dengan jalan "beraspal sampai Entikong-Sanggau...dan dua jalur, menyusui Sekayam selama 10 jam dan jalur darat dengan motor, kalau kering lima jam kalau basah lebih dari itu."

Tanggapan presiden

Sebagaimana dikemukakan kantor sekretariat presiden, video para pelajar SD di Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat, diketahui Presiden Jokowi setelah video tersebut menjadi viral di media sosial baru-baru ini.

"Pak Jokowi minta tas," ujar mereka dalam video yang diunggah Anggit Purwoto.

Hak atas foto Anggit Purwoto
Image caption Keempat murid sekolah dasar meminta tas sekolah dalam video yang diunggah ke media sosial.

Presiden pun langsung mengirim bantuan ke Kabupaten Bengkayang melalui sekretaris pribadinya. Bantuan tersebut kemudian dibagikan serentak pada Senin (10/04).

"Presiden telah melihat video itu dan langsung memerintahkan Sespri untuk mengirim bantuan," ujar juru bicara Presiden, Johan Budi.

Selain tas sekolah sebagaimana yang diminta oleh empat pelajar SD sebelumnya, presiden juga menyiapkan bantuan perlengkapan sekolah untuk setiap pelajar, seperti buku tulis, pulpen, pensil, sandal, serta satu set seragam sekolah termasuk topi dan dasi.

Hak atas foto Biro Setpers Istana
Image caption Selain tas sekolah sebagaimana yang diminta oleh empat pelajar SD sebelumnya, presiden juga menyiapkan bantuan perlengkapan sekolah untuk setiap pelajar.

Bantuan yang diberikan tersebut tak hanya ditujukan untuk keempat pelajar SD yang meminta tas sekolah, tapi juga kepada pelajar-pelajar di Kabupaten Bengkayang.

Sebanyak 135 paket bantuan telah disiapkan untuk para pelajar di SDN 04 Sungkung, 148 paket untuk para pelajar di SDN 11 Senebeh, 168 paket untuk para pelajar di SDN 10 Medeng, dan sebanyak 151 paket bantuan untuk para pelajar di SDN 09 Senoleng.

Untuk setiap sekolah Presiden memberikan paket bantuan yang berisikan empat set foto Presiden dan Wakil Presiden, dua bendera merah putih, buku soal-soal, 10 kotak kapur tulis, dua penghapus papan tulis, dua atlas, dua peta dunia, dan 100 papan alas ujian.

Hak atas foto Biro Setpers Istana
Image caption Keempat murid SD di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, memakai tas sekolah baru.
Hak atas foto Biro Setpers Istana
Image caption Keempat murid SD yang meminta tas sekolah, juga mendapat beragam pelengkapan sekolah termasuk seragam dan sandal.

Daerah terpencil

Dalam wawancara sebelumnya, Anggit Purwoto, menuturkan kepada BBC Indonesia kondisi di daerah tersebut.

Para murid SD, kata Anggit, memakai 'kantong kresek' sebagai pengganti tas sekolah dan tak pakai alas kaki.

"Itu keinginan mereka untuk memiliki tas dan bingung kemana harus mengadu dan mereka tahunya Presiden Jokowi," kata Anggit kepada BBC Indonesia.

Hak atas foto Anggit Purwoto
Image caption Kondisi sekolah di Desa Sungkung diunggah ke media sosial oleh Anggit Purwoto, guru yang bertugas di Kabupaten Bengkayang selama tujuh bulan terakhir.

Anggit ditugaskan untuk mengajar di SMA namun membantu mengisi kekurangan guru di SD yang hanya terdiri dari dua atau tiga tenaga guru.

Data dari Kemendikbud menunjukkan program yang diikuti Anggit, Program Sarjana Mendidik Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) - program yang diterapkan sejak 2011- diikuti oleh sekitar 3.000 sarjana yang baru lulus untuk tahun 2016 dan tersebar di 56 kabupaten, termasuk Bengkayang.

Tujuan program seperti ini dimaksudkan untuk pemerataan pendidikan di seluruh Indonesia, terutama di daerah terpencil.

Topik terkait

Berita terkait