Perlukah tim khusus untuk kasus penyerangan atas Novel Baswedan?

Novel Baswedan Hak atas foto Reuters
Image caption Novel Baswedan hingga saat ini masih dirawat di salah satu rumah sakit di Singapura.

Penyelidikan kasus penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan dinilai lambat oleh aktivis antikorupsi sehingga perlu ditangani dengan pembentukan tim penyelidikan khusus.

Salah seorang anggota koalisi perempuan antikorupsi, Betti Alisjahbana, mengatakan tim khusus diharapkan tetap memiliki unsur kepolisian namun harus diperkuat dengan unsur dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan ahli-ahli dari KPK serta unsur masyarakat.

"Karena begini, ini sudah hampir dua minggu tapi belum ada kemajuan berarti. Padahal kita tahu penyiraman air keras itu bentuk terorisme terhadap upaya pemberantasan korupsi."

"Kalau dibiarkan dan tidak berhasil diungkap siapa dalangnya, akan timbul ketakutan, bukan hanya di KPK, tapi juga masyarakat umum dalam upaya penanggulangan korupsi," tambah Betti.

Betti mengharapkan adanya pelibatan orang-orang yang menguasai teknologi, sehingga CCTV dan foto pelaku bisa dianalisis dengan jauh lebih canggih.

"Kita ingin suatu penyelidikan yang kredibel, sehingga pelaku dan dalangnya bisa diungkap, itu intinya," kata Betti lagi.

Betti juga mengingatkan bahwa aksi 'teror' serupa sudah beberapa kali terjadi sebelumnya dan tidak bisa diungkap pelaku maupun dalangnya.

Hak atas foto Dokumentasi Keluarga
Image caption Novel Baswedan, penyidik KPK, diserang dengan air keras pada sekitar pukul 5.00 pagi. Polisi sejauh ini belum melakukan penahanan.

Dan dalam kasus Novel, Betti mencatat bahwa tindakan penyiraman yang terjadi dilakukan "dengan rapi dan sistematis", sehingga penanganannya tak bisa lagi dianggap sebagai kasus kriminal biasa, dan menurunkan "orang-orang terbaik".

Kebutuhan akan keberadaan tim khusus untuk menyelesaikan kasus penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan juga diungkapkan oleh peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Lalola Easter.

Menurutnya, teknis kasus ini adalah sesuatu yang seharusnya bisa diselesaikan oleh polisi dengan relatif cepat.

"Logikanya begini, kasus begal (di Pulomas) itu polisi berapa lama bisa menyelesaikan? Kan itu waktunya cukup singkat. Kalau dari sisi tipikal, (kasus penyerangan Novel) ini kan bukan perkara yang rumit, tapi karena ini bentuk teror terhadap pemberantasan korupsi, ini yang membuat tingkat kebesaran kasusnya menjadi beda, tapi ini kan bukan sesuatu yang rumit. Ini kasus yang sebenarnya polisi sangat capable untuk menyelesaikan dalam jangka waktu yang singkat," kata Lalola.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sejumlah pegiat menunjukkan solidaritas pada Novel Baswedan.

"Kita percaya bahwa polisi bisa menyelesaikan kasus ini dengan cepat, tapi ketika kasus ini tidak diselesaikan dengan cepat, itu yang membuat kita bertanya, kenapa?" tambahnya.

Polda Metro Jaya sendiri sempat menyelidiki keberadaan dua orang yang fotonya diberikan oleh tetangga Novel Baswedan sebagai kemungkinan terduga pelaku penyerangan ke polisi.

Namun menurut juru bicara Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono, kedua orang tersebut memiliki alibi berada di luar kota ketika penyerangan terjadi, lengkap dengan tiket pesawat dan saksi mata mereka.

Kedua orang tersebut dilaporkan media difoto oleh tetangga Novel. Polisi kemudian mengatakan bahwa kedua orang tersebut berprofesi sebagai debt collector yang menarik kendaraan bermotor milik masyarakat yang menunggak pembayaran selain juga informan anggota polisi untuk kasus curanmor.

Lalu apa yang jadi kendala pengungkapan pelaku penyerangan terhadap Novel Baswedan?

"Jadi itu kan kejadian pukul 5.00 pagi, suasana masih agak gelap, pelakunya menggunakan motor dan menggunakan helm tutup. Dan kita masih mencari saksi, jenis motornya apa, nomornya berapa, ada yang melihat tidak, ternyata sampai saat ini belum ada. Kita sedang mencari, sehingga nanti bisa mendapat informasi yang banyak. Kita tetap berusaha mencari," Argo menegaskan.

Hak atas foto AFP
Image caption Serangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan bukan pertama kali terjadi.

Saat ditanya kenapa dalam kasus terorisme atau begal di Pulomas, polisi bisa cepat menemukan pelaku, Argo mengatakan, "Dalam kasus yang lain kan CCTV ada, ada jaringannya, orangnya ada, fotonya ada, domainnya jelas, tinggal kita tungguin."

"Ya kalau ini (pelaku) memakai helm tertutup kan, kita harus mencari saksi-saksi yang mengetahui di pagi hari itu. Kita juga belum bisa memeriksa korban, siapa tahu ada keterangan yang lebih akurat untuk membantu kepolisian, ini kan belum," jelas Argo.

Sementara itu, juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan bahwa kondisi penyidik KPK Novel Baswedan, mata sebelah kirinya hanya huruf besar yang terlihat.

"Dokter mengatakan dalam waktu satu minggu ke depan perbaikan conjungtiva mata kanan diharapkan telah menyentuh kornea. Sedangkan pertumbuhan untuk mata kiri masih lambat," kata Febri.

Terkait penilaian masyarakat akan 'lambatnya' pengungkapan kasus penyerangan terhadap Novel, Febri mengatakan bahwa KPK masih menunggu laporan kemajuan resmi dari kepolisian akan sejauh mana investigasi sudah dilakukan, namun, "kurang tepat jika kita merespons soal puas atau tidak puas (soal penyelidikan), (dengan) Polri yang sekarang sudah menunjuk tim khusus untuk menangani ini, KPK tentu berharap ini ditangani secara tuntas, mulai dari pelaku lapangan sampai motifnya apa."

Topik terkait

Berita terkait