Bagaimana ulama perempuan mencegah penyebaran radikalisme?

ISIS Hak atas foto AFP/GETTY
Image caption ISIS merekrut banyak orang dari sejumlah negara.

Intoleransi, radikalisme dan terorisme atas nama agama sering kali menjadikan perempuan sebagai korban. Dalam menghadapi masalah ini, para ulama perempuan dari berbagai negara berbagi pengalaman mereka kepada khalayak yang menghadiri Seminar Internasional Ulama Perempuan.

Seminar ini merupakan bagian dari acara Kongres Ulama Perempuan Indonesia atau KUPI di Cirebon Selasa (25/04).

Berikut penuturan ulama perempuan dari Pakistan, Nigeria dan Kenya dalam mengatasi masalah radikalisme:

Nigeria, melawan salah tafsir ajaran Islam

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Rafatu Abdulhamid dari Nigeria mengatakan perempuan menjadi korban kelompok militan.

Rafatu Abdulhamid, yang merupakan akademisi di Universitas Abuja, Nigeria, mengatakan kelompok Boko Haram telah menyebabkan banyak perempuan dan anak mengungsi, dan mereka mengalami pemerkosaan di kamp pengungsian.

Selain itu juga terjadi pelanggaran HAM yang sistematis terhadap perempuan.

"Penyebarluasan penggunaan permerkosaan sebagai sebuah senjata perang telah menyebabkan pada dampak yang besar terhadap fisik, psikologis, sosial ekonomi dan sosial budaya. Mereka terkadang mengalami perkosaan massal dan dipukul hingga meninggal," kata Rafatu.

Kelompok militan Islamis Boko Haram telah berafiliasi dengan ISIS, menculik lebih dari 200 anak perempuan di Kota Chibok, Nigeria pada 2014 lalu. Setahun setelah peristiwa tersebut, Pemimpin Boko Haram, Abubakar Shekau, mengatakan anak-anak perempuan itu telah masuk Islam dan dinikahi.

Hal itu memunculkan kekhawatiran anggota milisi memperlakukan mereka sebagai budak seks dan harta rampasan perang. Kekhawatiran itu menguat setelah sejumlah anak-anak yang telah dibebaskan membawa anak-anak yang lahir akibat pemerkosaan.

Kampanye menuntut pembebasan anak-anak perempuan pun dilakukan di berbagai kota.

Rafatu mengatakan perempuan ulama Muslim di Nigeria berupaya untuk melawan radikalisme secara organisasi ataupun individu.

"Untuk melawan kesalahan tafsir dan kesalahpahaman terhadap Islam, apa yang kami lakukan dengan banyak cara adalah mulai melakukan kampanye untuk meningkatkan kepedulian, terutama terhadap perempuan, untuk lebih waspada terhadap lingkungan mereka," jelas Rafatu.

Hak atas foto Boko Haram Video
Image caption Kelompok militan Boko Haram menyatakan sumpah setia kepada ISIS.

Para ibu di Nigeria juga seringkali menghadapi persoalan ketika anak-anak mereka terlibat dalam radikalisme. Untuk itu berbagai upaya pencegahan pun dilakukan.

"Kami menantang para perempuan, kami menantang diri kami sendiri, apa yang dapat kita lakukan terhadap remaja kita? Apa yang bisa kami lalukan untuk mencegah mereka? Tentu kami memberikan moral dan ajaran yang benar tentang Islam. Kita mampu untuk mengatasi radikalisme. Jadi ketika mereka pergi ke luar, tidak dapat diyakinkan dengan ajaran radikalisme, yang merupakan isu yang besar di Nigeria, " kata Rafatu.

Rafatu juga mengatakan kampanye untuk menentang radikalisme dilakukan melalui dakwah dan khotbah yang disampaikan para ulama.

Kenya, pelatihan di madrasah

Kelompok militan al-Shabab di Somalia seringkali melakukan serangan hingga ke Kenya, negara tetangganya. Kelompok yang memiliki faksi pendukung ISIS itu pernah melakukan serangan, yang melibatkan perempuan.

