Bagaimana mencegah kerusakan situs "Kerajaan Majapahit" di Trowulan?

Trowulan Hak atas foto Muhammad Syafi'i
Image caption Para peneliti dari BPCB Jawa Timur melakukan penelitian di sekitar situs Trowulan yang dirusak.

Situs cagar budaya yang diperkirakan merupakan ibukota Kerajaan Majapahit terancam hancur jika tak ada upaya untuk pencegahan. Perusakan yang masif terungkap pada akhir pekan lalu. Apa yang dapat dilakukan untuk menjaganya?

Beberapa orang ahli arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya BPCB Jawa Timur kembali menemukan struktur bangunan yang diduga merupakan bagian dari peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan. Temuan baru itu berjarak sekitar 200 meter dari lokasi perusakan situs yang terungkap pada pekan lalu.

Kepala Sub Unit Penyelamatan dan Pengamanan BPCB Jatim Ahmad Hariri mengatakan penelitian yang dilakukan sejak perusakan situs terungkap pada pekan lalu, menemukan sejumlah benda kuno.

"Ada pecahan arca, ada temuan struktur ada beberapa umpak, batu balok batu yang dipahat masyarakat menyebutnya sebagai batu candi, kami bertemu dengan warga dekat lokasi yang menyerahkan temuan berupa lampu kuno atau lampu gantung, " jelas Hariri.

Penemu lampu kuno tersebut merupakan pengrajin batu bata merah yang banyak terdapat di sekitar lokasi situs cagar budaya.

Pembuatan bata merah atau linggan mengancam situs

Penelitian kembali dilakukan di sekitar situs Trowulan untuk mencari benda-benda peninggalan Kerajaan Majapahit.

Situs Trowulan kembali disoroti setelah sebuah foto perusakan situs yang diunggah di media sosial memperlihatkan sebuah truk tengah mengangkut bata merah yang diduga merupakan bagian dari struktur bangunan peninggalan abad ke 13.

Polisi telah memeriksa sejumlah orang, dan menurut keterangan mereka mengambil tanah dan tidak mengetahui adanya situs purbakala. Belum ada tersangka yang ditetapkan.

Tanah di kawasan situs Trowulan seringkali diambil untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan batu bata merah atau linggan. Linggan dianggap sebagai ancaman kerusakan Situs Trowulan.

Berdasarkan penelitian Balai Pelestarian Cagar Budaya BPCB Jawa Timur, diketahui jumlah linggan terus meningkat. Data citra satelit memperlihatkan pada 2011, bangunan linggan di Kecamatan Trowulan mencapai 2.418, jauh lebih banyak dibandingkan data pada 1998 dengan tak lebih dari 5.000 linggan.

"Peninggalan purbakala itu ada di dalam tanah, dan aktivitas pembuatan bata itu melakukan penggalian, dan di banyak lokasi mereka menemukan peninggalan Majapahit," kata Hariri.

Hak atas foto Muhammad Syafi'i
Image caption Tanah di kawasan Situs Trowulan sering digunakan untuk pembuatan bata merah.

Sosialisasi dan pelibatan masyarakat

Meski Situs Trowulan telah ditetapkan sebagai cagar budaya pada ahkir 2013 lalu, tak semua warga menyadarinya. Diki warga Dusun Bendo mengaku selama ini tak mengetahui adanya situs cagar budaya. "Tahu ada penggerukkan, tapi tidak tahu kalau ada candi begitu," jelas Diki.

Dia juga mengaku selama ini tak pernah ada sosialisasi mengenai keberadaan Situs Trowulan.

Meski begitu, Hariri mengatakan selama ini BPCB Jatim melalukan sosialisasi secara berjenjang kepada pihak kelurahan dan mereka yang akan meneruskan kepada warga.

Selain itu, warga yang menemukan benda kuno dan melaporkannya pada BPCB Jatim akan diberikan imbalan. "Besar imbalannya ditentukan oleh tim yang dibentuk setiap tahun, tim itu terdiri dari arkeolog yang akan menaksir harga benda tersebut," kata dia.

Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Harry Widianto mengatakan pelibatan warga untuk menjaga situs cagar budaya seperti Trowulan sangat penting. Dia memberikan contoh yang berhasil dilakukannya di Situs Manusia Purba Sangiran, Jawa Tengah.

"Penetapan cagar budaya itu, jangan sampai membuat masyarakat itu rugi, masyarakat dianggap sebagai aset potensial, syukur-syukur bisa dilibatkan, seperti Sangiran itu sangat sangat signifikan, masyarakat diberikan imbalan dalam bentuk sertifikat dan uang yang cepat," jelas Harry.

Hak atas foto Muhammad Syafi'i
Image caption Salah satu struktur yang diduga bagian dari Kota Majapahit.

Harry mengatakan sosialiasi dan pelibatan masyarakat merupakan salah satu upaya pencegahan kerusakan yang lebih parah dari Situs Trowulan harus dilakukan.

Jika situs Trowulan hancur, menurut Harry, merupakan kerugian besar bagi sejarah bangsa Indonesia.

Sejauh ini belum ada tersangka yang ditetapkan dalam kasus perusakan situs trowulan, tetapi Harry berharap pelaku dapat dihukum berat karena telah menghancurkan bagian dari sejarah.

Ibukota Majapahit

Situs Trowulan berada di wilayah enam kecamatan di Kabupaten dan Kota Mojokerto, sebagian besar wilayahnya berada di bawah permukiman penduduk, dan diperkirakan luasnya mencapai 11x11 kilometer persegi.

Temuan yang sudah digali oleh para arkeolog, memperlihatkan adanya struktur kota, seperti disampaikan oleh Arkeolog Universitas Indonesia, Prof. Agus Aris Munandar.

"Itu kota Majapahit itu sangat ada senjata ada peralatan dari besi dan juga sbekas kota, ada aktivitas kota pada abad ke 14 dan 15 banyak sekali, karena itu para arkeolog yakin (kawasan itu) merupakan peninggalan Majapahit, dan juga diperkuat dengan sumber catatan dari Cina," kata Agus.

Dia mengatakan untuk mencegah kerusakan situs bida dilakukan pembebasan zona-zona kawasan cagar budaya.

"Dulu ada yang namanya sistem pembebasan blok dan sel, kalau sistem blok pembebasan agak meluas banguan dan ruang diantara bangunan itu, rupanya yang sekarang dipakai sistem sel, kalau pembebasan besar-besaran kan tidak mungkin, tapi sistem sel bisa digunakan lagi jika ada gejala atau fenomena temuan arkeologi di suatu lokasi bisa dibebaskan menjadi sistem sel," jelas Agus.

Hak atas foto MUNDARDJITO
Image caption Salah-satu temuan penting di situs bekas kota peninggalan Kerajaan Majapahit, di Mojokerto, Jatim.

Keberadaan situs ini, telah diungkap sejak 200 tahun lalu oleh orang Inggris yang pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa dan Bengkulu Thomas Stamford Raffles. Dalam bukunya History of Java yang terbit pada 1817, dia menulis tentang keberadaan situs peninggalan Majapahit ini berdasarkan laporan penduduk setempat.

Pada 1815, Raffles mengutus Wardenaar untuk melakukan pencatatan arkeologis di Mojokerto, dan dalam bukunya menyebut situs itu sebagai peninggalan Kerajaan Majapahit.

Setelah Wardenaar, penelitian terhadap situs Trowulan dilakukan sejumlah pakar Belanda dan negara lainnya antara lain WR Van Hovell (1849), RDM Verbeek (1889), JVG Brumund dan Jonathan Rigg. Peneliti lokal tercatat BUpati Mojokerto yaitu RAA Kromodjojo Adinegoro pada 1849-1916. Ada pula J Knebel (1907) dan Harry Maclaine Pont yang meneliti situs Trowulan pada 1921-1924.

Pada 2012, pembangunan Pusat Informasi Majapahit (PIM) di situs Trowulan ditolak oleh sejumlah arkeolog karena dianggap merusak situs Trowulan. Proyek ini akhirnya dihentikan.

Muhamad Syafii, wartawan di Jawa Timur, berkontribusi untuk laporan ini

Berita terkait