Anies Baswedan, tiga aturan Ahok, dan 'akal sehat'

Menurut hasil hitung cepat, pasangan Anies-Sandi mendapat sekitar 58% suara pemilih di Jakarta. Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Menurut hasil hitung cepat, pasangan Anies-Sandi mendapat sekitar 58% suara pemilih di Jakarta.

Anies Baswedan akan membatalkan tiga aturan gubernur Ahok yang ditolak sebagian kalangan Islam, namun mengaku mereka tak berfokus pada hal-hal yang berbau Islam.

Dalam jumpa pers pertama pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sesudah memenangkan Pilkada kendati belum ada perhitungan resmi, mereka juga menegaskan bahwa kemenangan mereka bukanlah kemenangan 'irasional.'

Anies Baswedan sudah mengatakan akan membolehkan lagi tiga hal yang sebelumnya dilarang oleh Gubernur Ahok, seperti pemotongan hewan qurban di sekolah, bertakbir keliling Jakarta, dan kegiatan keagamaan digelar di Monas.

Sebagian kalangan menganggap, hal itu menunjukkan kebijakan Anies-Sandi yang condong mengakomodasi kalangan Islam penentang Ahok yang mendukungnya saat kampanye. Namun Anies menyangkal.

"Bukan cuma tiga (aturan itu), banyak sekali. Kalau Anda fokusnya di Islam, Anda akan melihat soal Islam saja. Tidak, banyak (selain itu)," kata Anies.

"Makanya perspektifnya harus diperluas. Misalnya, kita membalikkan aturan soal KJP, dari hanya siswa menjadi anak usia sekolah. Perspektif Anda diperluas deh," katanya kepada BBC Indonesia.

Image caption Bambang Widjojanto, juru bicara kubu Anies-Sandi, menegaskan bahwa kebanyakan pemilih mereka adalah pemilih rasional.

Sandiaga Uno, calon wakil gubernur, juga menambahkan, "Yang penting itu adalah lelang konsolidasi. Kadin DKI menyuarakan bahwa Pak Basuki dan Pak Djarot selama ini melakukan penggabungan lelang itu sehingga tidak berpihak ke usaha kecil dan usaha menengah, ini pasti kita balikkan. Dan itu mungkin lebih top karena ini menciptakan lapangan kerja."

Bukan kemenangan irasionalitas

Sementara itu, juru bicara kubu Anies, Bambang Widjojanto mengatakan bahwa kemenangan kandidat Anies-Sandi bukanlah kemenangan 'irasional'.

"Selama ini ada framing yang terus-menerus yang dikemukakan bahwa ini bukan kemenangan rasional," kata Bambang pada wartawan yang hadir di acara pertemuan tim Anies-Sandi dengan media.

Bambang Widjojanto menegaskan, tim pakar yang berada di belakang Anies-Sandi "adalah orang-orang yang sangat rasional kenapa mereka mendukung Anies-Sandi, jadi bukan karena kedekatan religiusitas, tidak ada urusannya dengan itu. Kami adalah orang-orang yang sangat rasional, akal sehat kami bekerja dengan luar biasa."

Selain itu, Bambang mengatakan bahwa gagasan yang mereka sampaikan dalam kampanye "adalah gagasan akal sehat, tidak benar bahwa ini bukan kemenangan rasionalitas dan akal sehat."

Dan gagasan yang diungkapkan saat kampanye itu kemudian "ditangkap oleh pemilih-pemilih yang juga punya akal sehat, karena hanya 21 persen orang memilih karena alasan keimanan. Sedangkan di 79 persen sisanya itu, artinya akal sehat yang bekerja di situ," ujar Bambang.

Meski begitu, Indikator Politik Indonesia mencatat, ada 58% pemilih Anies-Sandi yang mengatakan bahwa mereka memilih karena pertimbangan seagama, sedangkan lembaga survei politik lain, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mengatakan bahwa ada 32,4% pemilih yang mencoblos karena alasan agama.

Berita terkait