Rizieq Shihab mencoblos di halaman gereja, 'jemaah' Tamasya Al Maidah di sejumlah TPS

FPI Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Rizieq Shihab mencoblos bersama isterinya.

Sekitar pukul 8:15, Ketua Front Pembela Islam datang ke TPS 17, Petamburan, untuk melakukan pencoblosan. Dia diiringi sejumlah lelaki berpakaian putih dan bersorban.

Ketika sampai di meja TPS, dia langsung berucap, "Tadi udah didaftarin." Dia pun diminta langsung duduk mengantri.

Namun, tidak sampai 10 detik, dia sudah diminta untuk memberikan suara, melewati orang lain yang telah mengantri lebih dulu. "Mohamad Rizieq, silahkan," kata petugas TPS.

Rizieq pun maju berdiri, diiringi teriakan "Allahu Akbar, Allahu Akbar. Pasti menang."

Sayup-sayup di belakang saya terdengar suara seorang Ibu-ibu, "wah, bercahaya sekali ya mukanya (Rizieq)," lapor wartawan BBC Indonesia, Rafki Hidayat.

Usai pencoblosan, kepada wartawan Rizieq menyatakan, "Jika pemilu berjalan jujur dan adil, Insya Allah akan baik. Kalau ada yang curang, itu bisa mencetus persoalan."

FPI adalah salah satu pendukung gerakan Tamasya Al Maidah. Ketika wartawan bertanyan tentang dukungannya pada Tamasya Al Maidah, dan berbagai langkahnya dalam menggalang demonstrasi anti-Ahok, Rizieq terdengar agak berang, bernada lebih tinggi.

"Demokrasi tidak melarang siapapun untuk memilih pemimpin yang seagama dengannya."

Rizieq pun pergi berlalu, diiringi Takbir pengikutnya.

TPS tempat Rizieq Shihab mencoblos berlokasi di lapangan parkir Gereja Bethel, Petamburan.

Lokasi TPS 17 ini dipindahkan dari lokasi sebelumnya di jalan Petamburan III, "karena sempit, dan orang-orang kemarin waktu pencoblosan pertama berpikiran rusuh, padahal nggak," kata Kiki, salah satu petugas TPS Jalan Petamburan III adalah lokasi markas FPI.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Pendiri FPI, Rizieq Shihab, datang ke TPS dikawal sejumlah pengikutnya, dan hanya perlumenunggu kurang dari satu menit.

Dari masjid terdekat, lewat pengeras suara terdengar sesekali terdengar seruan "bagi para jamaah, muslimin dan muslimat untuk segera memilih, karena waktunya cuma sampai jam 1 siang."

Pada pilkada DKI Jakarta Tahap 1, 15 Februari lalu, Paslon nomor urut 2, Ahok-Djarot lah yang menjadi pemuncak di TPS tempat Rizieq memilih ini.

Setelah dihitung 5 kali, Ahok-Djarot tetap unggul dengan 279 suara. Sementara Anies-Sandi 212 suara. Dan Agus-Silvy 38 suara. TPS 17 berlokasi di kelurahan Petamburan, Tanah Abang dan memiliki 746 daftar pemilih tetap.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sejumlah warga Cirebon peserta 'Tamasya Al maidah'

Jemaah 'Tamasya Al Maidah' dukung Anies-Sandi

Sementara itu, sejumlah 'jemaah' peserta 'Tamasya Al Maidah,' tampak di beberapa tempat.

Di sekitar kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat, misalnya, sekitar 30 orang yang mengaku peserta tamasya Al Maidah tampak berjalan-jalan di TPS 1, 2 dan 3 . Sebagian mereka berasal dari Cirebon, Bandung dan Solo.

Mereka mengaku tiba di Jakarta pada Selasa (18/04) malam. "Kami tidur di Masjid Almakmur Tanah Abang," kata Andi Mulya, yang mengaku dari Cirebon.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption "Kami pendukung Anies-Sandiaga. Di dalam ajaran Islam, tidak boleh memilih calon non-Muslim," tegas Andi.

Andi berdalih, ia dan kawan-kawannya datang ke TPS Pilkada Jakarta untuk mengawasi jalannya pencoblosan suara. "Kita akan mengawasi sampai selesai. Kita tidak mau ada kecurangan seperti putaran pertama," katanya kepada Heyder Affan dari BBC, , tanpa menjelaskan kecurangan-kecurangan dimaksud.

Andi mengenakan penutup kepala, baju panjang warna putih, serta memelihara jenggot. "Kami pendukung Anies-Sandiaga. Di dalam ajaran Islam, tidak boleh memilih calon non-Muslim," tegas Andi.

Andi dkk terlihat berdiri di luar TPS. "Enggak boleh kita masuk ke dalam," Andi menekankan.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Usai salat Subuh, sejumlah jemaah meninggalkan Istiqlal, menuju berbagai TPS.

Subuh di Istiqlal

Sebagian jemaah Tamasya Al Maidah yang sudah datang sehari sebelumnya, menginap di Masjid Istiqlal, masjid terbesar di Asia Tenggara.

Mereka melakukan salat subuh berjamaah, sebelum bergerak ke sejumlah lokasi di seantero kota.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Satu dari sejumlah bis pengangkut jemaah 'Tamasya Al Maidah.'

Saat matahari muncul, mereka pun keluar dari Masjid Istiqlal. Bus-bus yang parkir berderet, datang untuk menjemput dan menurunkan mereka di sejumlah TPS.

Putri, 15 tahun, dan kawan-kawannya berfoto sebentar di depan masjid. Mereka datang dari Sulawesi Selatan. "Kita tidak boleh punya pemimpin yang menista Islam, itu saja," katanya kepada Rebecca Henschke dari BBC Indonesia.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Arhul dan keluarga di depan Istiqlal.

Mereka ke sini untuk menyaksikan pilkada yang mendominasi pemberitaan televisi dalam beberapa bulan terakhir.

Ahrul juga datang dari Gresik bersama 40 orang lainnya. "Kami ke sini tidak untuk menekan orang, kami hanya ingin melihat, kami penasaran," katanya. "Ini ibukota, jadi apa yang terjadi di sini penting untuk seluruh negara."

Topik terkait

Berita terkait