Pilkada DKI: Kisruh di TPS Rizieq Shihab, Ketua PPS sempat diusir

Pilkada Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Ketua PPS Petamburan, Wiwin, diusir warga setelah menyatakan bahwa seorang warga lain boleh memilih kendati hanya membawa KTP.

Keributan antara warga dan ketua Panitia Pemungutan Suara (PPS) Kelurahan Petamburan terjadi sekitar pukul 09.45 WIB, di TPS 17 yang berlokasi di lapangan parkir sebuah gereja, di sekitar markas dan kediaman ketua FPI, Rizieq Shihab.

Kisruh berawal dari protes Berliana Sitorus, seorang warga setempat yang berprofesi sebagai pendeta, yang tidak dibolehkan memilih dengan dalih KTP-nya bukan KTP elektronik.

"Saya datang jauh-jauh dari Medan, kok nggak bisa. Yang pertama (Pilkada putaran pertama), saya bisa kok milih, nggak begini-begini," ujarnya.

Dijawab, "sekarang aturannya beda, harus pakai KTP elektronik atau bawa surat keterangan."

Warga kemudian ramai mengerubungi Berliana, seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Rafki Hidayat

Di tengah percekcokan, datang Wiwin yang menyebut dirinya sebagai Ketua PPS Kelurahan Petamburan.

Wiwin berkata kepada warga bahwa Berliana boleh memilih karena, "namanya ada di DPT, jadi boleh milih walau KTP-nya bukan KTP elektronik," katanya seraya menunjukkan surat aturan KPU.

Sebagian warga yang tak terima, menuding bahwa KTP Berliana sudah kadaluwarsa. Namun sebagaimana dilihat BBC Indonesia KTP itu berlaku hingga 2020.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Anggota KPUD Jakarta Pusat Yose Rizal

Wiwin menegaskan, "karena ada di DPT, dia bisa milih, tapi nanti (memilihnya) setelah jam 12. Kalau warga komplain, saksi silahkan adukan saja, tulis saja di formulir C2."

Sebagian warga naik pitam. Mereka meneriaki Wiwin yang sudah berada di luar gerbang TPS. "Ibu, saya lahir di sini. Kalau Ibu ingin memaksakan diri, silakan pergi."

Wiwin membalas, "Saya tak pernah memaksakan diri. Anda yang memaksakan diri."

Terdengar lagi seorang warga mengusirnya: "Lebih baik ibu pergi. Pergi sana. Pulang. Dongok."

Wiwin pun digiring pergi meninggalkan kawasan TPS.

Saat peristiwa itu terjadi Berliana sudah tidak tampak di TPS. Menjelang tengah hari, datang kabar bahwa Berliana bisa memilih.

Yose Rizal, anggota KPUD Jakarta Pusat, mengatakan bahwa Berliana akhirnya memilih.

"Karena gonjang-ganjing tadi, dia (Berliana) akhirnya tertekan untuk tidak memilih. Akhirnya dia pulang. Lalu dia terpikir untuk datang lagi, dan akhirnya memilih," kata Yose Rizal kepada Rafki Hidayat dari BBC Indonesia.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Berliana Sitorus, saat memperjuangkan haknya untuk memilih.

Namun, tak satu pun wartawan, termasuk BBC Indonesia, yang melihat kehadiran kembali Berliana Sitorus ke TPS, setelah kekisruhan awal.

Wiwin Twi Narti, ketua PPS Kelurahan Petamburan yang tadi diusir warga, dan kini mendampingi Yose Rizal mengukuhkan. "Iya, tadi Berliana sudah datang, jam setengah 11, dan sudah nyoblos."

Mantan Komisioner KPU, Hadar Nafis Gumay, yang sempat mengunjungi TPS 17 berujar intimidasi kepada pemilih dan petugas PPS adalah 'tindakan pidana.'

"Kalau perlu tinggal dicatat, laporkan supaya bisa diproses."

Topik terkait

Berita terkait