Seminggu jelang Pilkada, Ahok-Anies bersaing ketat di medsos dan survei

ahok anies Hak atas foto Getty Images

Debat terakhir Pilkada DKI Jakarta putaran kedua telah usai dilaksanakan Rabu (12/04) malam. Data komentar netizen dan hasil survei tingkat elektabilitas memperlihatkan kedua pasangan calon (Paslon) gubernur-wakil gubernur, Ahok-Djarot dan Anies-Sandi, bersaing ketat.

Lembaga riset berbasis software kecerdasan buatan, Indonesia Indicator, mencatat selama dua jam debat berlangsung, dari total 41.564 percakapan di media sosial, paslon nomor urut dua, Ahok-Djarot unggul tipis 51%. Sementara paslon nomor urut tiga, Anies-Sandi tertinggal di 49%.

Hak atas foto Indonesia Indicator

Ketika BBC Indonesia menghubungi Rustika Herlambang, Direktur Komunikasi Indonesia Indicator, menanyakan apakah keunggulan dua persen akan mengunci kemenangan Ahok-Djarot di hari Pilkada, Rustika menegaskan 'tidak'.

"Siapa yang lebih unggul? Fifty-fifty. Tidak signifikan (keunggulannya). Sebenarnya kami pernah melakukan survei serupa buat Pemilu di Amerika dan Pilkada di daerah lain. Nah, Pilkada di Jakarta ini ketat sekali pertarungannya," kata Rustika, Kamis (13/04).

Image caption Pada diskusi netizen di media sosial, Ahok-Djarot unggul tipis dari Anies-Sandi.

Dia menambahkan paslon biasanya menang jika unggul di beberapa poin seperti 'exposure berita, sentimen dan konteks'.

Namun di Pilkada DKI Jakarta keunggulan pada unsur-unsur tersebut 'tidak dapat terkonfirmasi'. Ini dilihatnya dari data paslon yang merupakan Top Person (orang yg paling banyak diberitakan) dan Influencer (orang yang paling banyak dikutip di berita).

Berdasarkan data Indonesia Indicator pada 7 Maret hingga 10 April, Anies Baswedan menjadi sosok paling Influencer, dengan total 16.351 kutipan. Ahok berada di posisi kedua dengan 12.123 kutipan.

"Padahal dalam sejarahnya, yang jadi influencer itu selalu adalah paslon petahana (Ahok). Ini berarti Anies paling banyak berperan penting dalam pembentukan wacana-wacana terkait Pilkada Jakarta," tutur Rustika.

Hak atas foto Indonesia Indicator

Meskipun begitu, Ahok menduduki posisi teratas Top Person dengan 15.028 berita, disusul Anies dengan 11.076 berita.

Perbandingan kedua data Top Person dan Influencer ini dinilai Rustika janggal, "Karena seorang Top Person harusnya juga menjadi Influencer. Ahok merupakan Top Person, tetapi Anies yang jadi Influencer, berarti banyak pernyataan yang tidak tekonfirmasi (dari Influencer)."

Hari-hari yang menentukan

Kepada BBC Indonesia, Rustika menegaskan ramainya pembahasan di media sosial tidak lagi bisa 'dijadikan patokan untuk hari-H (Pilkada)'.

"Situasinya dinamis dari hari ke hari. Siapa yang menang, siapa yang kalah, dari hari ke hari itu bisa berubah," tuturnya.

Samanya kekuatan masing-masing calon, juga terlihat pada survei Indonesia Indicator jelang Debat Pilkada DKI yang diadakan oleh program Mata Najwa, akhir Maret lalu. Ahok-Djarot unggul dari sisi tanggapan media online, sementara di media sosial, Anies-Sandi yang memimpin.

Hak atas foto Indonesia Indicator

Menjelang pilkada yang semakin dekat, Rustika menekankan hari-hari terakhir inilah 'yang sangat menentukan (kemenangan)' karena ingatan netizen di media sosial yang pendek.

"Mudah lupa dengan apa yang terjadi kemarin. Yang paling terjadi sekarang, itulah yang paling mudah diingat," jelas Rustika.

Dia menyarankan masing-masing paslon untuk berhati-hati menjaga persepsi yang baik hingga hari pencoblosan, 19 April mendatang.

Merebut yang 'galau'

Sementara itu, berdasarkan survei terkini lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), 5 April lalu, Anies-Sandi unggul tipis 1% dibandingkan Ahok-Djarot. Paslon nomor urut tiga memimpin tingkat elektabilitas dengan 47,9%, sementara paslon nomor urut dua dengan 46,9%.

Serupa dengan di media sosial, peneliti dari SMRC, Sirojudin Abbas mengklaim hasil itu belum kuat menegaskan dominasi Anies-Sandi karena 'baru dianggap signifikan, kalau mengungguli lawannya sebesar dua kali margin of error.'.

"Karena margin-nya 4%, maka baru dinilai signifikan kalau lebih unggul 8% dari calon lain," tuturnya kepada BBC Indonesia, Kamis (13/04).

Hak atas foto Getty Images
Image caption Suasana jelang Pilkada DKI Jakarta periode pertama.

Apalagi pada debat Rabu (12/04), Abbas melihat Ahok-Djarot 'sedikit lebih unggul kalau dilihat sekilas dari pembicaraan di media'. SMRC sendiri belum melakukan survei lanjutan usai pelaksanaan debat terakhir itu.

Meskipun demikian, dia menegaskan sekitar 85-90% dari pemilih masing-masing paslon adalah 'pemilih setia' yang tidak akan memindahkan dukungan ke paslon lain.

Sementara 8-13% pemilih masih berpotensi pindah (swing voters). Jumlah 'pemilih galau' ditambah 5,2% pemilih yang masih abstain inilah yang dinilai Abbas harus diperebutkan Ahok-Djarot dan Anies Sandi.

Image caption Anies dan Sandi berpelukan usai debat, Rabu (12/04)

Menurutnya, Ahok yang sebenarnya sudah mendapatkan dukungan pemilih Muslim usai bergabungnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) namun harus terus perluas mendapatkan suara dari Muslim Jakarta yang moderat, sebelum 19 April."

Sementara Anies-Sandi yang telah mendapatkan dukungan dari committed muslim dan yang sedikit radikal -menurut Sirojudin Abbas- harus memanfaatkan waktu seminggu untuk mengakses pemilih pemula yang kritis dan kembali ke kampanye yang lebih mendukung pluralisme.

Berita terkait