Ketika Anies-Sandi menang dengan kekuatan Islamis

Anies Baswedan, Islam, Partai Keadilan Sejahtera, Pilkada Jakarta. Hak atas foto Reuters
Image caption Anies Baswedan di antaranya didukung partai Islam, Partai Keadilan Sejahtera, dalam Pilkada Jakarta.

Kemenangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno atas Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan wakilnya, Djarot Syaiful Hidayat, disikapi beragam oleh berbagai kalangan.

Di antaranya rasa keterkejutan meskipun pemakaian agama dipandang memang sebuah senjata yang ampuh, seperti dikatakan Rumadi Ahmad, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, NU.

"Terus terang saya agak surprised karena saya menduga perbedaannya tidak sebanyak itu. Tapi saya bisa memahami karena alat yang digunakan untuk melakukan perlawanan terhadap Ahok adalah alat yang sangat tajam."

Siapapun yang ditusuk dengan menggunakan issue agama, pasti dia akan tersungkur," tegas Rumadi.

Kemenangan Anies ini tampaknya memang disebabkan sebagian besar pemilih di Pilkada Jakarta -yang jumlahnya sekitar tujuh juta orang- lebih mementingkan kesatuan iman, sesama Muslim, dibandingkan keampuhan program, kata Prof. Dr. Hamdi Muluk, Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia.

"Bagi orang yang memilih Ahok Djarot itu, tiga faktor teratas yang menjadi syarat memilih adalah kinerjanya bagus, programnya bagus, karakteristiknya bersih, tidak dikorupsi, tegas dan bisa memimpin.

Tetapi situasinya berkebalikan dengan alasan memilih Anies.

"Faktor pertamanya itu karena seiman dengan saya, Anies dianggap memperjuangkan Islam, agama, dan baru faktor ketiga, Anies itu dianggap humanis," kata Hamdi.

Hak atas foto Reuters
Image caption Sandiaga Uno, Hary Tanoesoedibjo, Anies Baswedan dan Prabowo Subianto setelah memberikan suara hari Rabu (19/04).

Indikasi Pilpres?

Apakah hasil pilkada Jakarta, yang merupakan barometer peta politik Indonesia, akan menentukan arah pemilihan presiden 2019 yang akan datang?

Presiden Joko Widodo merupakan mantan atasan Ahok saat keduanya memimpin Jakarta, sementara Prabowo Subianto -yang kalah dalam Pilpres 2014- secara terbuka menyatakan dukungan terhadap Anies.

Busyro Muqoddas, Ketua Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia Muhammadiyah, mengatakan masuk akal jika sebagian pihak memiliki pandangan seperti itu, tetapi sebenarnya ada keterlibatan kelompok-kelompok lain.

"Orang tidak keliru jika kemudian membawa itu ke 2019 sebagai suatu bentuk pemikiran yang didasarkan pada kesadaran politik masa depan. Sejauh mana kemenangan Partai Gerindra dan juga PKS, yang didukung juga oleh masyarakat madani yang tidak hanya umat Islam saja dalam meletakkan kemenangan ini sebagai modalitas untuk membangun setting nasional ke depan."

"Namun itu masih harus dijadikan agenda politik bersama, tidak hanya partai pendukung Anies saja," tambah Busyro yang mantan ketua KPK itu.

Sementara Rumadi Ahmad dari Nahdlatul Ulama mengatakan masih terlalu cepat untuk membaca pilpres 2019 hanya berdasarkan kemenangan Anies di Jakarta.

"Menurut saya terlalu dini. Apalagi menyebut apakah Jokowi akan menang atas Prabowo, karena kita belum tahu apakah Jokowi nanti akan running untuk election berikutnya."

"Tetapi ini investasi politik yang besar bagi Prabowo, siapapun yang nanti akan menjadi lawannya. Menurut saya, dia bisa memainkan situasi politik ini dengan cara yang cukup elegan," jelas Rumadi.

Hak atas foto Reuters
Image caption Pendukung FPI menggelar unjuk rasa untuk menunjukkan penentangan atas Ahok di Jakarta (23/01).

Makin konservatif?

Kemenangan Anies yang didukung berbagai kekuatan keagamaan seperti Partai Keadilan Sejahtera, Front Pembela Islam dan Front Umat Islam dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI ini dipandang mewakili kecenderungan Indonesia semakin mengarah ke kanan. Hal ini terjadi karena sejumlah Muslim merasa tidak terwakili selama ini, kata Prof. Dr. Hamdi Muluk, Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia.

"Itu juga menjadi pertanyaan saya, mengapa seolah-olah ada persepsi dalam konteks Indonesia, umat Islam itu merasa tidak terwadahi. Semua ekspresi-ekspresi politik, ekspresi ekonomi tidak terwadahi, seperti terpinggirkan. "

"Dan ini kesempatan untuk mendesakkan, mengekspresikan dari pilkada sekarang. Padahal kita sudah punya koridor, kita negara Pancasila," Hamdi menguraikan lebih jauh.

Kecenderungan semakin ke arah politik kanan -yang antara lain berkarater konservatif dan tertutup- dipandang tidak hanya terjadi di Indonesia. Inggris dengan Brexit dan kekuasaan Partai Konservatif, serta kemenangan Donald Trump dan Partai Republiknya di Amerika Serikat menjadi contoh-contoh lainnya.

Tetapi Busyro Muqoddas justru mempertanyakan konsep kanan dan konservatisme, yang dirinya pandang sebagai warisan Orde Baru Presiden Soeharto.

"Stigma-stigma seakan kanan menjadi semacam kekuatan yang menjadi ancaman itu sebenarnya stigma yang diidap oleh sisa-sisa pemikiran Orde Baru. Sekarang tidak relevan sekali. Dengan demikian perlu dibangun paradigma baru. Kebersamaan, keterbukaan dalam nafas kejujuran dan komitmen bersama."

Berita terkait