Tiga pelaku serangan di markas polisi di Mombasa, merupakan seorang perempuan Kenya dan dua perempuan Somalia. Tiga perempuan itu memiliki kaitan dengan Jaylish Al Ayman, yang merupakan afiliasi al-Shabab di Mogadishu, Somalia.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Ulfat Hussein Masibo menyebutkan anak-anak muda harus diberitahu cara perekrutan kelompok radikal, agar mereka waspada.

Ulfat Hussein Masibo dari Kenya mengatakan ulama perempuan di Kenya berupaya untuk memperkuat komunitas dalam merespons ISIS, antara lain memperkuat struktur keluarga, pendidikan di sekolah Islam untuk mencegah anak-anak menjadi target rekrutmen ISIS.

"Training untuk murid di madrasah atau sekolah Islam, yang akan memberikan mereka pengetahuan terhadap metode rekrutmen yang digunakan ISIS di seluruh dunia, sebagai contoh penculikan," jelas Ulfat.

Selain itu, dakwah perempuan juga diperkuat dengan mengajarkan dan memandu perempuan untuk memahami agama dan mendorong mereka untuk hidup secara harmonis.

Pakistan, perempuan sasaran paham radikal

Dalam konflik Pakistan, perempuan seringkali menjadi sasaran dakwah yang mengandung paham radikalisme.

Para ulama perempuan dianggap mampu untuk menjadi agen perubahan di tengah maraknya radikalisme dan konflik, jelas ulama perempuan Pakistan, Bushra Qadeem.

"Dalam situasi dan kondisi seperti ini mereka menjadi bingung, lantas kebanyakan dari mereka bertanya kepada maulananya (Imam). Tetapi tidak jarang maulananya justru menginfiltrasi mereka dengan paham-paham radikal," jelas Bushra.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Bushra Qadeem (tengah) berbicara dalam seminar internasionalulama perempuan di Cirebon.

Untuk itu sebagai ulama perempuan, Bushra menyakinkan para ibu agar menjadi agen perubahan sehingga anak-anak mereka tidak terlibat radikalisme.

"Karena itu kami seringkali saling mendukung dalam kegiatan, dan ketika terjadi insiden, kami juga harus bersatu. Institusi kami membangun pandangan yang melawan bias dari masyarakat terhadap perempuan, antara lain meningkatkan kapastitas guru agar dapat membangun toleransi," kata dia.

Meski begitu, Bushra mengatakan upaya pemberdayaan para ibu ini memiliki risiko, karena berupaya untuk mengubah cara pandang di masyarakat yang sebagian besar tidak mengakui peran perempuan.

Indonesia, radikalisme menyebar di media sosial

Sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, Indonesia tak lepas dari ancaman radikalisme dan juga terorisme. Serangan bom di kawasan Thamrin pada awal 2016 lalu, para pelakunya disebutkan terkait dengan ISIS.

Selain itu berbagai penelitian menunjukkan ajaran-ajaran radikalisme juga sudah masuk ke insititusi pendidikan dan juga menyebar melalui media sosial.

Neng Dara Affiah yang merupakan pengasuh pesantren, mengatakan selama ini berupaya menangkal penyebaran paham radikalisme melalui tulisan, dan juga

"Dengan menulis pemikiran saya bisa menyebar, kalau mereka melakukan pekerjaan itu di media sosial, maka kita menggunakan media sosial sebagai counter ke mereka, karena sebetulnya counter argumentasi," kata dia.

Selain itu, pesantren, masjid dan majelis taklim, menurut Neng Dara, seringkali dijadikan tempat untuk menyebarkan radikalisme.

Neng Dara khawatir jika tidak dilakukan upaya pencegahan, paham radikalisme dan intoleran ini akan menimbulkan kekerasan serta mengancam kebhinekaan.

Topik terkait

Berita terkait