Seperti apa perubahan Jakarta di bawah Anies Baswedan?

Anies Baswedan-Sandiaga Uno Hak atas foto ADEK BERRY/AFP/Getty Images
Image caption Pasangan Anies-Sandi sebelumnya mengkampanyekan penolakan terhadap proyek reklamasi.

Hasil hitung cepat berbagai lembaga survei di Pilkada DKI Jakarta menunjukkan keunggulan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

Perhitungan yang sudah diakui kedua belah pihak dengan pidato kemenangan oleh Anies dan ucapan selamat dari Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok kepada Anies-Sandi.

Dengan kepemimpinan baru setelah pelantikan pada Oktober nanti, tentu ada kemungkinan perubahan kebijakan pula dan salah satu aspek yang diperkirakan akan mengalami perubahan adalah ketegasan di birokrasi.

Menurut Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI), Kuskridho Ambardi, kemampuan pasangan Anies-Sandi dalam menggerakkan birokrasi mungkin akan mendapat tantangan.

"Karena selama ini Ahok berani mengambil keputusan dan berani tidak populer, dan itulah yang nanti kita lihat, apakah gaya Anies yang lebih lembut akan efektif."

"Mungkin juga efektif, karena tercapai tujuannya, tapi kurang efisien," tambah Kuskridho.

Dalam masa kepemimpinan Gubernur Ahok, Dodi melihat adanya kejelasan tugas yang diberikan dan harus dipenuhi oleh para bawahannya.

"Kriterianya ini, targetnya ini, kalau tak bisa, tak mampu, boleh mundur. Elemen itu yang mungkin akan terkurangi kalau melihat gaya kepemimpinan Anies, mungkin sluggish bureaucracy, lambat sedikit (kinerja birokrasinya)," ujar Kuskridho.

Salah satu alasan yang disebutnya mennjadi dasar penilaian adalah pengalaman Anies sebagai Mendikbud dalam mendistribusikan Kartu Indonesia Pintar yang 'tidak mencapai target'.

Hak atas foto BAY ISMOYO/AFP/Getty Images
Image caption Gubernur Ahok selama ini dinilai bisa menggerakkan birokrasi.

Informasi ini, menurutnya, bisa dijadikan salah satu cara untuk menilai kira-kira kemampuan Anies dalam menggerakkan birokrasi untuk melakukan kebijakannya.

"Tapi kan mereka belum bekerja. Nantilah lihat dalam lima enam bulan," tambahnya.

Soal lain yang diperkirakan akan berubah adalah kebijakan pembangunan perkotaan, terutama karena pasangan Anies-Sandi mengkampanyekan penolakan terhadap proyek reklamasi sementara Ahok-Djarot mendukungnya.

Namun yang jelas akan jadi sorotan dalam kepemimpinan Anies, menurut pengamat perkotaan Yayat Supriyatna, adalah program uang muka angsuran rumah atau DP 0%.

Janji kampanye itu, tegas Yayat, 'harus dipertajam dan bisa diwujudkan dalam rencana pembangunan ke depan'.

Yayat juga berharap tidak ada perubahan yang drastis dari sisi pembangunan perkotaan dengan alasan kerangka dasar sudah dibentuk dalam mekanisme pembangunan lewat proses musyawarah rencana pembangunan dan rencana pembangunan jangka menengah.

"Sebetulnya untuk membangun Jakarta itu tidak harus membongkar habis, banyak yang sudah bagus yang sudah dibangun. Tadi pun kita dengar komitmen dari Pak Ahok, akan melakukan upaya pembenahan dalam sisa waktu enam bulan untuk membangun fondasi dasarnya," kata Yayat.

Hak atas foto Ed Wray/Getty Images
Image caption Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, menyatakan kemenangan Anies-Sandi tak lepas dari peran Rizieq Shihab.

Meski begitu, Yayat mengharapkan pola pemerintah menjadi penggerak utama masyarakat seperti dengan keberadaan Pasukan Oranye, Biru, Kuning yang sudah berjalan selama ini, akan berubah.

