Cina khawatir konflik di Korea Utara dapat terjadi kapan saja

Wang Yi Hak atas foto AFP
Image caption "Kami meminta seluruh pihak untuk menahan diri", kata Menlu Cina Wang Yi.

Cina memperingatkan bahwa "konflik dapat terjadi kapan saja," menyusul peningkatan ketegangan di Korea Utara. Menteri Luar Negeri Wang Yi mengatakan tidak akan ada pemenang jika perang terjadi.

Wang menyampaikan komentarnya setelah AS menyatakan kekhawatiran terhadap pengembangan senjata nuklir Kores Utara dan mengirimkan sebuah pasukan Angkatan Laut ke Semenanjung Korea.

China, yang merupakan satu-satunya pendukung Korea Utara, khawatir konflik dapat menyebabkan rezim Korut saat ini jatuh dan menimbulkan masalah di perbatasannya.

Wang mengatakan: "Salah satunya memiliki firasat bahwa konflik dapat pecah kapan saja.

"Saya pikir bahwa seluruh pihak yang terkait harus memiliki kewaspadaan tinggi berkaitan dengan situasi ini."

"Kami meminta seluruh pihak untuk menahan diri dari tindakan memprovokasi dan mengancam satu sama lain, apakah dengan kata-kata ataupun aksi, dan tidak membiarkan situasi menjadi semakin tak dapat diubah dan tidak dapat dikendalikan".

China khawatir konflik dapat menimbulkan masalah ledakan pengungsi di perbatasannya dengan Korea Utara. Selain itu, runtuhnya rezim Korea Utara akan menghilangkan sebuah area penyangga antara Cina dan negara yang memiliki pangkalan militer AS. Selama ini Cina bersikap hati-hati terhadap Pyongyang.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pasukan AS yang dikirim ke Semenanjung Korea dipimpin oleh kapal USS Carl Vinson.

Pada Kamis (13/04), Presiden AS Donald Trump mengatakan "masalah di Korea Utara" akan "diurus".

"Jika Cina memutuskan untuk membantu, itu akan bagus sekali. Jika tidak, kami akan menyelesaikan masalah tanpa mereka! A.S".

Menanggapi pernyataan AS, militer Korea Utara menyatakan akan bersikap "tanpa ampun dalam menggagalkan" segala provokasi AS.

"Upaya keras kami melawan AS dan pasukan pengikutnya akan dilakukan dengan sikap tanpa ampun tak ada membiarkan para penyerang untuk bertahan," jelas sebuah pernyataan dari militer, yang dilaporkan dalam bahasa Inggris oleh kantor berita pemerintah Korea Utara KCNA.

Beberapa waktu terakhir, presiden AS mendemonstrasikan penggunaan metode militer. Dia memerintahkan serangan rudal jelajah ke Suriah sebagai balasan terhadap dugaan serangan senjata kimia, dan milter AS menjatuhkan 'induk segala bom' ke markas ISIS di Afghanistan.

Washington khawatir Korea Utara akan meningkatkan kemampuannya untuk meluncurkan senjata nuklir ke AS.

Trump dan Presiden Cina Xi Jinping telah melakukan pembicaraan melalui telepon dan mempertimbangkan untuk memperberat sanksi ekonomi untuk Korea Utara.

Berita terkait