"Kelebihan Anies-Sandi adalah mereka aktor-aktor yang mampu berkomunikasi, berbahasa yang baik, dan kelihatannya orang-orang yang terbuka mengajak masyarakat bermusyawarah. Kelebihan itu harus dimanfaatkan supaya tidak semuanya di Jakarta ini pemerintah yang mengambil peran lebih dulu," kata Yayat.

Salah satu kritik yang disampaikan terhadap Gubernur Ahok adalah beberapa penggusuran yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang tidak memberi ruang dialog bagi masyarakat untuk ikut menentukan pembangunan kota.

Seorang warga yang ditemui oleh BBC Indonesia, Putu, menyatakan khawatir akan proses pembangunan di Jakarta dengan pergantian gubernur.

"Pembangunannya masih terus nggak, karena sudah bagus, dan ada yang baru, ngelanjutin atau tidak?" katanya.

Dan seperti yang dikhawatirkan pada masa kampanye, muncul pula pertanyaan tentang pengaruh kemenangan pasangan Anies-Sandi terhadap keberagaman di Jakarta.

Hak atas foto ADEK BERRY/AFP/Getty Images
Image caption Anies menyatakan agenda utama dan pertama adalah menyatukan kembali Jakarta.

Wakil ketua Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos mengkhawatirkan sentimen SARA yang besar di pilkada DKI Jakarta justru akan semakin meluas pada pilpres 2019 nanti, termasuk lewat penggunaan kartu agama dan intoleransi.

"Saya masih mempertanyakan apakah Anies-Sandiaga mampu mengambil jarak dengan kelompok ekstrem, karena bagaimanapun mereka berutangbudi. Kelompok-kelompok ini akan merasa percaya diri dan bargaining position semakin kuat, dan (Anies-Sandiaga) harus memperhitungkan dan mengakomodasi tuntutan mereka. Tidak gampang juga dibilang setelah pilkada akan back to normal," kata Bonar.

Bonar memprediksi bahwa tak lama setelah Anies-Sandiaga menjadi gubernur definitif, akan muncul tuntutan dari kelompok ekstrem soal pelarangan alkohol atau tempat hiburan. Padahal gaya hidup metropolitan, terutama tempat hiburan di Jakarta yang multikultural, menjadi motor ekonomi.

"Kita lihat apakah Anies-Sandi mampu menghadapi tuntutan seperti itu, harus mencari jalan tengah antara tuntutan kelompok ekstrem dengan kehidupan Jakarta yang multikultural, modern, metropolitan," kata Bonar

Kekhawatiran Bonar Tigor akan keragaman di Jakarta juga dirasakan beberapa orang warga yang ditemui oleh BBC Indonesia.

"Saya sebagai minoritas, takut kalau kelompok minoritas bukan tertindas tapi terintimidasi oleh yang mayoritas," kata Abraham Mahan, seorang mahasiswa. Selain itu, dia berharap, "Kinerja (PNS) harus sesuai dengan (saat bekerja di bawah) Bapak Basuki, jangan sampai kendor."

Hak atas foto Ed Wray/Getty Images
Image caption Warga berjalan membawa bendera merayakan keunggulan pasangan Anies-Sandi setelah keluar hasil hitung cepat.

Warga lain, Karen Jessica, juga merasa khawatir dengan terpilihnya gubernur baru.

"Kalau mau jujur ada kekhawatiran, ya sebagai masyarakat harus bisa menerima. Isunya SARA, karena dengan begini mayoritas menang, namun sebagai minoritas merasa, bukan pada pemimpinnya, tapi di belakangnya siapa."

Anies Baswedan sendiri saat menyampaikan pidato kemenangannya menegaskan bahwa agenda utama dan pertama kepemimpinannya adalah menyatukan Jakarta.

"Jakarta tetap milik semua, Anies dan Sandi bukan hanya mengabdi pada sekelompok orang, bukan hanya mengabdi pada pemilihnya tapi mengabdi kepada seluruh warga Jakarta."

Dan Rabu (19/04) malam, Anies melakukan sujud syukur merayakan kemenangan bersama Ketua FPI, Rizieq Syihab, dan Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, politisi senior Gerindra, Fadli Zon, serta Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI, Bachtiar Nasir.

Topik terkait

Berita terkait